<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Karatagan..........</title>
	<atom:link href="http://sandiasma.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sandiasma.wordpress.com</link>
	<description>sandiasma.wordpress.com</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Feb 2011 15:32:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sandiasma.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Karatagan..........</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sandiasma.wordpress.com/osd.xml" title="Karatagan.........." />
	<atom:link rel='hub' href='http://sandiasma.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Unsur  Ambience Musik  didalam Media Massa</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/13/unsur-pendidikan-ambience-musik-didalam-media-massa/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/13/unsur-pendidikan-ambience-musik-didalam-media-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 13:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Bagus Soetrama Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya pada sebuah artikel dalam jurnal yang ditulis seorang produksi radio kawakan. Dia bertutur tentang penjelajahan ruang suara, dimana empati sebenarnya terjadi ketika seseorang tersebut sedang mendengarkan, merasakan, memahami dll …….. Berlatar belakang &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/13/unsur-pendidikan-ambience-musik-didalam-media-massa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=54&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagus <a href="//www.youtube.com/embed/C6Bog1STe4Y&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;">Soetrama</a><br />
</strong></p>
<p>Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya pada sebuah artikel dalam jurnal yang ditulis seorang produksi radio kawakan. Dia bertutur tentang penjelajahan ruang suara, dimana empati sebenarnya terjadi ketika seseorang tersebut sedang mendengarkan, merasakan, memahami dll ……..</p>
<p>Berlatar belakang di Rumah Sakit, ketika ia tertabrak Taksi, “<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Brian_eno">Brian Eno</a>” menggali music yang dikenal dengan musik Ambience, dimana ia mencoba membentuk ruang Imaginasi melalui suara-suara lalu ia membentuk ruang imaginasi tersebut dengan cara menangkap ketertarikan kpd keteraturan suara dan dikolektif menjadi album pribadinya “<strong>DISCREET MUSIC</strong>”.</p>
<p>Music Ambien ini tidak berangkat dari notasi dan ritme, melainkan berangkat dari usaha membangun “Mood” ruang dengar, menyatukan antara musik dan ruang.</p>
<p>Aspek Horisontal (kiri–kanan dan kedalaman) serta Vertikal (ketinggian) dieksplorasi melalui jenis musik Ambient ini. Secara filosofis, musik ini akan menghadirkan ruang auditif.</p>
<p>Menurut <strong>Mark Pendergast</strong> (<strong>Peneliti Bidang Audio; Harvard Univ</strong>.) melalui bukunya “Ambient Century “, Brian Eno berperan penting dalam membawa musik Ambient ini kekalangan luas, walau John Cage &amp; Philip Glass telah melakukan eksperimen sebelumnya. <a href="http://www.erictamm.com/">Eric Tamm </a>merumuskan dalam buku harian Brian Eno (<strong>This Music, Ideas &amp; Vertical Color of Sound)</strong> bahwa musik Ambient mempunyai kontekstual dengan pengkondisian musik sebagai penerjemahan ruang yang Auditif.</p>
<p>Torbent Brandt mengembangkan Musik Ambien ini dalam program radio dan bentuk produksi Musik Ambien dalam dunia Radio lebih cenderung memasukan unsur-unsur suara dan bunyi sebagai Variabel dalam menciptakan ruang Pendengaran didalam menerjemahkan setiap program radio (musik program, Impromtu Drama, Spot Program, Iklan, PSA dll) dimana setiap pendengar akan diajak masuk dalam target sasaran radio itu didalam meraih segmentasinya .</p>
