Sebuah Studi Kajian Sejarah tentang
Wayang Purwa:
Latar belakang terjadinya keturunan para tokoh dalam Pewayangan
Dalam Naskah Purwacarita dari Cerita Masyarakat Pulau Jawa
Dikumpulkan dan Disusun oleh Soetrama S.T
Triloka Mayapada
Dalam purwacarita pewayangan ,wayang purwa merupkan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kebudayaan manusia.Sebagai dedikasi manusia dalam perkembangan jaman dan kebudayaan sastra kuno, tokoh pewayangan ini dihidupkan dalam alam paralel dengan kehidupan manusia pada umumnya. Berkaitan dengan sejarah perkembangan kebudayaan di dunia, karya sastra ini membangun alurnya tidak lepas dari prikehidupan dan nilai-nilai yang dipahami oleh masyarakat kuno.Berawal dan berasimilasi dengan kebudayaan lokal genus maka Wayang membangun alur dalam wacana carita yang mendekati kisah Myth/Mitos atau Fabel/cerita rakyat. Maka alur itu membangun wacana yang beragam menyesuaikan kebutuhan masyarakat pada jamannya, berawal dari sejarah di utusnya Nabi Adam A.S ke bumi, maka logika Purwadaksi cerita Wayang Purwa adalah adanya keterkaitan hubungan Adam sebagai manusia pertama yang turun kebumi, yang selanjutnya ini berkembang menjadi masyarakat yang luas, hingga menjadi bangsa bahkan negara atau kerajaan.
Dikisahkan dalam Purwacarita ini bahwa keturunan Nabi Adam yang diangkat menjadi nabi hanya satu; Nabi Syits (Set, dalam bahasa Ibrani; Sang Hyang Esis, dalam bahasa Jawa). Syith merupakan keturunan Adam yang lahir tunggal (semua anak Adam dilahirkan kembar) diturunkan Yang Maha Esa sebagai pengganti anak Adam yang terbunuh. Rupa Syith sangat mirip dengan rupa Adam dan menjadi satu-satunya manusia yang memiliki kebijaksanaan terhebat sepanjang masa.
Begitu mengasihinya Adam meminta pada Yang Maha Esa supaya kelak keturunan Syits diizinkan menjadi penguasa atas keturunan saudara-saudaranya. Saat berdoa, Malaikat Ngajajil (Iblis) ternyata mencuri dengar. Ngajazil paham, bila doa Adam akan selalu didengar dan dikabulkan Yang Mahaesa. Seketika itu pula, tumbuh keinginan Ngajazil untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah keturunan Syits.
Malaikat Ngajazil terus mengintai Syith dan menunggu kesempatan mencampurkan darah keturunannya. Maka ketika Syith menikah dengan Dewi Mulat, pada suatu malam, Dewi Mulat di-sirep, diambil Ngajazil, lalu keberadaannya digantikan putrinya, Dewi Dlajah, yang telah beralih rupa menjadi Dewi Mulat. Setelah dibuahi, Malaikat Ngajazil langsung mengangkat Dewi Dlajah dan mengembalikan Dewi Mulat.
Pada suatu pagi, Dewi Mulat melahirkan dua orang anak; satu berwujud laki-laki normal dan satunya berupa cahaya berkilauan (kasat mata). Sore harinya Dewi Dlajah juga melahirkan, wujudnya berupa gumpalan darah yang berkilauan. Oleh Malaikat Ngajazil, gumpalan darah berkilauan itu disatukan cahaya berkilauan anak Dewi Mulat. Dari hasil penggabungan itu, muncullah seorang anak laki-laki yang cakap. Anak Dewi Mulat diberi nama Sayid Anwas, sedang anak campuran Dewi Mulat dan Dewi Dlajah diberi nama Sayid Anwar.
Sayid Anwas maupun Sayid Anwar memiliki rupa yang sangat tampan. Sayid Anwas besar dalam perlindungan Adam, sedang Sayid Anwar besar dalam asuhan Ngajazil. Sebagai keturunan yang terberkati, keduanya memiliki kemampuan yang sama-sama hebat. Bedanya, Sayid Anwas gemar mempelajari ilmu agama, sedang Sayid Anwar gemar tirakat dan bertapa.
Ketika Sayid Anwar dewasa, dia bertanya pada Dewi Dlajah tentang siapa ayah sejatinya. Maka diberitahulah Sayid Anwar bila dia merupakan keturunan Syith. Pada Dewi Dlajah dan Ngajazil, Sayid Anwar berpamitan untuk menjumpai sang ayah. Ketika berjumpa dengan Syith, terkejutlah sang ayah. Semula Syith tidak mau mengakui keberadaannya, tetapi setelah Yang Mahaesa membisikan mengenai asal-usal Sayid Anwar, barulah Nabi Syith menerima kenyataan itu.
Sayid Anwas dan Sayid Anwar kemudian besar dalam asuhan Adam. Ketika melihat Sayid Anwas dan Sayid Anwar, Adam mulai paham bila Sayid Anwas kelak akan melahirkan keturunan yang mempertahankan ajaran agama, sedang Sayid Anwar kelak akan melahirkan keturunan yang menghancurkan ajaran agama. Dalam asuhan Adam, Sayid Anwar melanggar pantangan dengan meminum air kehidupan /‘Tirta Kamandalu’yang membuat hidupnya abadi. Mengetahui itu, Nabi Adam marah lalu mengusir Sayid Anwar.
Sayid Anwar sangat kecewa dengan sang kakek lalu pergi berkelana. Di tengah perjalanan dia bertemu Malaikat Harut dan Marut yang menyesatkannya menuju ke arah Sungai Nil dan bertemu dengan beberapa anak Adam lainnya. Dengan para paman, Sayid Anwar belajar ilmu melihat masa depan (semacam ilmu laduni) dan berbagai ilmu hebat lain. Usainya, Sayid Anwar melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju pulau kecil di antara Pulau Maldewa dan Laksdewa, yang bernama Lemah Dewani.
Di situlah Sayid Anwar melakukan tapa brata dengan cara melihat matahari mulai terbit sampai tenggelam. Setelah tujuh tahun bertapa, daya linuwih pada Sayid Anwar terolah hebat sehingga bisa menghilang (kasat mata). Dalam pengembaraannya di Lemah Dewani, Sayid Anwar banyak bertarung dengan para jin dan membuat mereka tunduk di bawah kekuasaannya. Mendengar kehebatan Sayid Anwar, lama-lama banyak kaum jin yang memilih mengabdi padanya.
Kejadian tersebut sangat mengganggu Prabu Nuradi, raja para jin yang menguasai Lemah Dewani. Prabu Nuradi melabrak Sayid Anwar dan mengajaknya bertarung. Dalam pertarungan itu Orabu Nuradi kalah dan tunduk pada kekuasaan Sayid Anwar. Prabu Nuradi memilih turun tahta lalu mengangkat Sayid Anwar menjadi raja para jin dan menyerahkan putrinya Dewi Nurini menjadi isteri Sayid Anwar. Ketika menjadi raja jin, Sayid Anwar mendapatkan gelar Prabu Nurcahya/Sanghyang Nurcahya.
Prabu Nurcahya yang telah memiliki kehidupan abadi, kemudian tinggal di tempat tinggi dan meminta izin pada Yang Mahaesa untuk mengangkat diri sebagai Tuhan Semesta Alam. Yang Maha Esa mengabulkan dan membiarkan Prabu Prabu Nurcahya murtad dari ajaran keturunan Nabi Adam. Ketika menjadi raja, Lemah Dewani diubah nama menjadi Tanah Jawi ( Tanah Jawa). Dari Prabu Nurcahya lahirkan keturunan-keturunannya yang kemudian menjadi para dewa mulai dari Batara Guru sampai raja-raja di Tanah Jawi.
Di lain pihak, Sayid Anwas yang besar dalam asuhan Nabi Adam, keturunannya kemudian menjadi manusia-manusia terpilih mulai Nabi Idris, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad SAW. Keturunan Sayid Anwas juga menumbuhkan suku-suku bangsa superior seperti bangsa Israil, bangsa Arab (semit), bangsa Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya. Di lain pihak keturunan Sayid Anwar, karena juga mendapatkan berkah dari doa Adam, juga banyak melahirkan bangsa-bangsa besar pada masa-masa kerajaan Jawa. Tidak sedikit raja-raja keturunan Sayid Anwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di permukaan bumi.
Dalam perputaran peradaban, keturunan Sayid Anwar dan Sayid Anwas telah banyak yang bersilangan. Persilangan-persilangan inilah yang membuat kehidupan mereka tumpang-tinduh. Ada keturunan Sayid Anwas yang kemudian mengikuti jejak pemikiran Sayid Anwar yang sesat. Sebaliknya, tidak sedikit pula keturunan Sayid Anwar yang kembali pada ajaran nenek moyang mereka dan menganut agama yang diajarkan Adam serta leluhur mereka Nabi Syith. Terlepas dari semua itu, keturunan-keturunan Sayid Anwas maupun Sayid Anwar sama-sama memiliki darah superioritas yang membuat mereka banyak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa lainnya
Triloka Marcapada
I
Setelah lama berkuasa di Kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya / Prabu Nurcahya yang telah dikarunia seorang putra dengan Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni), selanjutnya menyerahkan tahta Malwadewa kepada putranya yang telah beranjak dewasa, Sanghyang Nurrasa.
Selain menyerahkan kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya juga menyerahkan seluruh kesaktian pusakanya, antara lain Cupu Manik Astagina, Lata Maosadi (Pohon Rewan / Pohon Kehidupan, Oyod Mimang, Kalpataru), dan Sesotya Retna Dumillah. Selanjutnya Sanghyang Nurcahya menciptakan Pustaka Darya, yang adalah serat (kitab) yang menyatu dalam budi. Serat (kitab) tersebut berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis). Membacanya dengan “cipta sasmita” (kemampuan batin). Berisi kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya sendiri. Setelah menyerahkan semuanya kepada Sanghyang Nurrasa, Sanghyang Nurcahya meraga menjadi satu dengan Sanghyang Nurrasa.
Dalam kisahnya Sanghyang Nurrasa menikah dengan , raja jin Pulau Darma yang tidak lain adalah kakeknya. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia beberapa anak yang terlahir “Sotan” (suara yang samar-samar tanpa wujud). Masing-masing hanya terdengar suaranya saja. Suara-suara itu bersahut-sahutan seperti berebut siapa yang lebih tua.
Sanghyang Nurrasa kemudian mengheningkan cipta, masuk ke alam gaib. Dengan kesaktiannya, ia bisa melihat wujud putra-putranya itu. Dua suara yang lebih besar berada di depan, dan yang satu bersuara kecil berada di belakang. Keduanya bisa terlihat setelah disiram dengan Tirtamarta Kamandalu. Sanghyang Nurrasa akhirnya menetapkan, bahwa yang di belakang lebih tua daripada yang di depan.
Putra bersuara kecil yang ada di belakang itu diberi nama Sanghyang Darmajaka, sementara dua putra yang bersuara besar yang ada di depan, kembar diberi nama Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening. Peristiwa tersebut diceritakan terjadi pada tahun 2900 Matahari, atau tahun 2989 Bulan.
Beberapa tahun kemudian, Dewi Sarwati melahirkan seorang putra lagi, kali ini berwujud ‘akyan’ (jasad halus). Putra ketiga tersebut diberi nama Sanghyang Taya.
Setelah putra-putranya dewasa, Sanghyang Nurrasa mewariskan semua ilmu kesaktiannya kepada mereka. Namun diantara mereka hanya Sanghyang Wenang yang paling berbakat sehingga terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Malwadewa. Sanghyang Nurrasa kemudian turun takhta dan menyatu ke dalam diri Sanghyang Wenang.
II
Sanghyang Wenang juga gemar bertapa dan olah rasa, sama seperti kakeknya dulu, Sanghyang Nurcahya. Segala macam tempat wingit ia datangi. Segala macam jenis tapa brata ia jalankan. Ia kemudian membangun istana yang melayang di udara, tepatnya di atas puncak Gunung Tunggal, sebuah gunung tertinggi di Pulau Malwadewa. Setelah 300 tahun bertakhta, ia akhirnya dipertuhankan oleh seluruh jin di pulau tersebut.
Pada saat itu hidup seorang raja bangsa manusia bernama Prabu Hari dari kerajaan Keling di Jambudwipa. Ia marah mendengar ulah Sanghyang Wenang yang mengaku Tuhan tersebut. Tanpa membawa pasukan ia datang menggempur Kahyangan Pulau Malwadewa seorang diri. Perang adu kesaktian pun terjadi. Dalam pertempuran itu Prabu Hari akhirnya mengakui keunggulan Sanghyang Wenang.
Prabu Hari kemudian mempersembahkan putrinya yang bernama Dewi Sahoti sebagai istri Sanghyang Wenang. Dari perkawinan itu lahir seorang putra berwujud akyan, yang diliputi cahaya merah, kuning, hitam, dan putih. Setelah dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu, keempat cahaya dalam tubuh bayi itu bersatu. Bayi tersebut kemudian menjadi sosok berbadan rohani yang memancarkan cahaya. Putra pertama Sanghyang Wenang itu diberi nama Sanghyang Tunggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 3500 Matahari.
Beberapa waktu kemudian Dewi Sahoti melahirkan bayi kembar dampit, laki-laki-perempuan, yang keduanya juga berwujud akyan, dengan diliputi cahaya. Keduanya kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu dan diberi nama oleh sang ayah. Yang laki-laki diberi nama Sanghyang Hening, sementara yang perempuan diberi nama Dewi Suyati.
