Seperti Rajawali …..

Temanku pernah berbicara kepadaku

Rajawali dikenal sebagai burung petarung, tangguh, tegar dan independen, serta memiliki tingkat disiplin dan kesetiaan yang tinggi. Itu sebabnya beberapa lembaga dan negara menggunakannya sebagai simbol, lambang atau bahkan dasar negara; Amerika, Inggris, Indonesia, Harley Davidson Club, Militer dll

Berikut adalah beberapa fakta ilmiah hasil survey terhadap salah satu species Rajawali yang hidup di belantara tropis, yang validitas keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan.

Saat setiap Rajawali jantan berusia dewasa dan ingin mendapatkan pasangan hidupnya, ia akan melewati beberapa tahapan;

1. Rajawali Jantan harus berduel dengan jantan lainnya, siapa yang keluar jadi pemenang maka ia-lah yang akan berpeluang menjadi calon pasangan sang betina.

2. Rajawali betina akan membawa bilah kayu yang memiliki berat tiga kali lipat dari tubuhnya ke ketinggian maksimum di ikuti oleh Rajawali jantan, kemudian menjatuhkannya secara tiba-tiba untuk ditangkap oleh Rajawali jantan. Selain ketangkasan, juga butuh kecepatan yang tinggi untuk dapat mencengkram bilah kayu tersebut.

3. Sang Betina kembali melakukan uji ketangkasan yang sama, ia terbang ke ketinggian tertentu, dan kali ini dalam paruhnya ia membawa sehelai daun kering, melepaskannya tiba-tiba. Daun kering tertiup angin dengan arah dan kecepatan yang jauh lebih sulit diduga kemana arahnya, sang Jantan harus dengan sigap menangkap dengan paruhnya, sebelum daun kering itu lenyap, tersangkut di pepohonan, atau bahkan jatuh ke tanah.

4. Ketika sang betina akan melahirkan, sang jantan harus menyiapkan ‘rumah’ terindah bagi anak-anaknya. ‘Rumah’ itu harus terbuat dari bahan-bahan terbaik danharus berada di tempat yang paling tinggi di wilayah jelajah kekuasaannya. ‘Rumah’ itu harus pula terletak di tepi jurang yang paling curam. Sebuah tempat yang nyaman dan aman dari predator sekaligus sebagai tempat penempaan anak-anaknya kelak. (sebagai catatan; semakin tinggi sebuah tempat maka semakin tinggi angin berhembus, dan semakin rendah suhunya)

5. Sementara sang betina dengan paruhnya menyuapi anak-anak yang baru lahir, sang Jantan wajib mencarikan makanan terbaik bagi anaknnya, makanan yang bukan bangkai binatang lain, bukan pula biji-bijian yang sudah jatuh ke tanah.

6. Ketika si anak Rajawali mulai belajar berjalan dan terbang, ia akan terpeleset jatuh dari sarang yang berada pada tempat tertinggi dan jatuh ke kecuraman jurang, sang Jantan akan membiarkannya. Baru kemudian sang Jantan akan menukik tajam untuk menyelematkan dan mencengkram tubuh sang anak jika hampir menghempas di atas bebatuan dasar jurang. Berulang terus ia lakukan seperti itu, sampai si anak akhirnya bisa terbang sendiri. Sejak itulah si anak dibiarkan hidup bebas dan mandiri.

7. Ketika si Jantan berusia sekitar 30 tahunan, saat tubuhnya sudah mulai rapuh, ia tahu bahwa umurnya tak lagi panjang, di pagi hari si Jantan akan terbang melayang-layang mencari tempat tertinggi bahkan pencarian dilakukan sampai keluar wilayah jelajahnya. Tempat yang dingin, aman dan terbebas dari rambahan binatang pemangsa.
Di Sore hari ia akan menuju ke ketinggian tempat yang telah di temukan, menelungkupkan tubuhnya, ia lindungi kepala dengan sayapnya, ia cengkram kuat tanah atau batu yang dipijaknya, dan esok hari ia akan ditemukan telah mati. Sendiri, di udara dingin tapi juga di ketinggian.

Andaikan Rajawali adalah Garuda,Sudah tentu ia mampu bertarung dengan Rajawali dari belahan benua bumi lainnya yang tak takut sebuah alas piring demi keamanan,tak perlu saya membahasnya lebih jauh..karena Rajawali bukan Garuda dan “…Garuda bukan burung Perkutut…”,petik Iwan fals dalam sebuah syair lagunya awal 8O-an

~ oleh sandiasma di/pada Januari 15, 2008.

Tinggalkan Balasan