<p>Musik Ambien dalam dunia radio pun menjadi salah satu Variabel utama dalam perkembangan radio Program, selain musik dan suara/bunyi sebagai unsur Variabel Program yang sangat penting, Ambien ini dalam radio akan berkisar didalam ruang dengar pemirsa dan ruang pikirnya, lalu secara tidak sadar akan masuk ke kedalaman Human Interesting pendengar dan akan bermuara pada Human Intrusting, orang radio meminjam istilah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bertolt_Brecht">Bertolt Brecht </a>dikenal dengan istilah Teater Of mind, seperti apakah ?</p>
<p>Sekadar paparan, musik Ambient ini berkembang didalam Mood manusia dan diperkaya dengan ketajaman gelombang suara lalu berkomposisi dengan aturan musik kontemporer. Maka bila didalam unsur musik/lagu ada istilah Intro, Melody, Couplet, Reffrain, dll unsur Ambient akan lebih banyak muncul dalam keteraturan birama &amp; ritme yang akan mengakibatkan muncullah <strong>The Soul Sound of Music</strong>, atau nyawa Lagu , hingga lagu tersebut mempunyai kekuatan misi dari sang penyanyi, pencipta lagu maupun sang Arranger-nya.</p>
<p>Dan bila didalam ruang suara alam akan muncul suara alam yang dominan &#8211; lebih jelas terdengar ataupun tidak lebih jelas terdengar – harmonisasi pun akan muncul didalam ketidakteraturan atau terkait dengan birama-ritme tertentu selain ; suara keras – jelas -besar ; suara pelan – tidak jelas &#8211; lembut ; seperti suara angin yang berulang menerpa daun pohon, suara ombak menerpa pantai silih berganti, suara pesawat terbang ketika take off , atau suara palu memukul paku dll. Semua itu dikomposisi dalam aturan alam, bukan komposisi bilangan numerial harmonik (Aturan Not Balok) tapi naturalis harmonik (Suara Alam).</p>
<p>Pada awal dekade 70’n akhir dan diawal 80’ Ambien ini lebih mewarnai dalam  industri musik dan dibangun dalam ruang yang lebih luas seiring kemajuan di sektor industri lainnya baik industri film komersialisasi ataupun independent setidaknya industri musik Indie mempengaruhi music Ambien dalam pembangunan musik-musik dalam wacana yang lebih luas.Sebut saja <a href="http://http://id.wikipedia.org/wiki/Led_Zeppelin">Led Zepplin</a> dengan genre Glem Rock, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pink_Floyd">pink Floyd</a> dengan Psikadelik lalu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/U2">U2</a> dengan Joshua Tree  nya hingga Enya dengan genre Nordisk nya dan Kitaro dengan Japaness musik Instrument Illustrasi nya dan masih banyak lagi.</p>
<p>Seiring kemajuan tehnologi musik digital, Ambien musik ini akhirnya lebih banyak masuk kedalam Space Ruang yang lebih luas lagi dan memasuki fase berikutnya dalam  membangun ruang-ruang pikir emosi dan bentuk alternative dari sekedar musik illustrasi. seiring dengan itu Ambien musik ini membangun totalitas dalam ruang dimensi pendengarnya dalam bentuk-bentuk yang lebih moderat, tidak secara stigma keilmuan musik ini diterjemahkan dalam musikologi namun masuk ke ruangan industri digitalisasi.Sebut saja tehnologi recording telah membangun genre ini menjadi sektor industri yang mandiri ,dan media massa membangun musik Ambien ini menjadi wahana yang independent.</p>
<p>Pada akhirnya di Indonesia, gelombang Ambien ini membangun ruang baru dalam semua sektor yang didukung media massa,  dengan kebutuhan publik yang menggurita bentukan musik ini akhirnya lebih banyak hanya menjadi warna dalam illustrasi-illustrasi lain yang baru. dengan kemampuan digitalisasi Ambien ini diterjemahkan kesemua lini, tidak secara khusus lagi di Industri musik, kini  pada media massa khususnya media massa Elektronik , sebut saja Televisi, kini telah memasuki tahap yang Kritis, ibarat Ambien yang membangun emosi kini telah memasuki taraf dekontuksi, yang pada awalnya sebagai musik Kontemplasi bagi penikmatnya kini menjadi kontraproduktif  