Sementara itu, perjalanan kehidupan kakak kandung Sanghyang Wenang, yaitu Sanghyang Darmajaka telah menjadi raja di negeri Selong. Sanghyang Darmajaka mempunyai istri bernama Dewi Sikandi, putri Prabu Sikanda dari Kerajaan Selakandi. Kerajaan ini terletak di Tanah Srilanka.
Dari perkawinan tersebut Sanghyang Darmajaka mendapatkan lima orang anak, yaitu Dewi Darmani, Sanghyang Darmana, Sanghyang Triyarta, Sanghyang Caturkaneka, dan Sanghyang Pancaresi.
Sanghyang Darmajaka kemudian berbesan dengan Sanghyang Wenang, yaitu melalui pernikahan Dewi Darmani dan Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal sendiri kemudian menjadi raja Keling, menggantikan sang kakek, Prabu Hari.
III
Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Darmani putri Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) raja Kahyangan Keling (negeri Selong) yang tidak lain adalah kakak kandung Sang Hyang Wenang sendiri. Lalu Sang Hyang Tunggal dinobatkan menjadi raja di Kahyangan Keling menggantikan Sang Hyang Darmajaka. Dari perkawinannya dengan Dewi Darmani, Sang Hyang Tunggal dikaruniai beberapa orang anak dalam wujud ‘akyan’ (jasad halus) mereka adalah : Sang Hyang Rudra / Dewa Esa, Sang Hyang Dewanjali dan Sang Hyang Darmastuti.
Sang Hyang Tunggal yang gemar membaca Serat (kitab) Pustaka Darya yang berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis) itu menjadi tertarik dengan kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya (kakek buyutnya). Ia memutuskan untuk meniru sang kakek buyut, yaitu bertapa untuk mencapai cita-citanya menjadi penguasa di tiga lapisan dunia (Tribuana / Triloka). Kahyangan Keling pun ia serahkan kepada putera sulungnya yaitu Sang Hyang Rudra.
Sang Hyang Tunggal kemudian bertapa tidur di atas sebuah Batu Datar. Begitu heningnya ia bertapa, ketika terbangun ia telah berada di sebuah istana indah di dasar samudera. Tanpa sadar sebenarnya Sang Hyang Tunggal telah diculik oleh raja siluman kepiting bernama Sang Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) untuk dinikahkan dengan putrinya. Putri Sang Hyang Rekatama yang bernama Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) mengaku pernah bertemu dengan Sang Hyang Tunggal di alam mimpi, dan jatuh hati kepadanya. Karena itu adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya, maka Sang Hyang Tunggal menerima lamaran tersebut.
Sang Hyang Tunggal lalu membawa Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) ke istana Jonggring Salaka (Kahyangan Suralaya) di gunung Tengguru (Himalaya) untuk mendapat restu dari ayahnya. Kemudian Sang Hyang Wenang menyerahkan Kahyangan Suralaya kepada Sang Hyang Tunggal. Dan lalu Sang yang Wenang mokswa, tinggal di swargaloka awang-uwung kumitir.
Sang Hyang Tunggal kini bersemayam di Kahyangan Suralaya bersama kedua istrinya, Dewi Darmani dan Dewi Wirandi. Saat itu Kahyangan Suralaya masih belum berpenghuni lain selain mereka bertiga.
Pada suatu ketika, Dewi Wirandi yang hamil besar itu melahirkan, namun yang dilahirkan oleh sang dewi bukanlah sesosok bayi, tapi ia melahirkan sebutir telur.
Sang Hyang Tunggal bermujasmedi mengheningkan cipta masuk ke Swargaloka Awang Uwung Kumitir. Dihadapan Sang Hyang Wenang, ia menceritakan perihal telur yang dilahirkan oleh istrinya.
Sang Hyang Wenang memberi petunjuk dan memberikan air kehidupan ‘Tirta Kamandalu’ kepada Sang Hyang Tunggal.
Sesuai petunjuk ayahnya, telur itu ia puja hingga meretak dan pecah berserakan menjadi tiga bagian, kulit, putih dan merah telur. Sang Hyang Tunggal menyiramkan ‘air kehidupan’ Tirta Kamandalu secara bersamaan kepada bagian telur yang tercerai berai. Secara ajaib, kulit, putih dan merah telur itu berubah menjadi tiga sosok bayi. Sang Hyang Tunggal memberi nama masing-masing bayi yang tercipta, dari kulit telur diberi nama Sang Hyang Antaga, sedangkan bayi yang tercipta dari putih telur diberi nama Sang Hyang Ismaya, dan bayi yang tercipta dari merah telur diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Kelak ketiga putra Sang Hyang Tunggal ini akan mempunyai peran penting dalam meramaikan Jagat Pramuditya (wayang).
Triloka Mayapada
1
Senja berganti malam dan malam sirna berganti siang, waktu berputar menutup hari dan kemudian berganti hari. Kini putra-putra Sang Hyang Tunggal telah tumbuh dewasa. Sang Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya, dan Sang Hyang Manikmaya, mereka sama-sama mewarisi berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian dari ayahnya sehingga mereka benar-benar menjadi kesatria dewa yang pilih tanding.
Alkisah di istana Jonggring Salaka, Kahyangan Suralaya. Sang Hyang Tunggal yang didampingi kedua permaisurinya memanggil ketiga putranya, Sang Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Ia bermaksud ingin menyerahkan tahta Suralaya kepada salah putranya, namun sebelumnya Sang Hyang Tunggal mengisahkan perihal kelahiran mereka yang berasal dari sebutir telur hingga tercipta menjadi sosok manusia dewa. Dan yang membuat Sang Hyang Tunggal belum bisa menentukan siapa diantara putranya yang berhak mewarisi Kahyangan Suralaya, adalah karena dulu Sang Hyang Tunggal menyirami tiga bagian pecahan telur itu secara bersamaan sehingga tidak ada yang tercipta lebih dahulu dari bagian lainnya, tidak ada istilah ter-tua diantara yang lainnya, besarnya pun bersamaan.
Sebelum Sang Hyang Tunggal selesai bersabda, tiba-tiba Sang Hyang Antaga berkata kepada Sang Hyang Tunggal. Ia mengatakan bahwa kulit telur tentunya lebih awal dilahirkan, sebab kulit berada diluar isi dan telah ditakdirkan menjadi pelindung, yaitu melindungi isi telur yang lemah. Maka menurut Sang Hyang Antaga, kulit telurlah yang dianggap lebih tua dibandingkan dengan isinya.
Sang Hyang Ismaya menepis perkataan Sang Hyang Antaga. Menurutnya, bahwa kulit dan isi telur adalah satu kesatuan yang terlahir bersamaan. Tanpa adanya putih dan merah telur yang menjadi isi, maka kulit telur pun tidak akan ada. Tidaklah mungkin telur terlahir hanya kulitnya saja tanpa ada isi yang telah ikut menyempurnakan keadaannya. Dan Sang Hyang Ismaya mengingatkan kepada Sang Hyang Antaga, bahwa putih dan merah telur yang menjadi isi adalah cikal bakal yang menjadi adanya tanda-tanda kehidupan. Kulit hanya ragangannya saja, tetapi isilah yang menjadi sumber dan keutamanya.
Sang Hyang Antaga tersinggung mendengar kata-kata Sang Hyang Ismaya. Ia yang tercipta dari kulit telur merasa dihina, tidak dianggap memiliki keutamaan, hanya ragangan yang berarti benda kosong yang tidak memiliki arti. Sang Hyang Antaga pun berjumawa, ia menganggap kulit telur adalah yang terkuat dengan wujud keras dibandingkan isi. Sang Hyang Ismaya membantah, bagaimana bisa disebut kuat kalau kulit telur bisa retak dan pecah. Adu mulut antara Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya kian memanas, mereka berdua sama-sama telah terbakar amarah.
Kita adu kesaktian! Siapa yang kuat diantara kita!
Adigang, adigung, adiguna. Sang Hyang Antaga menunjukan perwatakannya yang secara lahir tercipta dari kulit telur, keras, jumawa dan selalu merasa dirinya yang paling hebat.
Sang Hyang Ismaya yang sudah merasa jengah dengan segala perkataan dan sikap saudaranya, menanggapi tantangan. Bagi Sang Hyang Ismaya menolak tantangan adalah tindakan seorang pengecut. Sekaligus akan memberi pelajaran kepada Hyang Antaga bahwa “girilusi jalmo tan keno ing ngino” di atas langit masih ada langit, jangan menganggap diri paling sakti di atas muka bumi.
Melihat perselisihan yang kian memanas diantara kedua putranya, Sang Hyang Tunggal segera melerai. Ia menasehati putra-putranya agar bisa lebih berpikir secara jernih dan terbuka, sebab semua masalah akan ada jalan keluarnya bila tanggapi dengan jiwa yang bersih. Tapi sudah terlanjur, keduanya sudah merasa saling dihinakan satu sama lainnya, maka keduanya pun sudah tidak menghiraukan lagi nasehat ayahandanya.
Bertikai dengan saudara sendiri, apakah kalian tidak akan menyesal nantinya?
Guntur menggelegar dan kilat menyambar. Awan hitam berarak berkejaran menutupi langit, bumi pun bergetar. Candradimuka bergolak menyemburkan lahar api yang sangat panas. Sabda Sang Hyang Tunggal telah menjadi kutukan bagi mereka, namun karena keduanya sudah sama dirasuki nafsu angkara murka, maka keduanya sudah tidak mampu berfikir dengan hati nuraninya. Hyang Antaga segera melesat meninggalkan Jonggring Salaka, dan kemudian disusul oleh Sang Hyang Ismaya.
Dilain pihak Sang Hyang Manikmaya hanya diam membisu. Dia tidak mau melibatkan diri dalam pertikaian kedua saudaranya, terkesan tidak ingin ikut campur. Akan tetapi ‘diam’ yang dilakukan Sang Hyang Manikmaya bukanlah sebab halus budi pekertinya. Disinilah perbedaan perwatakan diantara mereka. Sang Hyang Manikmaya lebih cerdik dibandingkan kedua saudaranya, ia licik dan otaknya mampu bekerja dengan baik dibandingkan nafsunya. Sang Hyang Manikmaya akan membiarkan kedua saudaranya yang bertikai. Ia tahu bahwa diantara mereka mempunyai kesaktian yang berimbang, jadi untuk apa harus membuang tenaga ikut mengadu kesaktian dengan mereka. Yang terlintas dalam pikirannya adalah, ini kesempatan baik untuk bisa merebut hati ayahandanya dan mengincar singgasana Suralaya.
Sementara itu, jauh di luar gerbang gaib Selamatangkep, dua kesatria dewa telah saling beradu kesaktian. Masing-masing dari keduanya menunjukan keluhuran ilmunya. Saling mengeluarkan aji jaya kawijaya dan saling menghunus pusaka kadewatan. Mereka saling serang, saling pukul, saling tusuk dan saling banting hingga mengakibatkan guncangan hebat bagi bumi tempat mereka bertarung. Gunung longsor, bukit rug-rug. Candradimuka tidak henti-hentinya mengeluarkan semburan api panas yang menyala, asap hitamnya menggumpal melingkupi puncak Himalaya (Kahyangan Suralaya).
Tidak disangsikan lagi kehebatan dari kedua putra Sang Hyang Tunggal itu, keduanya sama-sama sakti, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Palagan yuda tempat bertarung mereka tidak hanya di atas lapisan bumi, tapi juga masuk ke dalam perut bumi, bertarung di dasar samudera dan bahkan berdirgantara di angkasa.
Pertempuran dua kesatria dewa yang berlangsung dahsyat ini mengundang rasa keprihatinan bagi kakek-kakek mereka, baik Sang Hyang Wenang yang bersemayam di alam ‘sunyaruri’, ataupun Sah Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) yang bersemayam di Samudralaya. Telah banyak yang menjadi korban karena dampak dari pertarungan kedua cucunya. Rusaknya gunung, hutan dan lautan, juga mahluk-mahluk lain baik yang berada di alam maya ataupun di alam nyata.
Pertarungan antara Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga telah memakan waktu yang cukup lama, tanpa berhenti dan tanpa mengenal rasa lelah. Dan saat pertarungan menginjak waktu yang ke-empat puluh hari, Sang Hyang Tunggal memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan dengan mengajukan syarat sayembara kepada kedua putranya. Barang siapa yang mampu menelan gunung Jamurdipa dan lalu memuntahkannya kembali, maka dialah yang akan diakui sebagai yang tertua dan dinobatkan sebagai Raja Tribuana, mewarisi seluruh Kahyangan Suralaya.
Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya menyanggupi sayembara tersebut. Keduanya lalu mempersiapkan diri. Didahului oleh Sang Hyang Antaga, ia bertiwikrama menjadi berhala sewu yang besarnya melebihi gunung. Dan lalu gunung Jamurdipa dicabut dan dimasukan ke dalam mulutnya. Ia memaksa untuk menelan, namun ia merasa sangat kesusahan untuk menelannya, Gunung Jamurdipa itu masih berukuran lebih besar dari mulutnya, tapi karena nafsunya yang besar, maka ia terus mencoba memasukan gunung itu ke dalam mulutnya hingga mulutnya robek besar, besar keinginannya namun kurang mempunyai perhitungan.