bagi pemirsanya, dengan tujuan mempengaruhi maka semua diberikan sebagai musik latar dari  informasi, kejujuran dan kebenaran yang memberikan wacana untuk sah  diberlakukan, dengan kepentingan maka tujuan akan tercapai, tanpa menimbangkan dampak pengaruh bagi setiap penikmatnya. Tanpa menutup mata, bahwa semua adalah fakta sebagai Human Intrusting namun Human interesting yang terjadi adalah efek yang akan membawa gelombang baru. Sayangnya, ini tidak dibangun signifikan dengan dasar-dasar setiap disiplin ilmu yang mendampinginya sehingga bisa jadi gelombang ini pada akhirnya akan dipahami Skeptis oleh setiap penikmatnya,selain mereka berpendapat bahwa ini sekedar Eksploitasi belaka.</p>
<p>Perkembangan Media yang semakin pesat sejalan dengan tehnologi menawarkan berbagai unsur yang „sexy‟ untuk di beli “yang mampu” , apakah akar kuat Audio yang mengusung konsep Bunyi dan Suara, Tuturan dan Ambien dalam konteks sejarahnya juga akan memberikan sajian alternative agar itu tetap menjadi Media yang mengusung ketidakberpihakan ?</p>
<p>Kembali kepada Khitah-nya , Program media yang berbasis Audio ataupun Audio sebagai efek yang ingin didapatkan-tentu akan menjadi sangat efisien &amp; efektif bila azas-azas yang paling mendasar mampu dikenalkan kepada khalayak ramai, Media massa yang kini tidak masuk lagi kebutuhan Luxuary tentu akan lebih mudah menjangkau apa yang akan ditawarkan oleh setiap Media massa yang mengusung Publik policy selain Aspek Hiburan menjadi tawaran imajinasi.</p>
<p>Audio yang mempunyai Kelebihan dan sekaligus Kekurangan nya tentu masih akan berkembang bersama tehnologi, Kelebihan suatu media Audio itu pun sekaligus kelemahannya, lalu kekurangannya itu adalah Kelebihannya.</p>
<p>Dalam dunia Produksi Audio , resonansi yang bergaung dalam ruang dengar dan ruang pikir selama ini yaitu “ Untuk mendapatkan hasil Audio yang diharapkan maka dapatkan sumber suara yang baik “ ,andaikata kita lepaskan resonansi ini dalam konteks media yang lebih luas tentu kita akan bertanya,  sudah tersediakah media penjelasan untuk apa setiap program itu ada dan dibuat ? apakah sajian setiap media akan memandu Pendengar-Pembaca dan Pemirsa ? tanpa kita harus berpikir keras untuk menjual kesenangan, kesedihan dan masih banyak lagi ?</p>
<p>Semoga kita tidak terhenti dengan pertanyaan dan pernyataan, bukan Utopia ….</p>
<p>Penulis adalah salah satu</p>
<p>Mantan karyawan Radio Swasta di Bandung,</p>
<p>Pelaku Audio &amp; Music Productions</p>
<p>dan Pembina Teater Kampus</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=54&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/13/unsur-pendidikan-ambience-musik-didalam-media-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang Purwa:</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/08/wayang-purwa/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/08/wayang-purwa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 10:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Studi Kajian Sejarah tentang Wayang Purwa: Latar belakang terjadinya keturunan para tokoh dalam Pewayangan Dalam Naskah Purwacarita dari Cerita Masyarakat Pulau Jawa Dikumpulkan dan Disusun oleh Soetrama S.T Triloka Mayapada Dalam purwacarita pewayangan ,wayang purwa merupkan bagian yang tak &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/08/wayang-purwa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=41&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align:center;">Sebuah Studi Kajian Sejarah tentang</p>
<p style="text-align:center;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Wayang Purwa:</span></em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Latar belakang terjadinya keturunan para tokoh dalam Pewayangan</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Dalam Naskah <em>Purwacarita dari Cerita Masyarakat Pulau Jawa</em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Dikumpulkan dan Disusun oleh Soetrama S.T </strong></p>
</div>
<p style="text-align:center;"><strong>Triloka Mayapada </strong></p>
<p>Dalam purwacarita pewayangan ,wayang purwa merupkan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kebudayaan manusia.Sebagai dedikasi manusia dalam perkembangan jaman dan kebudayaan sastra kuno, tokoh pewayangan ini dihidupkan dalam alam paralel dengan kehidupan manusia pada umumnya. Berkaitan dengan sejarah perkembangan kebudayaan di dunia, karya sastra ini membangun alurnya tidak lepas dari prikehidupan dan nilai-nilai yang dipahami oleh masyarakat kuno.Berawal dan berasimilasi dengan kebudayaan lokal genus maka Wayang membangun alur dalam wacana carita yang mendekati kisah Myth/Mitos atau Fabel/cerita rakyat. Maka alur itu membangun wacana yang beragam menyesuaikan kebutuhan masyarakat pada jamannya, berawal dari sejarah di utusnya Nabi Adam A.S ke bumi, maka logika Purwadaksi cerita Wayang Purwa adalah adanya keterkaitan hubungan Adam sebagai manusia pertama yang turun kebumi, yang selanjutnya ini berkembang menjadi masyarakat yang luas, hingga menjadi bangsa bahkan negara atau kerajaan.</p>
<p>Dikisahkan dalam Purwacarita ini bahwa keturunan Nabi Adam yang diangkat menjadi nabi hanya satu; <strong>Nabi </strong><strong>Syits</strong> (Set, dalam bahasa Ibrani; Sang Hyang Esis, dalam bahasa Jawa). <strong>Syith merupakan keturunan Adam yang lahir tunggal (semua anak Adam dilahirkan kembar) diturunkan Yang Maha Esa sebagai pengganti anak Adam yang terbunuh</strong>. Rupa <strong>Syith sangat mirip dengan rupa Adam dan menjadi satu-satunya manusia yang memiliki kebijaksanaan terhebat sepanjang masa</strong>.</p>
<p>Begitu mengasihinya Adam meminta pada Yang Maha Esa supaya kelak keturunan Syits diizinkan menjadi <strong>penguasa atas keturunan saudara-saudaranya</strong>. Saat berdoa, <strong>Malaikat </strong><strong>Ngajajil</strong><strong> (</strong><strong>Iblis</strong><strong>) ternyata mencuri dengar</strong>. Ngajazil paham, bila doa Adam akan selalu didengar dan dikabulkan Yang Mahaesa. Seketika itu pula, tumbuh keinginan Ngajazil untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah keturunan Syits.</p>
<p>Malaikat Ngajazil terus mengintai Syith dan menunggu kesempatan mencampurkan darah keturunannya. <strong>Maka ketika Syith menikah dengan </strong><strong>Dewi Mulat</strong><strong>,</strong> pada suatu malam, Dewi Mulat di-sirep, <strong>diambil Ngajazil, lalu keberadaannya digantikan putrinya</strong>, <strong>Dewi Dlajah</strong>, yang telah beralih rupa menjadi Dewi Mulat. Setelah dibuahi, Malaikat Ngajazil langsung mengangkat Dewi Dlajah dan mengembalikan Dewi Mulat.</p>
<p>Pada suatu pagi, Dewi Mulat melahirkan dua orang anak; <strong>satu berwujud laki-laki normal dan satunya berupa cahaya berkilauan (kasat mata)</strong>. Sore harinya Dewi Dlajah juga melahirkan, wujudnya berupa gumpalan darah yang berkilauan. Oleh Malaikat Ngajazil, gumpalan darah berkilauan itu disatukan cahaya berkilauan anak Dewi Mulat. Dari hasil penggabungan itu, muncullah seorang anak laki-laki yang cakap. Anak Dewi Mulat diberi <strong><em>nama </em></strong><a title="Sayid Anwas (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sayid_Anwas&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong><em>Sayid Anwas</em></strong></a>, sedang anak campuran Dewi Mulat dan Dewi Dlajah diberi nama <a title="Sayid Anwar (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sayid_Anwar&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong><em>Sayid Anwa</em></strong>r</a>.</p>