Melihat Sang Hayang Antaga yang sedang bersusah payah ingin menelan gunung, Sang Hyang Ismaya segera melakukan tiwikrama. Tubuhnya seketika meninggi dan membesar, wujudnya seketika itu juga berubah menjadi berhala sewu. Akan tetapi wujud reksa denawa Sang Hyang Ismaya lebih tinggi besar dibandingkan dengan wujud raksasa jelmaan Sang Hyang Antaga. Tingginya melebihi tujuh kali puncak Himalaya. Kemudian Berhala Sewu perwujudan dari Sang Hyang Ismaya dengan cepat merebut gunung yang hendak ditelan oleh Sang Hyang Antaga. Dalam keadaan seperti itu Sang Hyang Antaga menjadi limbung, pandangan matanyapun dengan serta merta menjadi gelap, tidak sadarkan diri. Tubuhnya sekejap berubah kembali menjadi kecil dan luruh ambruk di atas bumi.
Kini gilliran Sang Hyang Ismaya, dengan kekuatan luar biasa Sang Hyang Ismaya memaksakan gunung Jamurdipa masuk ke dalam mulutnya. Oleh sebab tubuhnya lebih besar dari reksa denawa jelmaan Sang Hyang Antaga, maka dengan kekuatannya Sang Hyang Ismaya berhasil memasukan gunung Jamurdipa ke dalam mulutnya, dan lalu ditelan. Sang Hyang Ismaya sempat tercekat, ia merasa seperti tercekik dan sulit bernafas saat gunung Jamurdipa tertelan masuk di kerongkongannya. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kesaktiannya hingga gunung itu pun langsung amblas ke dalam perutnya.
Seperi juga Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya sudah kehabisan seluruh tenaganya, ia merasa sudah tidak mampu lagi untuk mencoba memuntahkan kembali gunung Jamurdipa. Tubuhnya dingin dan lunglai, lalu seketika berubah kembali menjadi kecil, jatuh terkapar tidak sadarkan diri.
Sementara di Jonggring Salaka, Sang Hyang Tunggal yang sudah mengetahui peristiwa yang telah dialami kedua putranya hanya merenung. Ia pun menyesali atas kesalahannya waktu dulu, saat menyempurnakan wujud telur yang menjadi asal muasal mereka. Seharusnya mereka tidak disempurnakan secara bersamaan, sehingga bisa dibedakan mana yang lebih awal tercipta dan untuk dituakan. Namun yang lebih disesalkan lagi adalah mereka sudah tidak mau mendengarkan nasehatnya sebagai orang tua, apa mau dikata, semuanya sudah terlanjur, dan mereka telah memilih jalannya masing-masing.
Alam kembali menjadi tenang, burung-burung berkicau dikegelapan pagi, dan angin berhembus semilir meniupkan nafasnya yang gemulai. Diantara basahnya embun pagi di atas dedaunan, dua sosok mahluk yang terkapar di atas tanah kini mulai bergerak hidup, menunjukan bahwa keberadaan mereka masih memiliki nafas.
Mereka yang tidak lain adalah Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya yang telah tidak sadarkan diri untuk beberapa saat lamanya, dan kini mulai terbangun dari sadarnya. Keduanya masih terlihat bingung dan seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Baik Sang Hyang Antaga maunpun Sang Hyang Ismaya belum pulih total kesadarannya, mereka sama terkejutnya saat saling berhadapan. Dan Salah satu dari mereka lalu bertanya.
Siapa andika?
Yang ditanya menjawab sebagai Sang Hyang Antaga. Yang bertanya sontak terkejut seperti mendengar petir disiang bolong.Betapa tidak, yang mengaku sebagai Sang Hyang Antaga itu berpenampilan buruk rupa. Penampilan dan mukanya sangat jauh dari Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenal. Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenali adalah sosok kesatria perkasa, sedangkan yang dihadapinya bisa dibilang lebih mirip dengan mahluk jadi-jadian sebangsa Jin atau Dedemit. Tubuhnya pendek buncit, mukanya tidak seimbang dengan mulutnya yang sangat lebar menyerupai mulut angsa. Belum lagi habis rasa herannya, yang tadi mengaku bernama Sang Hyang Antaga balik bertanya.
Lah! Andika sendiri siapa?
Kini giliran dia menjawab dan mengaku bernama Sang Hyang Ismaya. Seperti juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga pun terkejut bukan kepalang. Sang Hyang Ismaya seharusnya berwajah elok dan bersinar seperti matahari, tapi yang mengaku Ismaya ini bertubuh gemuk berpantat besar, wajahnya pun sama sekali tidak mirip, sangat lebih tua.
Mereka berdua saling meyakinkan siapa mereka, dan baru tersadar saat mereka mencoba untuk mengenali bentuk tubuh masing-masing, merabai seluruh wajah dan tubuhnya. Mereka sama-sama terkejut dan menjadi sadar bahwa mereka berdua telah terkena kutukan orang tua mereka, Sang Hyang Tunggal. Lalu mereka berdua menangis sejadi-jadinya sambil berangkulan seperti anak kecil. Dan kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke Kahyangan Suralaya, menghadap Sang Hyang Tunggal.
Di Jonggring Salaka, di hadapan Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga masih terus menangis memohon ampunan, mereka memohon ayahandanya untuk merubah kembali wujud mereka seperti semula. Namun Sang Hyang Tunggal tidak dapat mengabulkan permohonan mereka. Menurutnya ini sudah takdir dan kehendak Yang Maha Kuasa.
Sang Hyang Tunggal bersabda kepada para putranya bahwa dirinya akan segera mokswa ke alam sunyaruri, namun sebelumnya ia akan menunjuk salah satu dari putranya untuk menggantikannya menjadi Raja Tribuana di Kahyangan Suralaya. Lalu Sang Hyang Tunggal menunjuk dan menobatkan Sang Hyang Manikmaya menjadi Raja Tribuana, dan kepada Sang Hyang Antaga juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Tunggal menyarankan mereka untuk turun ke marcapada apabila Sang Hyang Manikmaya kelak menurunkan keturunannya di Marcapada.
Sebagai Raja Tribuana, Sang Hyang Manikmaya diberi tugas untuk menentramkan marcapada. Sedangkan Sang Hyang Antaga bila saatnya nanti turun ke marcapada harus merubah namanya menjadi Togog (Togog Wijomantri). Ia ditugaskan untuk mengasuh, mendidik dan memberi nasehat budi pekerti yang baik kepada para raja keturunan Sang Hyang Manikmaya yang berwujud raksasa. Kelak dikehidupannya nanti Togog akan menghamba dan ikut kepada para raja raksasa seperti raja-raja Lokapala hingga Alengka yang berasal dari keturunan Batara Sambu, putra sulung Sang Hyang Manikmaya.
Dan kepada Sang Hyang Ismaya, bila saatnya turun ke marcapada harus berganti nama menjadi Semar (Semar Badranaya). Ia ditugaskan untuk mengasuh para raja, brahmana, dan kesatria yang masih keturunan Sang Hyang Manikmaya.
Sebenarnya yang paling berat adalah tugas Sang Hyang Antaga, sebab ia disuruh memberi pelajaran budi pekerti, menasehati serta meluruskan para raja raksasa yang kebanyakan sifat dan perwatakannya penuh dengan angkara murka.
2
Setelahnya Sang Hyang Manikmaya dinobatkan menjadi Raja Tribuana di kahyangan Suralaya, maka Sang Hyang Tunggal dan kedua isterinya yaitu Dewi Darmani dan Dewi Wirandi mokswa menuju swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga untuk sementara waktu ditugaskan mendampingi Sang Hyang Manikmaya, sebelum mereka nantinya turun ke marcapada.
Sang Hyang Manikmaya bergelar Sang Hyang Jagatnata atau Sang Hyang Otipati (Batara Guru atau Batara Tengguru). Bersama Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga, ia mulai menata Suralaya, membuat kahyangan-kahyangan baru yang akan diperuntukan bagi persemayaman para dewa yang menjadi keturunannya nanti. Namun walau pun demikian, Sang Hyang Manikmaya mempunyai ganjalan dihatinya, sebab ia telah mendengar bahwa kakak sulungnya yang lain ibu dari Dewi Darmani, yaitu Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Dewa Esa / Sang Hyang Rancasan yang menjadi raja di kahyangan Keling (negeri Selong) telah membangun dengan megah kahyangan yang dahulunya telah diwariskan oleh Sang Hyang Tunggal. Bahkan, konon menurut kabar yang ia dengar, Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Dewa Esa / Sang Hyang Rancasan mulai dipuja-puja oleh para pengikutnya. Hal ini dianggap Sang Hyang Manikmaya akan merongrong kewibawaannya sebagai Raja Tribuana, maka tersirat dalam benaknya untuk menyingkirkan kekuasaan lain yang menyaingi Suralaya.
Sang Hyang Manikmaya berupaya keras mencari cara untuk dapat menyingkirkan Sang Hyang Rancasan. Harus ada alasan, sebab selain Sang Hyang Rancasan adalah kakak sulungnya walau beda ibu, tapi juga Sang Hyang Rancasan memiliki kesaktian yang luar biasa. Tidak mungkin baginya sendiri dapat mengalahkan Sang Hyang Rancasan, maka tidak ada jalan lain kecuali menghasut kedua saudaranya, yaitu Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga.
Dihadapan Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga ia menceritakan kegelisahan hatinya, yaitu keberadaan kahyangan Keling yang telah dianggap akan menandingi kahyangan Suralaya. Sang Hyang Manikmaya juga menghasut kedua saudaranya, bahwa Sang Hyang Rancasan berkeinginan merebut Suralaya dan ingin menjadi raja Tribuana. Selain itu, Hyang Manikmaya bercerita juga tentang sebuah pusaka yang konon dikeramatkan oleh leluhur mereka. Pusaka yang sangat luar biasa, tidak tertandingi oleh pusaka-pusaka lainnya di jagat pramuditya, pusaka Jamuslayang Kalimasada.
Menurut Hyang Manikmaya, Jamuslayang Kalimasada sebenarnya diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur mereka, tapi kemudian oleh ayahanda mereka dititipkan kepada putra Hyang Rancasan sebagai puytra yang tersulung sebelum ayahanda mereka melakukan tapa brata dan terdampar di negeri Samudralaya. Menurut Sang Hyang Manikmaya pusaka tersebut bukanlah dianugerahkan atau diwariskan kepada Hyang Rancasan, sifatnya hanya ditipkan untuk sementara waktu.
Awalnya Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga tidak terpancing oleh pengaduan Sang Hyang Manikmaya, namun karena kecerdikan Sang Hyang Manikmaya dalam menghasut, maka Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga pada akhirnya berubah pikiran setelah mendengar kisah pusaka Jamuslayang Kalimasada. Mereka lalu sepakat untuk bertandang ke kahyangan Keling (negeri Selong) guna meminta kembali pusaka Kalimasada yang dianggap telah ditipkan ayah mereka kepada kakak sulungnya.
Setibanya di kahyangan Keling, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Manikmaya langsung menghadap kakak sulungnya. Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Rancasan yang bergelar Sang Hyang Dewa Esa menyambut baik kedatangan ketiga adiknya itu, mereka lalu terlibat pembicaraan.
Dalam percakapan selanjutnya diantara mereka, Sang Hyang Manikmaya meminta pusaka Jamuslayang Kalimasada dengan alasan untuk disemayamkan di Jonggring Salaka sebagai pusaka kadewatan, karena dirinya telah dinobatkan menjadi raja Tribuana di Suralaya. Dengan halus Sang Hyang Rancasan menolak, ia menganggap pusaka itu adalah amanat leluhur yang harus ia jaga & dipertanggung jawabkan amanatnya. Sang Hyang Manikmaya menuduh sulungnya telah melawan keputusan ayahanda mereka yang telah menobatkan dirinya sebagai raja Tribuana. Perbincangan berganti dengan perdebatan, dan akhirnya Sang Hyang Manikmaya menantang Sang Hyang Rancasan untuk mengadu kesaktian. Perang tanding pun tidak terelakan lagi diantara mereka.
Bumi gonjang-ganjing, marcapada kembali diguncang oleh nafsu angkara murka putra-putra Sang Hyang Tunggal. Gunung-gunung menggelegar mengeluarkan laharnya, bukit-bukit longsor bermuragan. Perang tanding terjadi antara Hyng Manikmaya dengan Hyang Rancasan. Keduanya saling mengadu kedigjayaan dan saling memamerkan aji-aji kesaktian. Namun dalam perang tanding itu, terlihat Sang Hyang Rancasan lebih unggul dibandingkan Sang Hyang Manikmaya. Beberapa kesaktian dan pusaka-pusaka kadewatan milik Manikmaya tidak mampu menghadapi kesaktian dan kedigjayaan Sang Hyang Rancasan. Saat Sang Hyang Manikmaya bertiwikrama menjadi berhala sewu, Hyang Rancasan tidak kalah hebat, ia bertiwikrama lebih besar dari raksasa jelmaan Hyang Manikmaya. Begitu seterusnya, setiap Manikmaya masuk ke dalam perut bumi, Hyang Rancasan ada dibelakangnya. Dan setiap Manikmaya berdirgantara di angkasa, Rancasan pun selalu ada di belakangnya. Manikmaya keteteran menghadapi kesaktian Hyang Rancasan, maka Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya segera terjun ke palagan yuda demi membantu Manikmaya, keduanya langsung menerjang Sang Hyang Rancasan. Mereka menyerang secara serempak dari segala penjuru, ada yang menyerang dari arah depan saling berhadapan, ada yang menyerang dari belakang, dari angkasa dan dari bawah bumi.