<p>Sayid Anwas maupun Sayid Anwar memiliki rupa yang sangat tampan. <strong>Sayid Anwas besar dalam perlindungan Adam</strong>, sedang <strong>Sayid Anwar besar dalam asuhan Ngajazil</strong>. Sebagai keturunan yang terberkati, keduanya memiliki kemampuan yang sama-sama hebat. Bedanya, <strong>Sayid Anwas gemar mempelajari </strong><strong>ilmu agama</strong><strong>, </strong>sedang <strong>Sayid Anwar gemar </strong><strong>tirakat</strong><strong> dan </strong><strong>bertapa</strong>.</p>
<p>Ketika Sayid Anwar dewasa, dia bertanya pada Dewi Dlajah tentang siapa ayah sejatinya. Maka diberitahulah Sayid Anwar bila dia merupakan keturunan Syith. Pada Dewi Dlajah dan Ngajazil, Sayid Anwar berpamitan untuk menjumpai sang ayah. Ketika berjumpa dengan Syith, terkejutlah sang ayah. Semula Syith tidak mau mengakui keberadaannya, tetapi setelah Yang Mahaesa membisikan mengenai asal-usal Sayid Anwar, barulah Nabi Syith menerima kenyataan itu.</p>
<p><strong>Sayid Anwas dan Sayid Anwar kemudian besar dalam asuhan Adam</strong>. Ketika melihat Sayid Anwas dan Sayid Anwar, Adam mulai paham bila <strong>Sayid Anwas kelak akan melahirkan keturunan yang </strong><strong>mempertahankan<a title="Mempertahankan ajaran agama (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mempertahankan_ajaran_agama&amp;action=edit&amp;redlink=1"> ajaran agama</a></strong>, sedang <strong>Sayid Anwar kelak akan melahirkan keturunan yang </strong><a title="Menghancurkan ajaran agama (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Menghancurkan_ajaran_agama&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>menghancurkan ajaran agama</strong></a>. Dalam asuhan Adam, <strong>Sayid Anwar melanggar pantangan dengan </strong><a title="Meminum air kehidupan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Meminum_air_kehidupan&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>meminum air kehidupan</strong></a><strong> </strong>/<strong>‘Tirta Kamandalu’</strong>yang membuat hidupnya abadi. Mengetahui itu, <strong>Nabi Adam marah lalu mengusir Sayid Anwar</strong>.</p>
<p>Sayid Anwar sangat kecewa dengan sang kakek lalu pergi berkelana. Di tengah perjalanan dia bertemu Malaikat <a title="Harut (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harut&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Harut</strong></a> dan <a title="Marut (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Marut&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Marut</strong></a> yang menyesatkannya menuju ke arah <strong>Sungai Nil dan bertemu dengan beberapa anak Adam lainnya.</strong> Dengan para paman, <strong>Sayid Anwar belajar ilmu melihat masa depan (semacam </strong><a title="Ilmu laduni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_laduni"><strong>ilmu laduni</strong></a><strong>) dan berbagai ilmu hebat lain</strong>. Usainya, Sayid Anwar melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju pulau kecil di antara Pulau <a title="Maldewa (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Maldewa&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Maldewa</strong></a><strong> dan </strong><a title="Laksdewa (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Laksdewa&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Laksdewa</strong></a>, yang bernama <a title="Lemah Dewani (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lemah_Dewani&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Lemah Dewan</strong>i</a>.</p>
<p>Di situlah Sayid Anwar melakukan <a title="Tapa brata (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tapa_brata&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>tapa brata</strong></a><strong> dengan cara melihat matahari mulai terbit sampai tenggelam</strong>. Setelah <strong>tujuh tahun bertapa, daya </strong><a title="Linuwih (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Linuwih&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>linuwih</strong></a><strong> pada Sayid Anwar terolah hebat sehingga bisa menghilang (kasat mata)</strong>. Dalam pengembaraannya di Lemah Dewani, Sayid Anwar banyak bertarung dengan para jin dan membuat mereka tunduk di bawah kekuasaannya. Mendengar kehebatan Sayid Anwar, lama-lama banyak kaum jin yang memilih mengabdi padanya.</p>