Perang kejayaan diantara mereka menggemparkan marcapada. Terjadi hujan badai, angin prahara, halilintar dan kobaran api yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan gaib mereka hingga menghancurkan kahyangan Keling dan meluluh lantakan bumi Selong. Dan hingga pada akhirnya, Sang Hyang Rancasan palastra ditangan saudara-saudaranya. Tubuhnya terbelah menjadi dua oleh sebab terjadi saling tarik menarik diantara Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Rancasan dan Sang Hyang Antaga. Namun sesaat setelah kematian Sang Hyang Rancasan, di atas angkasa terdengar suara tanpa rupa yang tidak lain adalah ‘ruh’ dari Sang Hyang Rancasan yang tidak menerima perlakuan saudara-saudaranya. Ia mengancam, kelak disuatu hari akan menuntut balas atas perbuatan mereka. Ia akan selalu membayang-bayangi kekuasan Manikmaya dan akan selalu mengikuti langkah Ismaya juga Antaga di marcapada. Ketiganya tertegun mendengar ancaman dari ruh Hyang Rancasan. Kesadaran dan penyesalan selalu berada diakhir kisah setelah semuanya terjadi, terlebih lagi perbuatan mereka telah mengusik ketenangan Sang Hyang Tunggal di swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Tunggal dalam wujud suara tanpa rupa mengutuk perbuatan Manikmaya yang telah menghasut kedua saudaranya hingga membunuh kakak sulung mereka. “Kelak Hyang Manikmaya akan menerima karmanya, yaitu kakinya akan menjadi kecil sebelah dan lemah, maka dengan begitu ia akan mendapat julukan sebagai Sang Hyang Lengin. Giginya akan bertaring sebesar buah randu dan dinamakan Sang Hyang Randuana. Tangannya akan bertambah menjadi empat dan akan mendapat nama Syiwa, dan yang terakhir dalam perjalanannya nanti tubuhnya akan terbakar oleh racun ganas sehingga menjadi biru, maka namanya pun bertambah menjadi Sang Hyang Nilakanta”.
Sang Hyang Manikmaya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah menerima kutukan dari ayandanya, begitu juga dengan Sang Hyang Ismaya dan Antaga. Perihal pusaka yang diperebutkan itu kini telah diambil kembali oleh Sang Hyang Tunggal dan pada saatnya nanti pusaka itu akan diwariskan kepada para kesatria marcapada yang sanggup mengembannya, Jamuslayang Kalimasada.
Sang Hyang Lengin
Alkisah Prabu Detya Kalamercu yang menjadi raja bangsa dedemit di Negara Tunggul Wesi telah mendengar penobatan Sang Hyang Manikmaya menjadi Raja Tribuana di kahyangan Suralaya. Batara Kalamercu yang juga mempunyai keinginan untuk menguasai Triloka (tiga dunia), maka ia pun menyiapkan seluruh bala tentara buta dan dedemit untuk menyerang Suralaya. Bersama dengan seluruh kekuatan bala tentaranya yang berasal dari bangsa jin dan siluman, ia segera melesat menuju puncak Tengguru.
Kawah Cadradimuka menggelegar memuntahkan laharnya, asapnya membumbung ke angkasa, menyaput puncak Himalaya. Ini telah menjadi pertanda bagi kadewatan Suralaya bahwa akan ada sesuatu yang bakal terjadi. Sang Hyang Manikmaya yang telah waspada, segera memberi tahu Hyang Ismaya dan Hyang Antaga agar bersiap-siap menyambut kedatangan raja Jin yang akan menyerang Suralaya. Agar tidak merusak tatanan kahyangan, maka ketiganya bersepakat untuk menghadang pasukan Prabu Kalamercu di depan pintu Selamatangkep.
Pertempuran pun terjadi ketika kedua belah pihak saling berhadapan. Prabu Kalamercu berhadapan langsung dengan Sang Hyang Manikmaya, sedangkan puluhan ribu bala tentaranya bertempur melawan Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga. Pertempuran seperti tidak berimbang, namun karena Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga mempunyai kesaktian yang luar biasa, maka serangan bala tentara pasukan Prabu Kalamercu dapat dihadapi. Bahkan sebaliknya pasukan Prabu Kalamercu kualahan menghadapi dua kesatria dewa yang tampangnya kini tidak berbeda dengan bangsa dedemit itu. Korban berjatuhan di pihak bala tentara Detya Kalamercu. Mereka jatuh bertumbangan, ada yang terbakar api, ada yang tersapu badai, dan terjilat hangus halilintar yang disebabkan oleh kesaktian Hyang Ismaya dan Hyang Antaga.
Sementara itu Sang Hyang Manikmaya perang tanding dengan Prabu Detya Kalamercu. Keduanya saling terjang, saling pukul dan saling beradu kekuatan yang masing-masing dilambari aji-aji kesaktian. Petir menggelegar, api berkobar, sesaat lalu badai angin dan hujan berbaur menyapu seluruh pelataran bumi tempat pertarungan mereka. Prabu Detya Kalamercu sangat sakti mandraguna sehingga Hyang Manikmaya harus mengeluarkan pusaka-pusaka Kadewatan untuk melawannya, tapi kehebatan pusaka Hyang Manikmaya tidak membuat gentar Prabu Detya Kalamercu. Raja Jin itu sangat sukar untuk dibunuh, bahkan tumbak pusaka Trengganaweni dan tumbak Kalaminta milik Hyang Otipati yang konon dapat meluluh lantakan gunung, tetap tidak mampu mencederai raja Jin itu.
Pada pertempuran selanjutnya, Sang Hyang Manikmaya terdesak mundur, ia keteteran menghadapi serangan dan terjangan Detya Kalamercu hingga suatu ketika Manikmaya terjebak di salah satu lereng gunung yang berbatu cadas. Tubuhnya dilemparkan oleh Prabu Kalamercu dan menghantam bebatuan cadas. Hyang Manikmaya ambruk bersama reruntuhan batu-batu gunung, dan salah satu kakinya terhimpit batu-batu cadas yang besarnya sebesar gajah. Setelah memukul hancur batu yang menghimpit kakinya, Hyang Manikmaya terkejut saat melihat kakinya menjadi kecil sebelah. Ia teringat kutukan ayahandanya, bahwa kakinya akan menjadi kecil sebelah dan menjadi lemah, maka namanya kini bertambah menjadi Sang Hyang Lengin.
Sang Hyang Manikmaya menjadi murka atas kejadian itu, maka ia pun kemudian merapal aji Kemayan untuk menaklukan musuhnya. Prabu Detya Kalamercu tidak sanggup melawan kekuatan aji Kemayan yang dijapa oleh Manikmaya. Tubuhnya lunglai seperti tidak bertulang, kesaktiannya seperti sirna, ia pun ambruk di palagan yuda. Detya Kalamercu menggerung menjerit-jerit minta ampun. Ia berjanji tidak akan melakukan penyerangan lagi terhadap kadewatan Suralaya. Sang Hyang Manikmaya lalu mengampuni Prabu Detya Kalamercu, tetapi sebagai pelajaran untuk raja Jin itu, maka Hyang Manikmaya menghanguskan seluruh balatentara siluman Kalamercu yang masih tersisa. Ia mendatangi tempat pertempuran antara pasukan Siluman dan kedua saudaranya. Seketika setelah Hyang Manikmaya menjapa mantra kembali aji Kemayan, ribuan Jin dan Siluman pun hangus terbakar seketika. Dan lalu bangkai-bangkai siluman yang hangus itu oleh Hyang Manikmaya dicipta dengan aji Kawrastawam (kawaspadan cipta) hingga menjadi bebatuan yang menjalar sepanjang jalan dari kadewatan Suralaya menuju kawah Candradimuka, jalan itu kemudian diberinama Balagadewa.
Kini Detya Kalamercu dipulihkan kembali oleh Hyang Manikmaya, dan sebagai tanda kesetiaan Detya Kalamercu, raja Jin itu mempersembahkan damper kencana Mercupunda (singgasana emas yang bertaburkan mutiara)
3
Prabu Pattanam raja bangsa dedemit di Dahulagiri mempunyai tiga putra yaitu, Andini (Andana), Cingkarabala dan Balaupata. Ketiga putra Prabu Pattanam ini berkeinginan menjadi raja Triloka dengan maksud ingin merebut kahyangan Suralaya dari tangan Sang Hyang Manikmaya.
Andini (Andana) adalah putra Prabu Pattanam yang tersulung, wujudnya berupa lembu dengan bulunya yang kuning keemasan, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata berwujud raksasa kembar bersenjatakan alugora (gada). Setelah mendapat restu dari ayahandanya, mereka lalu berangkat menuju puncak Tengguru (kahyangan Suralaya). Cingkarabala dan Balaupata naik di punggung Andini. Lembu berwarna bulu kuning keemasan itu melesat ke angkasa raya bagaikan kilat tatit. Namun sebelum mereka sampai ke puncak Tengguru, di angkasa raya mereka telah dihadang oleh Sang Hyang Manikmaya. Melalui aji Pengabaran, Raja Tribuana itu telah waspada sebelumnya akan kedatangan mereka yang ingin menyerang kahyangan Suralaya, maka di angkasa mereka pun bertempur.
Andini yang sakti dapat mengeluarkan semburan api dari mulutnya, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata kedua senjata mereka yang berbentuk alogora menggelegar seperti halilintar. Namun kesaktian mereka tidak setara dengan Sang Hyang Manikmaya. Cingkarabala dan Balaupata ambruk luruh ke bumi terkena pukulan tumbak pusaka Trengganaweni. Andini sendiri tidak berkutik, tubuhnya pun sama luruh terkena aji Kemayan yang dijapa oleh Sang Hyang Manikmaya. Ketiga putra prabu Pattanam tidak berdaya menghadapi kesaktian Sang Hyang Manikmaya, mereka mengaku takluk dan ingin mengabdi kepada Manikmaya. Ketiganya diampuni dan diterima oleh Sang Hyang Manikmaya, maka saat itu juga ketiga putra Prabu Pattanam masing-masing diberi tugas. Andini yang berwujud lembu dan mempunyai kecepatan yang sangat luar biasa dijadikan kendaraan pribadi Sang Hyang Manikmaya, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata diberi tugas menjadi penjaga pintu gerbang Selamatangkep (pintu gaib kahyangan Suralaya).
Hari-hari selanjutnya kahyangan Suralaya digegerkan lagi oleh kedatangan dua jin yang bernama Mercukilan dan Mercukali. Mercukilan berperawakan tinggi jangkung dengan hidung panjang seperti burung pelatuk dan kepalanya berkuncir, sedangkan Mercukali berperawakan pendek berhidung besar bulat seperti buah tomat, kepalanya juga sama berkuncir. Keduanya bertingkah jenaka tapi sering sekali menyombongkan diri. Apalagi setelah keduanya sanggup mengalahkan Cingkarabala dan Balaupata sehingga kedua duruwiksa penjaga gerbang Selamatangkep itu harus lari tunggang langgang menghadap Sang Hyang Jagatnata (Manikmaya) di istana Jonggring Salaka. Sang Hyang Manikmaya lalu menghadapi Mercukilan dan Mercukali menanyakan maksud kedatangan mereka. Kedua jin itu dengan sombongnya meminta Manikmaya menyerahkan kahyangan Suralaya kepada mereka berdua. Mereka mengaku merasa lebih pantas menguasai Triloka dibandingkan Manikmaya yang hanya perwujudan ‘akyan’ (jasad halus). Sang Hyang Manikmaya yang sudah pasti menolak permintaan kedua jin itu, maka mereka pun melakukan perang tanding. Mercukilan dan Mercukali memiliki kesaktian-kesaktian gaib, gerakan mereka sangat gesit sehingga Sang Hyang Manikmaya merasa kesulitan menghadapinya. Begitu juga dengan Mercukilan dan Mercukali, keduanya tidak sanggup mengalahkan kesaktian Manikmaya. Pertempuran diantara mereka cukup dahsyat walaupun kedua jin itu bertempur secara semrawutan, terkesan bercanda atau memang sengaja meremehkan lawannya. Hal itu membuat Manikmaya merasa kesal, ia seperti sedang dipermainkan oleh kedua musuhnya, maka ia pun memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran dengan menyiapkan aji Kemayan agar musuh-musuhnya dapat segera dibinasakan, tapi sebelum Manikmaya merapal kesaktiannya, Hyang Ismaya dan Antaga datang menghampiri. Hyang Ismaya melarang Manikmaya menggunakan aji Kemayan, dan membiarkan dirinya untuk menghadapi kedua bangsa jin tersebut.
Melihat Hyang Ismaya perutnya buncit, pantatnya besar, kepalanya berkuncung, dan giginya cuma satu menghiasi mulut, Mercukilan dan Mercukali saling berbisik lalu terkekeh-kekeh menertawakan. Dengan sombongnya, mereka menganggap suruhan Manikmaya itu tidak lebih dari dua duruwiksa penjaga gerbang Selamatangkep yang dapat mereka kalahkan dengan sangat mudah. Hyang Ismaya sebenarnya menyukai tingkah jenaka Mercukilan dan Mercukali, tetapi ia tidak menyukai sifat-sifat sombongnya. Ismaya mengingatkan kepada dua jin itu agar tidak selalu meremehkan dan menghina orang lain, sebab wujud mereka pun tidak lebih dari keadaannya. Mercukilan dan Mercukali tidak menggubris kata-kata Hyang Ismaya, keduanya segera menerjang, akan tetapi Hyang Ismaya yang sudah siap menghadapi keduanya, menyambut serangan mereka. Pertempuran mereka tidak berlangsung lama, sebab Hyang Ismaya sendiri bertempur lebih semrawut dibandingkan kedua musuhnya. Mercukilan dan Mercukali jatuh bangun menghadapi Hyang Ismaya, keduanya tersungkur setelah ditabrak oleh Hyang Ismaya, lalu oleh Hyang Ismaya kedua kuncir kepala kedua jin itu ditangkap sehingga mereka menjerit-jerit memohon ampun. Hyang Ismaya memantrai mereka dengan aji Kawrastawam (kawaspadan cipta). Seketika wujud Mercukilan dan Mercukali berubah, wajah mereka yang sebelumnya agak menyeramkan berubah menjadi seperti rakyat jelata yang polos. Mereka berdua kemudian diampuni dan diangkat anak oleh Hyang Ismaya. Mercukilan namanya diganti menjadi Petruk sedangkan Mercukali diganti namanya menjadi Gareng.
4
Syahdan di Negara Shindu Udal-udal yang menjadi raja adalah Sang Hyang Caturkaneka. Ia adalah putra dari Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) kakak kandung Sang Hyang Wenang, yang juga berarti saudara sepupu dengan Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Caturkaneka mempunyai seorang putra yang bernama Sang Hyang Kanekaputra. Ia adalah seorang kesatria dewa yang berparas cakap rupawan dengan kelebihan berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian ditambah kecerdasan yang menjadikan Sang Hyang Kanekaputra adalah seorang anak yang sangat dibanggakan oleh kedua orang tuanya, juga bangsanya. Namun kepandaian ilmu dan keluasan pengetahuan terkadang menjadi cobaan bagi setiap insan yang mendapatkan keistimewaan karunia tersebut, begitu juga dengan Hyang Kanekaputra. Dihadapan Ayahandanya, Hyang Kanekaputra mengutarakan keinginannya yang selalu tersirat dalam hati dan pikirannya untuk menjadi seorang penguasa Triloka (dunia ketiga). Sebenarnya Sang Hyang Caturkaneka melarang keinginan putranya itu. Ia memberi nasehat kepada putranya bahwa seseorang yang memiliki keluhuran ilmu dan kepandaian, sejatinya tidak akan pernah hilang walaupun ia tidak menjadi seorang penguasa atau pemimpin. Dan apalagi kedudukan sebagai Raja Tribuana telah dimandatkan oleh Sang Hyang Tunggal dan para leluhurnya kepada Sang Hyang Manikmaya, alangkah lebih baik jika Hyang Kanekaputra membantu Hyang Manikmaya dalam menjalankan tugas dan baktinya yang telah diemban sebagai seorang kalifah di kadeatan Suralaya nanti. Walau pun Hyang Caturkaneka mencoba untuk mengarahkan jalan yang lebih baik kepada putranya, namun ia sangat paham akan perwatakan putranya yang berpendirian keras. Lagi pula putranya beralasan bahwa, ia hanya ingin menguji sampai dimana kepandaian dan kesaktian Manikmaya sehingga diangkat menjadi raja Tribuana, dan kalau memang Hyang Manikmaya teruji kesaktiannya, maka ia tidak segan-segan untuk mengabdikan diri kepada Manikmaya. Mendengar alasan itu Sang Hyang Caturkaneka mengijinkan keinginan putranya. Setelah mendapat restu dari ayahandanya, Sang Hyang Kanekaputra kemudian pergi meninggalkan negeri Shindu. Ia terbang melintasi daratan dan lautan menuju Suralaya. Di tengah perjalanan Hyang Kanekaputra berubah pikiran, ia berpikir lebih baik mengundang Hyang Manikmaya dari pada dirinya yang harus datang ke Suralaya. Maka, Sang Hyang Kanekaputra lalu duduk di atas lautan samudralaya, mengheningkan cipta bermujasmedi mengolah rasa.
Puncak Tengguru diliputi awan hitam kelam. Candradimuka menggelegar-gelegar memuntahkan lahar dan api panasnya. Saat itu juga kahyangan Suralaya dihampar hawa panas, menyebabkan para penghuninya merasa was-was, ada apa gerangan yang bakal terjadi? Hyang Manikmaya dengan aji Pengabarannya mencari tahu apa gerangan yang menjadi penyebab mengamuknya kawah Candradimuka. Melalui kesaktiannya itu Manikmaya akhirnya mengetahui apa dan siapa dibalik peristiwa tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk mendatangi Sang Hyang Kanekaputra di samudralaya.
Nun jauh di tengah samudralaya, Manikmaya melihat seberkas sinar yang memancar dari sosok seorang kesatria dewa yang sedang melakukan tapabrata. Pancaran sinarnya mampu meredam gelombang ombak yang bergemuruh di tengah lautan, tubuhnya tidak sedikit pun basah oleh air laut. Manikmaya kagum dengan kesaktian kesatria rupawan yang tidak lain adalah Sang Hyang Kanekaputra. Lalu Sang Hyang Manikmaya membangunkan dan menanyakan maksud dari tapabrata Kanekaputra yang telah mengguncangkan kawah Candradimuka. Yang ditanya tetap diam, membisu dan masih memejamkan mata. Hyang Manikmaya kembali menggugah dan menanyakannya. Yang ditanya masih saja diam, membisu dan masih tetap memejamkan mata. Hyang Manikmaya merasa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, ia lalu berniat mengeluarkan pusaka dewata untuk mengugahnya, tapi sebelum niat Manikmaya terlaksana tiba-tiba sepasang mata itu terbuka dan tertawa. Ia menertawakan sifat Manikmaya yang dianggap tidak memiliki kesabaran. Manikmaya kembali bertanya tentang maksud dan tujuan dari tapabrata tersebut. Sebelum menjawab pertanyaan dari yang Manikmaya, Sang Hyang Kanekaputra lebih dulu memperkenalkan jatidirinya sehingga Manikmaya kini tahu bahwa kesatria dewa tersebut adalah masih keturunan Hyang Nurrasa, salah satu leluhurnya.
Sang Hyang Kanekaputra melanjutkan dengan menjawab maksud dan tujuannya melakukan tapabrata adalah tidak lain untuk mengundang Hyang Manikmaya dan menyampaikan keinginannya menjadi kalifah ing dewa (Raja Tribuana). Mendengar itu, Hyang Manikmaya lalu mengatakan bahwa untuk menjadi seorang Raja Tribuana haruslah memiliki kepandaian dan kesaktian yang dapat diandalkan hingga nantinya akan dapat mempertanggungjawabkan tugas yang akan diemban kelak. Maka, Keduanya lalu saling mengadu pengetahuan dengan saling memberikan pertanyaan dan jawaban. Sang Hyang Kanekaputra memang seorang ahli dalam ilmu pengetahuan, kepandaiannya sangat luar biasa sehingga semua pertanyaan Hyang Manikmaya dapat ia jawab. Dan saat Hyang Manikmaya menanyakan tentang sifat tertua yang tertanam pada diri manusia semenjak lahir, Hyang Kanekaputra mampu menjawabnya dengan cemerlang bahwa sifat tertua yang ada pada diri manusia semenjak lahir adalah sifat ‘keinginan’, karena semenjak manusia dilahirkan di alam dunia, ia sudah berkeinginan. Seperti bayi manusia yang dilahirkan dalam keadaan menangis, ia sudah mempunyai keinginan, hanya saja manusia dewasa saat itu tidak mampu menterjemahkan keinginan yang disuarakan lewat tangisan bayinya.
Hyang Manikmaya mengagumi kecerdasan dan ilmu pengetahuan Hyang Kanekaputra, maka sebagai ujian terakhir adalah mengadu kesaktian. Hyang Kanekaputra menantang Manikmaya, apabila Hyang Manikmaya dapat menggeser tubuhnya dari keadaan duduk sempurna tapabrata di atas laut, maka ia mengaku kalah dan bersedia mengabdi kepada Hyang Manikmaya. Akan tetapi apabila Hyang Manikmaya tidak mampu melakukannya, maka Hyang Manikmaya harus menyerahkan tahta Jonggring Salaka kepada dirinya. Sang Hyang Manikmaya menerima tantangan, ia pun segera menyiapkan aji Kemayan dan kemudian keduanya beradu kesaktian secara batiniah. Larikan sinar berkelebatan diantara dua sosok manusia dewa yang sedang bertarung batin di atas samudralaya. Beberapa saat kemudian seiring dengan derunya gelombang ombak, Hyang Kanekaputra yang tidak sanggup melawan keampuhan aji Kemayan seakan ada sesuatu yang membetot paksa seluruh kesaktiannya keluar dari garbanya. Tubuhnya terasa lemas tak berdaya dan akhirnya terjebur masuk kedalam laut. Ia timbul tenggelam dilautan dan ia mengakui kekalahannya. Hyang Manikmaya lalu memulihkan kembali kesaktian Hyang Kanekaputra dan sejak saat itu Hyang Kanekaputra mengabdi kepada Hyang Manikmaya, ia mendapat gelar batara dan diberi jabatan sebagai kebayan ing dewa yang artinya adalah manusia dewa kedua setelah Raja Tribuana di kahyangan Suralaya, atau istliah lainnya adalah Mahapatih.
Pada hari-harinya di Suralaya, Sang Hyang Kanekaputra atau juga Batara Kanekaputra sangat gemar berjenaka. Ia seorang yang periang dan sangat suka bersendawan dengan Hyang Ismaya dan Hyang Antaga, namun kekurangannya adalah terkadang Hyang Kanekaputra tidak bisa membatasi sifat berkelakarnya. Bercandanya kadang keterlaluan, melampaui batas dengan ejekan-ejekan yang dianggapnya sebagai lelucon. Suatu hari Hyang Manikmaya merasa tersinggung ketika melihat Batara Kanekaputra meng-olok-olok Hyang Ismaya dan Hyang Antaga. Perlakuannya dianggap sudah melampuai batas bercanda, maka Hyang Manikmaya pun bersabda bahwa Batara Kanekaputra sebenarnya lebih pantas berpenampilan seperti mereka, sebab ke-elokan dan tingkah laku Kanekaputra dianggap tidak sepadan. Sekecap nyata, Batara Kanekaputra berubah wujud menjadi pendek, gemuk dan cebol. Melihat perubahan tubuhnya, Hyang Kanekaputra menangis meminta maaf kepada Manikmaya, tetapi semuanya sudah terlanjur. Hyang Manikmaya pun meminta maaf kepada Kanekaputra bahwa dirinya tidak dapat merubah lagi bentuk rupa Kanekaputra. Hyang Ismaya dan Antaga menasehati Kanekaputra untuk dapat menerima cobaan tersebut dengan kelapangan jiwa. Dan kepada Manikmaya mereka pun menasehati agar tidak gegabah dalam menyabdakan Kawrastawam yang bercampur dengan nafsunya, sehingga nantinya akan menjadi malapetaka yang akan merugikan banyak orang. Sejak saat itu Hyang Kanekaputra lebih dikenal dengan nama barunya yaitu Batara Narada.
5
Cahaya sang surya memancar keemasan diufuk timur, sinarnya menghangatkan titik-titik embun yang membasahi dedaunan. Kicau burung besahutan menyapa pagi dengan segala kebahagiaan yang alami. Marcapada kembali terisi dengan suasana kedamaian.
Pagi itu puncak Tengguru dikejutkan oleh penampakan sosok ‘akyan’ (wujud halus) seorang bocah bayi yang terbang melayang melintasi hutan-hutan pegunungan dan bermain-main di depan gerbang gaib Selamatangkep. Cingkarabala dan Balaupata, dua raksasa penjaga gerbang yang merasa heran dengan sosok bayi ajaib tersebut mencoba menangkapnya namun tidak berhasil. Sosok bayi itu wujudnya halus bercahaya, ia tidak dapat disentuh, dipegang dan dirsakan. Lebih mengherankan lagi bagi Cingkarabala dan Balaupata ketika sosok bayi ajaib itu sanggup menembus Selamatangkep dengan sangat mudah. Cingkarabala dan Balaupata terus mengejar dan memasuki wilayah kahyangan Suralaya. Sosok bayi itu seperti menggoda para pengejarnya, terkadang ia hinggap diantara dahan-dahan pohon kahyangan yang indah sehingga menyempurnakan ke-elokan taman kahyangan. Tingkah pola Cingkarabala dan Balaupata yang berkejar-kejaran seperti anak kecil yang sedang menangkap seekor capung itu sempat terlihat oleh Hyang Ismaya, Antaga dan Narada. Ketiganya lalu mendatangi Cingkarabala dan Balaupata, saat mereka mendekati dua raksasa penjaga gerbang Selamatangkep barulah mereka memahami apa yang sedang dilakukan dua raksasa itu. Baik Hyang Ismaya, Hyang Antaga dan Batara Narada sama-sama takjub melihat sosok bayi indah yang berwujud halus, bayi itu sekonyong-konyong mendekati mereka bertiga, Ismaya mencoba menangkap tapi yang tertangkap hanya ruang kosong, begitu juga dengan Hyang Antaga dan Batara Narada. Petruk dan Gareng pun ikut mencoba menangkap tapi sia-sia. Sosok bayi halus itu masih terus mempermainkan mereka, selanjutnya lama kelamaan terbang menjauh dan hilang dari pandangan mata mereka.
Belum selesai diantara mereka membicarakan kejadian aneh yang baru saja terjadi, tiba-tiba datang dua orang manusia pria dan wanita. Yang pria berbusana mewah memperkenalkan diri sebagai Prabu Umaran, bangsawan dari negeri Merut dan yang wanita adalah istrinya bernama Dewi Nurweni. Bangsawan dari negeri Merut itu menjelaskan bahwa mereka tengah mengejar sosok bayi dengan wujud halus yang terbang melayang-layang hingga membawa mereka ke puncak Tengguru. Mereka mengakui bahwa bayi itu adalah putri mereka yang semenjak lahir wujudnya sudah berupa ‘akyan’ (jasad halus) dan lalu terbang meninggalkan kediaman mereka. Hyang Ismaya dan Antaga menyarankan kepada Batara Narada untuk melaporkan peristiwa itu kepada Hyang Manikmaya, dan agar Prabu Umaran juga Dewi Nurweni dipertemukan dengan Hyang Manikmaya. Mereka lalu menghadap Sang Hyang Manikmaya di istana Jonggring Salaka. Prabu Umaran memohon pertolongan Hyang Manikmaya untuk menangkap bayi anaknya. Sang Hyang Manikmaya menyanggupinya, ia mencoba akan membantu menangkap bayi itu dan akan menyerahkannya kepada Prabu Umaran dan Dewi Nuweni.
Dengan mengendarai lembu Andini, Hyang Manikmaya terbang meninggalkan kahyangan Suralaya. Mereka melintasi daratan dan lautan mencari sosok bayi putri Prabu Umaran. Menjelang malam hari, di angkasa raya Hyang Manikmaya melihat titik cahaya yang sedang melayang-layang, cahayanya bagaikan bintang timur yang bersinar di musim panas, elok dan indah dipandangan mata. Hyang Manikmaya menyuruh lembu Andini untuk mendekatinya, dan ketika terlihat lebih dekat tampaklah kalau cahaya yang berkedip bersinar itu adalah sosok bayi yang sedang terbang melayang-layang. Hyang Manikmaya tidak salah menduga bahwa bayi itu tidak lain adalah bayi yang dimaksudkan oleh Prabu Umaran. Bayi itu mendekati Hyang Manikmaya, putra Hyang Tunggal pun mencoba menangkapnya tapi tidak berhasil. Hyang Manikmaya merasa heran bercampur takjub beberapa kali dia mencoba menangkap tapi tidak berhasil, dan ketika sosok bayi itu mencoba menjauh Hyang Manikmaya mengejarnya. Dua sosok melayang-layang diangkasa diantara gelap dan terangnya gugusan sinar bintang dan rembulan. Tertangkap dalam pelukan tetapi hilang, teraih dalam genggaman tetapi kosong. Sang Hyang Manikmaya lalu bersemedi memohon petunjuk kepada ayahandanya untuk dapat menangkap bayi tersebut. Sang Hyang Tunggal memberi petunjuk bahwa untuk menangkap bayi itu harus dipegang pergelangan tangan dan kakinya secara bersamaan, dan untuk melakukan itu Hyang Manikmaya harus merelakan tangannya bertambah dua, sehingga tangan Manikmaya nantinya akan menjadi empat. Dan dengan demikian kutukan terdahulu akan dijalani oleh Manikmaya sebagai seorang Shiwa.
Setelah berubah tangannya menjadi empat, Hyang Manikmaya kembali mengejar sosok bayi ajib anak dari Prabu Umaran. Kini dengan keempat tangannya Hyang Manikmaya dapat menangkap pergelangan tangan dan kaki bayi itu secara bersamaan, dan tatkala masing-masing pergelangan tangan dan kaki bayi terpegang oleh Manikmaya, seketika itu juga sosok ‘akyan’ (wujud halus) bayi hilang dan berubah menjadi wujud jasad wadag seorang gadis jelita berparas cantik rupawan. Kaget bukan kepalang tetapi juga terpesona melihat kecantikannya. Selanjutnya, gadis itu dibawa oleh Hyang Manikmaya ke negeri Merut untuk diserahkan kepada Prabu Umaran dan Dewi Nurweni. Oleh mereka gadis itu diberi nama Uma. Dihadapan Prabu Umaran dan Dewi Nurweni, Hyang Manikmaya menyampaikan isi hatinya yang telah terpikat oleh Uma. Prabu Umaran dan Dewi Nurweni merestui, maka Dewi Uma pun dinikahkan dengan Hyang Manikmaya dan diboyong ke kahyangan Suralaya
6
Kahyangan Suralaya kini bertambah ke-elokannya setelah Sanghyang Manikmaya Raja Tribuana mempersunting Dewi Uma putri Prabu Umaran dan Dewi Nurweni dari negeri Merut. Seperti ratna mutu manikam ditengah samudra biru, cahayanya gemerlapan bersinar menerangi Jonggring Salaka. Burung dan angin bernyanyi seirama dengan alunan gending lokananta yang mendayu sepanjang waktu dalam ruang kahyangan. Seperti juga titik-titik embun yang jatuh di dedauanan sebelum langit terbuka, menyongsong kehadiran sang fajar yang memberikan kehangatan pada ruang bumi. Generasi-generasi para dewa keturunan Hyang Manikmaya akan bermuasal dari sini untuk meramaikan kahyangan dan marcapada.
Angin malam semilir berhembus berkelana membisikan keheningan peraduan dua insan yang sedang melintasi gelora asmara. Semerbak harum wewangian bunga kahyangan melengkapi rasa asyik dan masyuk, menimbulkan keinginan untuk dapat selalu merajut cinta dan kasih selamanya… kepada sang dewi yang memancarkan kebahagiaan.
Beberapa kurun waktu setelah pernikahan mereka, Dewi Uma melahirkan seorang putra yang kelahirannya disertai bau harum semerbak diseluruh kahyangan Suralaya. Putra pertama ini diberi nama Batara Sambu yang memiliki sifat jujur dengan perbawa (perlambang) ‘awan’ (mega). Batara Sambu bersemayam di kahyangan Suwelagringging, ia menikah dengan Dewi Darmastuti putri dari Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Dari pernikahannya dengan Dewi Darmastuti, Batara Sambu dikaruniai empat orang putra, antara lain adalah Batara Sambusa, Batara Sambawa, Batara Sambujana dan Batara Sambudana. Kelak dari salah satu putranya akan menurunkan raja-raja raksasa seperti Rahwana hingga Nirtakawaca yang akan diasuh oleh Hyang Antaga (Togog).
Seiring berjalannya waktu, cinta kasih antara Hyang Manikmaya dan dewi Uma kembali menurunkan benih keturunan. Dewi Uma kembali melahirkan seorang putra, saat itu kelahiran putra kedua diawali dengan membuncahnya lahar panas Candradimuka hingga menyalakan kobaran api yang sangat besar dan dahsyat. Putra kedua itu lalu diberi nama Batara Brahma yang memiliki sifat semangat yang menyala-nyala dengan perbawa (perlambang) ‘api’. Ia bersemayam di kahyangan Tursina Geni (Daksina Geni). Batara Brahma menikah dengan tiga orang putri Sanghyang Nioya, mereka adalah Dewi Saci, Dewi Sarasyati dan Dewi Rarasyati. Dari perkawinannya dengan Dewi Saci, Batara Brahma dikaruniai dua orang putra, yaitu : Batara Maricibrama dan Batara Naradabrama. Sedangkan perkawinanya dengan Dewi Sarasyati dikaruniai lima orang putra, yaitu : Batara Bramanasa, Batara Bramasadewa, Batara Bramanasadara, Batara Bramarakanda, Batara Bramanaresi. Adapun putra dan putri Batara Brahma dengan Dewi Rarasyati adalah Dewi Bremani, Dewi Bramanisri, Batara Bramaniskala, Batara Bramanayara, Dewi Bramanista, Dewi Bramaniyari, Dewi Bramaniyodi, Batara Bramanayana, Batara Bramaniyata, Batara Bramanasatama, Dewi Bramanayekti, Dewi Bramaniyuta, Dewi Dresnala, Dewi Dreswati.
Waktu-waktu berikutnya Dewi Uma kembali melahirkan putranya yang ketiga. Pada saat itu kelahiran putra ketiga seiring dengan musim penghujan yang berkepanjangan. Putra ketiga ini diberi nama Batara Indra yang memiliki sifat rasa dengan perbawa (perlambang) ‘halilintar’. Batara Indra bersemayam di kahyangan Rinjamaya (kahyangan kaindran). Indra menikah dengan Dewi Wiyati putri Sanghyang Nioya, mereka dikaruniai putra dan putri, yaitu : Dewi Tara, Dewi Tari, Batara Citrarata, Batara Citragana, Batara Jayantaka, Batara Jayantara, Batara Harjunawangsa.
Selanjutnya Dewi Uma kembali melahirkan lagi putranya yang keempat. Pada saat kelahiran putra keempat ini diiringi oleh angin prahara yang sangat dahsyat. Maka, putra keempat mereka beri nama Batara Bayu yang memiliki sifat daya atau kekuatan dengan perbawa (perlambang) ‘angin’. Batara Bayu bersemayam di kahyangan Panglawung, ia menikah dengan Dewi Sumi putri Batara Soma, cucu dari Sanghyang Pancaresi yang adalah keturunan Sanghyang Darmajaka (Darmakaya) kakak kandung Sanghyang Wenang. Perkawinan Batara Bayu dengan Dewi Sumi dikaruniai empat orang putra, yaitu : Batara Sumarma, Batara Sangkara, Batara Sadarma, dan Batara Bismakara.
Setelah Hyang Manikmaya dan Dewi Uma beranak panak seperti layaknya manusia, maka mereka mendapat teguran dari Sanghyang Tunggal. Bahwa untuk menurunkan keturunan yang linuih, Hyang Manikmaya dan Dewi Uma tidak hanya melakukan olah asmara biasa, tapi harus menjalaninya dengan cara menempuh keheningan dengan menggunakan aji asmaracipta, asmaraturida, asmaragama. Hyang Manikmaya dan Dewi Uma menuruti nasehat Sanghyang Tunggal. Dari lelaku mereka lahirlah putra kelima yang diiringi oleh berbagai macam perubahan cuaca yang menimbulkan bencana alam seperti panas, hujan yang disertai petir, dan angin topan prahara yang sangat dahsyat. Peristiwa tersebut menimbulkan kembali membuncahnya lahar api Candradimuka. Putra kelima Hyang Manikmaya dan Dewi Uma diberi nama oleh Sanghyang Tunggal dengan nama Batara Wisnu yang memiliki sifat bijaksana, perbawanya adalah manunggalnya empat sifat, yaitu sifat jujur (Batara Sambu), semangat (Batara Brahma), rasa (Batara Indra), dan daya atau kekuatan (Batara Bayu). Batara Wisnu bersemayam di kahyangan Untarasegara, ia menikah dengan dua orang putri dari Batara Wismaka (putra kelima Sanghyang Pancaresi), mereka adalah dewi Sri Pujayanti (Dewi Laksmita) dan Dewi Sri Sekar (Dewi Laksmi). Dari Dewi Sri pujayanti (Dewi Laksmita), Batara Wisnu dikaruniai putra dan putri, yaitu : Batara Heruwiyana, Batara Ishawa, Batara Bhisawa, Batara Isnawa, Batara Isnapurna, Batara Madura, Batara Madudewa, Batara Madusadana, Dewi Srihuna, Dewi Srihuni, Batara Pujarta, Batara Panwanboja, Batara Sarwedi.
Dari perkawinannya dengan Dewi Sri Sekar, Batara Wisnu dikaruniai tiga orang anak, yaitu : Batara Srigati (pendiri negara Purwacarita, ia menjadi raja Purwacarita bergelar Prabu Sri Mahapunggung), Batara Srinada (pendiri negara Wirata / Wirata kuno, ia menjadi raja Wirata bergelar Prabu Basurata), Dewi Srinadi.
Putra ke-enam Dewi Uma dengan Hyang Manikmaya adalah Batara Gana (Ganesa). Peristiwa kelahirannya diawali saat Dewi Uma hamil, ia merasa sangat kaget dengan kehadiran gajah Erawati yang datang secara tiba-tiba. Gajah besar kendaraan Batara Indra itu dimaki-maki oleh Dewi Uma, karena kesal dan saking terkejutnya. Maka ketika lahir putra ke-enam Hyang Manikmaya dan Dewi Uma itu berwujud manusia gajah, tubuhnya berbentuk manusia, kepalanya berwujud gajah. Oleh Hyang Manikmaya diberinama Batara Gana (Ganesa).
Selain Sanghyang Manikmaya, sebenarnya para sanghyang dan dewa lainnya juga berkembang menurunkan keturunan mereka, seperti Sanghyang Ismaya yang telah mempersunting seorang bidadari yang bernama Dewi Senggani, putri dari Sanghyang Wening (saudara kembarnya Sanghyang Wenang). Dari pernikahannya dengan Dewi Senggani, Hyang Ismaya dikaruniai sepuluh orang anak, diantaranya adalah Bathara Wungkuam, Bathara Tembora, Bathara Kuwera, Bathara Wrahaspati, Bathara Syiwah (bukan Shiwa), Bathara Surya, Bathara Chandra, Bathara Yama/Yamadipati, Bathara Kamajaya dan Bathari Darmastuti (istri Batara Sambu, putra Hyang Manikmaya).
Sanghyang Senggana kakak kandung Dewi Senggani menurunkan keturunan yang berbentuk burung belibis.
Sanghyang Nioya yang bersemayam di kahyangan Argamaya, menikah dengan Batari Darmastuti, yang masih kemenakannya sendiri. Sebab, Sanghyang Nioya adalah putra ke-empat dari Sanghyang Wenang, sedangkan Batari Darmastuti adalah putri Sanghyang Tunggal dari Dewi Dermani. Dari pernikahannya dengan Dewi Darmastuti, Hyang Nioya dikaruniai empat puluh satu orang anak. Salah seorang dari anak Hyang Nioya adalah Hyang Baruna, dan empat puluh lainnya adalah bidadari-bidadari yang akan dinikahkan dengan keturunan Hyang Manikmaya dan keturunan Hyang Ismaya. Dari sekian banyak putri Sanghyang Nioya yang dikenal dalam pedalangan diantaranya Dewi Warsiki yang merupakan salah satu pimpinan tujuh bidadari upacara di kahyangan, dan Dewi Urwaci, bidadari paling seksi di kahyangan dan menjadi kecintaan Hyang Manikmaya.
Sanghyang Heramaya putra bungsu Hyang Wenang menikah dengan putri raja jin di perairan. Dari perkawinannya itu lahirlah seorang putra bernama Batara Gangga.
Sanghyang Taya, adik dari Sanghyang Wenang juga telah berputra empat orang. Yang sulung bernama Sanghyang Parma, memiliki putra bernama Sanghyang Pramana. Putranya tersebut memiliki putri bernama Dewi Tappi yang menikah dengan raja jin penguasa bangsa binatang bernama Sanghyang Darampalan. Dari perkawinan itu lahir Batara Winata berwujud burung, Batara Agli berwujud musang, Batara Karpa berwujud kowangan, dan Batara Kowara berwujud sapi.
Batara Narada putra Sanghyang Caturkaneka dari Shindu / Siddi Udaludal menikah dengan Dewi Wiyodi putri Sanghyang Pancaresi (adik kandung Sanghyang Caturkaneka). Dari pernikahannya itu dikaruniai dua orang anak, yaitu : Dewi Kanekawati dan Batara Malangdewa.
Putri bungsu Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti yang bernama Dewi Suyati menikah dengan Sanghyang Anantaswara dari Saptapertala (Saptabumi), mereka dikaruniai putra bernama Sanghyang Anantanaga (ular) dan menikah dengan Dewi Wasu (putri Sanghyang Nioya). Dari perkawinan Anantanaga dengan Dewi Wasu menurunkan seorang putra yang bernama Sanghyang Antaboga (Nagapasa), jadi Hyang Antaboga adalah keturunan ketiga dari Hyang Wenang.
Catatan:
Dalam catatan penulis, Sanghyang Wening dengan Sanghyang Hening berbeda. Sanghyang Wening adalah saudara kembar Sanghyang Wenang, sedangkan Sanghyang Hening (Nioya) adalah putra dari Sanghyang Wenang.
Silsilah:
Sanghyang Nurrasa dengan Dewi Sarwati mempunyai tiga orang putra yaitu, Sanghyang Darmajaka (Darmakaya), Sanghyang Wenang dan Wening (kembar), dan yang bungsu adalah Sanghyang Taya.
Putra Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti adalah : Sanghyang Tunggal, Sanghyang Hening (Nioya) dan Dewi Suyati.
Catatan lainnya adalah nama Dewi Darmastuti ada dua, yang satu adalah Bathari Darmastuti putri Hyang Tunggal dengan Dewi Darmani, dan yang satu laginya adalah Dewi Darmastuti (Dewi Hastuti) putri Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani.
Sanghyang Antaga tidak menikah dan tidak memiliki keturunan di kadewatan Suralaya. Namun dalam cerita wayang sunda, Hyang Antaga setelah turun ke marcapada mempunyai seorang putra bernama Jakatamilung, tetapi tidak diketahui siapa ibunya.
Pada suatu hari Sanghyang Jagatnata mengajak Dewi Uma berpesiar ke angkasa raya untuk menikmati keindahan marcapada dengan mengendarai Lembu Andini. Mereka berdua bersuka cita sebagai pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Namun pada saat mereka melintasi samudralaya, hembusan angin laut sempat menyingkapkan helai kain Dewi Uma sehingga bagian dari tubuhnya yang indah terlihat membangkitkan desiran rasa yang meletup-letup disanubari Hyang Manikmaya. Putra Sanghyang Tunggal yang sedang dilanda rasa itu membujuk Dewi Uma untuk melakukan peraduan di atas lembu Andini yang sedang melintasi samudralaya. Dewi Uma menolak secara halus, sebab menurutnya sebagai seorang Bathara dan Bathari tidaklah pantas melakukan peraduan di tengah perjalanan, apalagi melakukannya di atas seekor lembu yang sedang mereka kendarai. Sanghyang Jagatnata yang sudah terbakar nafsu birahinya itu terus membujuk istrinya. Karena kesalnya, Dewi Uma menjadi marah kepada Sanghyang Jagatnata. Ia mengatakan bahwa prilaku Sanghyang Jagatnata tidak seperti seorang Raja Tribuana, tetapi prilaku seperti itu lebih layak dikatakan seperti Denawa (raksasa). Ajaib! Seketika itu juga dari mulut Hyang Jagatnata tumbuh taring menyerupai raksasa, dan sejak saat itu kutukan Hyang Tunggal kembali ia jalani, dan namanya kini bertambah menjadi Sanghyang Randuana. Namun rasa yang sudah terlanjur membakar birahinya pun telah keluar menjadi benih bersama dengan kutukan Dewi Uma. Benih dari Sanghyang Jagatnata jatuh ditengah samudralaya, benih itu terus tenggelam diantara gelapnya dasar samudralaya.
Sekembalinya ke Suralaya, Sanghyang Jagatnata marah atas perlakuan istrinya yang telah menyupatai dirinya hingga bertaring. Pertengkaran diantara mereka pun terjadi sangat sengit sehingga tanpa sadar Sanghyang Jagatnata sendiri mengatakan bahwa perilaku Dewi Uma yang suka mengutuk suaminya itu juga tidak ubahnya seperti seorang raksesi (raksasa wanita). Seketika itu juga wajah dan penampilan Dewi Uma yang tadinya cantik mempesona berubah menjadi seorang raksesi. Dewi Uma menjerit menangis ketika melihat perubahan pada jasmaninya. Sanghyang Jagatnata menyesal atas ucapannya itu. Pada kesehari-hariannya Dewi Uma hanya bisa menangis meratapi nasibnya, ia selalu mengurung diri di dalam kamarnya, tidak mau menampakan diri lagi dibalai agung Jonggring Salaka. Dampar kencana mercupunda yang indah itu terasa kosong, seperti ada sesuatu yang hilang yang menjadi pelengkap keindahannya. Sanghyang Jagatnata hanya bisa merenung menyesali diri, ia merasa sangat bersalah atas peristiwa tersebut. Ia lalu bermujasmedi meminta petunjuk ayahandanya di Sunyaruri. Dalam petunjuk yang ia dapat dari ayahandanya, ia diperintahkan untuk datang ke negeri Merut, menjelaskan persoalan yang telah menjadi kemelut anatara dirinya dengan Dewi Uma. Dan Sanghyang Jagatnata diperintahkan oleh Hyang Tunggal untuk meminta salah satu buah ranti yang telah matang yang terletak di dalam taman istana Merut.
Setelah mendapat petunjuk dari ayahandanya, Sanghyang Jagatnata dengan mengendarai lembu Andini melesat menuju negeri Merut. Di istana Merut ia disambut gembira oleh Prabu Umaran dan Dewi Nurweni, walau kedatangan Jagatnata itu sebenarnya dirasakan ganjil oleh mereka. Sanghyang Jagatnata dengan sangat menyesal menceritakan peristiwa yang telah menimpa dirinya dan Dewi Uma. Prabu Umaran dan Dewi Nurweni terkejut, mereka sangat terpukul mendengar penuturan menantunya. Akan tetapi Sanghyang Jagatnata juga menceritakan petunjuk yang telah ia dapat dari ayahandanya, maka ia meminta kepada Prabu Umaran untuk memberikannya buah ranti sesuai dengan petunjuk yang ia dapat. Mereka lalu menuju taman yang di dalamnya terdapat pohon ranti. Sanghyang Jagatnata kemudian memetik salah satu buah ranti yang sudah matang. Dalam genggaman tangannya, buah ranti itu dibelah menjadi dua. Secara ajaib buah ranti yang terbelah itu dari dalamnya keluar sinar yang kemudian membentuk sosok tubuh dan berubah menjadi seorang gadis jelita yang rupanya sangat mirip dengan Dewi Uma, membuat Prabu Umaran dan Dewi Nurweni menjadi terkejut bercampur gembira. Kemudian gadis jelmaan buah ranti itu diberinama Dewi Ranti atau Umaranti (Parwati), ia kemudian diangkat anak oleh Prabu Umaran dan Dewi Nurweni, lalu diserahkan kepada Sanghyang Jagatnata untuk dijadikan istrinya menggantikan Dewi Uma.
Kini Dewi Ranti menggantikan posisi Dewi Uma yang sudah tidak ingin lagi tampil di paseban agung Jonggring Salaka. Dewi Ranti sangat patuh dan setia kepada Hyang Jagatnata dan Dewi Uma, sehingga Dewi Uma menjadi sangat sayang kepada Dewi Ranti. Dari pernikahannya dengan Dewi Ranti, Sanghyang Jagatnata dikaruniai beberapa orang putra, yaitu Batara Cakra (Sakra), Batara Mahadewa, Batara Asmara, dan Batara Aswin (dewa kembar). Ke-empat putra Sanghyang Jagatnata ini menjadi pengurus tatanan Suralaya, mereka tinggal di kahyangan Mayaretna.
7
Batara Kala
Gelombang air laut bergulung-gulung disertai suaranya yang membahana di perairan samudra. Gelombangnya menderu dan menghempas tepian serasa ingin memecahkan batu-batu karang yang berjajar menghalangi. Nun jauh di dasar samudra telah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan kehidupan alam di bawah laut. Ya! Rahsa (Kama) yang salah, yang terjadi atas perbuatan Sanghyang Jagatnata saat ingin melambangkan asmara kepada Dewi Uma itu kini menjelma menjadi sosok bayi raksasa yang kian hari kian bertambah besar pertumbuhannya. Jelas sudah bahwa bayi raksasa itu tidak berasal dari persemayaman rahim dewi Uma, tetapi samudralah yang menjadi persemayaman rahimnya. Ia hidup dan dibesarkan dari perburuan yang ditangkapnya dari kehidupan satwa laut.
Syahdan di kahyangan Mutiara yang terletak di dasar Samudra, Sanghyang Baruna yang telah mendapat laporan dari para rakyatnya yang berasal dari bangsa satwa laut, bahwa di perairan samudra telah terjadi perusakan yang dilakukan oleh sesosok bayi raksasa yang setiap hari selalu memangsa satwa-satwa laut hingga tubuhnya menjadi bertambah besar. Mendengar pengaduan rakyatnya, Sanghyang Baruna merasa khawatir kalau-kalau nanti lama kelamaan rakyatnya akan habis dijadikan santapan si raksasa, maka ia pun segera menghadang si raksasa yang sedang memburu ikan-ikan di dasar lautan. Perang tanding terjadi antara Hyang Baruna dengan raksasa muda yang bertubuh tinggi besar. Hyang Baruna mengeluarkan segala macam kesaktian dan pusaka-pusakanya untuk dapat menaklukan si raksasa, namun kesaktian dan pusaka Hyang Baruna tidak mampu membinasakan si raksasa. Tubuhnya sangat kekar dan kuat, kebal walau dihujani senjata-senjata pusaka. Merasa tidak sanggup membinasakannya, Hyang Baruna pun segera melesat ke permukaan laut dan terus terbang menuju kahyangan Suralaya. Sanghyang Jagatnata untuk mengamankan kehidupan rakyatnya di dasar laut. Dihadapan Sanghyang Jagatnata, Hyang Baruna menceritakan kejadian yang dialami rakyatnya di dasar laut. Ia meminta bantuan Hyang Jagatnata untuk menangkap dan membinasakan raksasa tersebut.
Sanghyang Jagatnata memerintahkan Batara Narada untuk mengerahkan pasukan kadewatan Suralaya dalam membantu Hyang Baruna dengan tujuan membinasakan raksasa yang telah dianggap membuat kekacauan di dasar samudra. Batara Narada segera memanggil Batara Brahma, Indra dan Bayu untuk memimpin pasukan kadewatan. Mereka lalu melesat menuju samudra, namun sebelum mereka terjun ke dasar samudra, mereka dikejutkan oleh sosok tinggi besar yang sedang memburu manusia di daratan, yang setelah tertangkap lalu dimakannya hidup-hidup. Ternyata sosok tinggi besar yang tidak lain adalah raksasa ganas yang baru saja bertempur dengan Hyang Baruna, sebenarnya telah melakukan pengejaran terhadap raja satwa laut itu, sehingga ia kini berada di daratan dan mulai memangsa mahluk-mahluk hidup yang ada di daratan. Melihat kejadian tersebut, Batara Narada yang setelah diberi tahu oleh Hyang Baruna, bahwa sosok tinggi besar itulah yang telah membuat kerusakan di alam bawah laut, maka Hyang Narada memerintahkan pasukan para dewa untuk segera mengepung, menangkap dan membunuhnya.
Dari atas angkasa pasukan dewata secara serentak menggempur si raksasa. Hujan pukulan, tusukan dan sabetan senjata-senjata para dewa menghunjam secara bertubi-tubi. Akan tetapi sungguh dahsyat raksasa itu, jangankan hancur lumat, sedikit pun tubuhnya tidak cidera oleh pusaka dan berbagai macam pukulan sakti para dewa. Sebaliknya, si raksasa balas menyerang dan mengamuk membuat pasukan bala tentara kadewatan porak poranda. Banyak pasukan dewa yang jatuh terpelanting dan terpental jauh oleh terjangan serangan si raksasa. Pertempuran itu ibarat seperti manusia dengan capung-capung yang mengelilinginya.
Diantara awan yang berarak, Batara Indra segera membidikan pusaka Chandrasa ke arah si raksasa. Panah melesat disertai suara bagaikan halilintar menggelegar menghantam tepat pada sasarannya. Reksa Denawa itu jatuh terpelanting oleh pusaka Indra, namun dengan tertatih-tatih ia kembali mencoba berdiri, dan sebelum ia bisa berdiri dengan tegak, Batara Bayu sudah menerjangnya dari angkasa. Si raksasa pun kembali jatuh terbanting diantara bebatuan cadas menimbulkan suara bergemuruh seperti longsornya sebuah bukit. Batara Bayu dengan cepat menerjang dan memukulkan Pancanakanya yang berkilat. Kuku sakti Bayu yang menurut cerita dapat merobohkan gunung sekalipun itu menghunjam tubuh si raksasa secara bertubi-tubi, namun memang sangat luar biasa tubuh raksasa itu sangat kebal sehingga Pancanaka Batara Bayu seperti tidak memiliki tuah. Raksasa itu sangat marah, ia pun bangkit dan melakukan perlawanan kepada Batara Bayu. Mereka saling tangkap, saling dorong dan saling banting. Tubuh keduanya tidak seimbang, si raksasa tubuhnya jauh lebih besar dari Batara Bayu. Walau Batara Bayu memiliki kekuatan Bayubajra, tapi si raksasa dengan kuat dapat menandinginya. Ia pun dapat melemparkan Batara Bayu hingga jatuh terpental. Batara Bayu segera mengeluarkan daya kesaktiannya berupa aji saipiangin, seketika angin topan praha keluar dari tubuh Batara Bayu dan menghantam musuhnya. Si raksasa tidak kalah hebat, pukulan angin topan Batara Bayu ditabraknya hingga angin itu menghantam tuannya sendiri. Batara Bayu terpental jauh terhantam pukulannya sendiri. Batara Brahma tidak tinggal diam, ia bertiwikrama hingga tubuhnya mengeluarkan api dahsyat yang kian bertambah besar kobarannya. Api itu lalu dipukulkannya ke arah si raksasa. Tidak kalah hebat si raksasa pun mengeluarkan api dari mulutnya sehingga dua pukulan sakti yang berupa api beradu di udara. Dua kekuatan dahsyat yang saling bertabrakan itu menggelegar, panasnya menghampar di permukaan bumi. Batara Brahma sendiri sempat tersurut mundur menghindari panasnya.
Dalam keadaan masih diliputi amarah, Batara Brahma hendak mengeluarkan lagi kesaktiannya, namun ketika itu Batara Narada segera mencegahnya. Narada meminta Brahma, Indra, Bayu dan seluruh pasukan kadewatan agar ditarik mundur kembali ke Suralaya. Sebab menurut Batara Narada percuma menghadapi raksasa itu, ia sangat tangguh, tidak cidera oleh pusaka dan kesaktian para dewa. Maka, seluruh pasukan kadewatan segera melesat terbang kembali menuju Suralaya. Si raksasa yang sudah terlanjur murka tidak membiarkan musuhnya melarikan diri, ia terus mengejar pasukan para dewa yang menuju kahyangan Suralaya.
Sesampainya di Suralaya, Batara Narada menceritakan semua kejadian yang dialaminya beserta dengan para dewa saat menghadapi kesaktian raksasa yang telah dianggap menjadi perusak marcapada itu kepada Sanghyang Jagatnata. Tiba-tiba kahyangan Suralaya digegerkan oleh kedatangan sesosok raksasa yang tinggi besar. Raksasa yang tidak lain adalah raksasa ganas yang baru saja dihadapi oleh pasukan para dewa itu kini telah menapakan kaki di kahyangan Suralaya. Sanghyang Jagatnata yang sudah memahami siapa sebenarnya mahluk raksasa tersebut segera keluar dari istana Jonggring Salaka untuk menghadapinya. Dihadapan Sanghyang Jagatnata, raksasa itu hendak mengamuk dan melancarkan serangan dahsyat, tapi Sanghyang Jagatnata telah lebih dulu melambarinya dengan aji Kemayan. Raksasa itu tidak kuat menahan kesaktian Sanghyang Jagatnata, tubuhnya limbung dan jatuh. Ia menggeram dan meraung memohon ampun. Tubuhnya si raksasa lemah lunglai tidak berdaya. Dihadapan para dewa, Sanghyang Jagatnata segera menghunus pusaka Kalaminta. Ia berniat membunuh si raksasa dengan pusakanya, tiba-tiba Sanghyang Ismaya datang dan melarang Sanghyang Jagatnata yang ingin membunuh si raksasa. Ia beralasan bahwa tidak pantas bagi seorang Raja Tribuana melakukan pembunuhan terhadap mahluk yang sudah tidak berdaya. Apalagi Hyang Ismaya menyindir, kalau memang si raksasa dianggap sebagai perusak dan harus dimusnahkan, kenapa tidak sekalian dimusnahkan dengan biangnya (ayahnya). Sanghyang Jagatnata merasa malu mendengar sindiran Hyang Ismaya, lalu ia mencabut dua taring si raksasa yang menjadi keganasannya. Taring dalam genggaman Sanghyang Jagatnata berubah menjadi pusaka yang diberi nama Kalanadah. Lalu Hyang Jagatnata memulihkan kembali kekuatan si raksasa dan diakuinya sebagai putranya dan di beri nama batara Kala.
Saat itu juga Batara Kala diberi pakaian kadewatan dan diperkenankan tinggal di kahyangan Suralaya bersama dewa-dewa lainnya. Dan Sanghyang Jagatnata menyuruh Batara Kala untuk dapat membiasakan diri memakan makanan yang layak seperti makanan para dewa lainnya.
Pada kehidupan sehari-harinya Batara Kala yang kini tinggal di kahyangan Suralaya merasa bosan dengan kehidupan lingkungan kahyangan. Ia selalu merasa lapar, sebab selain aturan-aturan jatah makan yang ia peroleh juga makanan yang dimakan tidak sesuai dengan seleranya. Akhirnya Batara Kala menghadap ayahandanya, Sanghyang Jagatnata untuk mengijinkan dirinya kembali ke marcapada. Ia merasa tidak betah tinggal dilingkungan kahyangan, apalagi para dewa dan dewi tidak ada yang ingin berteman dengannya. Karena merasa kasihan Sanghyang Jagatnata mengijinkan Batara Kala untuk kembali ke marcapada. Namun sebelumnya Sanghyang Jagatnata meruat Batara Kala dengan gambar Kalacakra di keningnya. Ia berpesan kepada Batara Kala, bahwa siapa saja yang mampu membaca lambang yang ditorehkan di kening Batara Kala, maka mereka tidak boleh dibunuh, sebab mereka adalah kerabat para dewa di Suralaya dan merupakan utusan Sanghyang Jagatnata. Kemudian Sanghyang Jagatnata kembali memberi pesan agar Batara Kala tidak asal memakan makanan yang ada di marcapada. Adapun kodratnya yang sudah gemar memakan makanan yang bernyawa, hendaknya dibunuh terlebih dahulu sebelum dimakan. Sanghyang Jagatnata memberikan pusaka Kalanadah kepada Batara Kala untuk membunuh setiap korbannya yang hendak dimakan. Dan aturan-aturan lainnya yang dibuat oleh Sanghyang Jagatnata untuk Batara Kala, hal ini dimaksudkan agar kelak Batara Kala tidak memusnahkan kehidupan di marcapada. Maka, Sanghyang Jagatnata memberi ijin kepada Batara Kala untuk memakan mangsanya dengan syarat adalah mereka yang sudah ditentukan untuk dijadikan mangsa, yaitu :
1. “Julung caplok” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbenam. Selain menjadi jatah Batara Kala, anak “Julung Caplok” juga merupakan cadangan makanan harimau.
2. “Julung kembang” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit.
3. “Ontang anting” yaitu anak tunggal puteri atau putera.
4. “Kendana-kendidi” yaitu dua bersaudara putera dan puteri seayah-seibu.
5. “Uger-uger lawang” yaitu dua bersaudara putera semua seayah-seibu.
6. “Kembang sepasang” yaitu dua bersaudara puteri semua seayah-seibu.
7. “Pandawa” yaitu lima bersaudara putera semua seibu-seayah.
8. “Pandawi” atau “kembang setaman” yaitu lima bersaudara puteri semua seibu-seayah.
9. “Pancuran kapit sendang” yaitu tiga bersaudara terdiri puteri-putera dan puteri seayah-seibu.
10. “Sedang kapit pancuran” yaitu tiga bersaudara terdiri putera-puteri-putera seayah-seibu.
11. “Runta” yaitu anak yang hari dan tanggal kelahirannya sama dengan ayahnya.
12. Empat orang bersaudara putera semua seayah-seibu.
13. Empat orang bersaudara puteri semua seayah-seibu.
14. Lima bersaudara terdiri seorang putera, empat puteri seayah-seibu.
15. Lima bersaudara terdiri seorang puteri, empat putera seayah-seibu.
Begitulah akhirnya Batara Kala dibatasi jatah makannya dan diharuskan membunuh mangsanya terlebih dahulu sebelum ia makan.
Sang surya beranjak lingsir, cahaya yang keemasan tersaput awan lembayung yang berarak. Senja berganti malam, kahyangan Suralaya kembali diliputi keheningan. Hanya suara-suara satwa kahyangan yang berderik menyatu dengan suara gending lokananta yang terdengar lirih, alunan yang mendayu merdu.
Disaat para dewa dan dewi bercengkrama dalam wisma mereka, saat para batara dan batari ber asyik masyuk di peraduan mereka, nun disalah satu sudut taman kahyangan yang hanya di terangi oleh sinar kunang-kunang yang indah, Hyang Ismaya duduk merenung seorang diri. Sebentar lagi ia akan menjalani tugasnya turun ke marcapada meninggalkan tanah pusaka yang telah melahirkannya, Suralaya. Terlintas dalam pikirannya tentang saudaranya, Hyang Antaga yang telah lebih dulu turun ke marcapada, entah bagaimana nasibnya disana. Saat Hyang Ismaya masih termenung, tiba-tiba seberkas cahaya menjelma dihadapannya. Cahaya itu lamat-lamat berubah menjadi sosok Sang Hyang Tunggal. Sang ayah pun menanyakan perihal yang menjadi lamunan putranya. Ia menanyakan keteguhan hati putranya, apakah sang putra merasa berat hati menjalani tugas yang akan diembannya.
Sang putra merasa ikhlas dengan apa yang telah dihadapinya sebagai ujian, namun dalam nada bersenda gurau ia menyindir keadaan rupanya yang telah tidak lagi rupawan. Wujudnya kini sangat jauh berbeda dengan wujudnya yang terdahulu, buruk rupa dan berkulit hitam legam. Hyang Tunggal menjelaskan bahwa tubuh Hyang Ismaya yang kini berubah hitam mempunyai makna tidak berubah; menyamarkan yang sejatinya, yang bermaksud ‘ada’ itu ‘tidak ada’, sedangkan yang ‘tidak ada’ diterka bukan, dan yang ‘bukan’ diterka ‘ya’. Dengan demikian sebenarnya Hyang Tunggal telah menunjuk Ismaya sebagai putra yang tertua secara sifat diantara kedua saudaranya, Hyang Antaga dan Manikmaya. Dan hitam kulit Ismaya sendiri dilambangkan sebagai misteri, ketidak tahuan mutlak, yaitu ketidak tahuan semua mahluk kepada Sang Penciptanya. Maka, Hyang Ismaya dalam tugasnya nanti di marcapada harus mengganti nama sebagai Semar Badranaya (Semar = Haseming Samar-samar atau Penuntun Hidup) dan Badra (Bebadra = Membangun dari dasar) dan Naya (Nayaka= Utusan).
Hyang Ismaya mengajukan permintaan kepada Sanghyang Tunggal, bahwa di marcapada nanti ia meminta seorang saksi dalam menjalankan tugasnya. Ia tidak menginginkan saksi yang bukan merupakan bagian dari jati dirinya, ia akan mencipta seorang saksi yang bersal dari dirinya sendiri. Kelak di marcapada nanti selain ditemani oleh Petruk dan Gareng, Semar atau Hyang Ismaya menciptakan seorang saksi yang berasal dari bayangannya, dan saksi itu akan diberi nama Bagong.
(Bersambung )
Sumber :
- Perpustakaan PKA
- Museum Wayang Indonesia – e Wayang.org
- Naskah Purwacarita – Bagian Naskah Prosa Caruban
- Naskah Wayang Purwa –
- Wikipedia : Syith ,Wayang Purwa ,Ramayana dan Mahabarata
- http://www.kalangsunda.net & http://wayang.wordpress.com/
- http://e-wayang.org
- http://www.facebook.com/pages/Kumpulan-Cerita-Wayang