<p>Kejadian tersebut sangat mengganggu <a title="Prabu Nuradi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prabu_Nuradi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Prabu Nuradi</strong></a>, raja para jin yang menguasai <strong>Lemah Dewani</strong>. Prabu Nuradi melabrak Sayid Anwar dan mengajaknya bertarung. <strong>Dalam pertarungan itu Orabu Nuradi kalah dan tunduk pada kekuasaan Sayid Anwar</strong>. Prabu Nuradi memilih turun tahta lalu mengangkat Sayid Anwar menjadi raja para jin dan <strong>menyerahkan putrinya Dewi Nurini menjadi isteri <span style="text-decoration:underline;">Sayid Anwar</span></strong>. Ketika menjadi raja jin, Sayid Anwar mendapatkan gelar <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Prabu Nurcahya/Sanghyang Nurcahya</span></em></strong>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Prabu Nurcahya</span></strong><strong> yang telah memiliki kehidupan abadi</strong>, kemudian tinggal di tempat tinggi dan meminta izin pada Yang Mahaesa untuk mengangkat diri sebagai <strong>Tuhan Semesta Alam</strong>. <strong>Yang Maha Esa mengabulkan dan membiarkan Prabu <span style="text-decoration:underline;">Prabu Nurcahya</span> murtad dari ajaran keturunan Nabi Adam</strong>. Ketika menjadi raja, Lemah Dewani diubah nama menjadi <a title="Tanah Jawi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanah_Jawi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tanah Jawi</a> ( <a title="Tanah Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Jawa">Tanah Jawa</a>). <strong>Dari <span style="text-decoration:underline;">Prabu Nurcahya</span> lahirkan keturunan-keturunannya yang kemudian menjadi para dewa mulai dari Batara Guru sampai raja-raja di Tanah Jawi</strong>.</p>
<p>Di lain pihak<strong>, Sayid Anwas yang besar dalam asuhan Nabi Adam</strong>, keturunannya kemudian menjadi manusia-manusia terpilih <strong>mulai Nabi Idris, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad SAW</strong>.  <strong>Keturunan Sayid Anwas</strong> juga menumbuhkan <strong>suku-suku bangsa superior seperti bangsa Israil, bangsa Arab (semit), bangsa Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya</strong>. Di lain pihak <strong>keturunan Sayid Anwar</strong>, karena juga mendapatkan berkah dari doa Adam, juga banyak melahirkan bangsa-bangsa besar pada masa-masa kerajaan Jawa. <strong>Tidak sedikit raja-raja keturunan Sayid Anwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di permukaan bumi</strong>.</p>
<p><strong>Dalam perputaran peradaban, keturunan Sayid Anwar dan Sayid Anwas telah banyak yang bersilangan. Persilangan-persilangan inilah yang membuat kehidupan mereka tumpang-tinduh. Ada keturunan Sayid Anwas yang kemudian mengikuti jejak pemikiran Sayid Anwar yang sesat. Sebaliknya, tidak sedikit pula keturunan Sayid Anwar yang kembali pada ajaran nenek moyang mereka dan menganut agama yang diajarkan Adam serta leluhur mereka Nabi Syith.</strong> Terlepas dari semua itu, keturunan-keturunan Sayid Anwas maupun Sayid Anwar sama-sama memiliki darah superioritas yang membuat mereka banyak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa lainnya</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Triloka Marcapada </span></em></strong></p>
<p>I</p>
<p>Setelah lama berkuasa di Kahyangan <strong>Malwadewa</strong>, <strong>Sanghyang Nurcahya</strong> /<span style="text-decoration:underline;"> Prabu Nurcahya</span> yang telah dikarunia seorang putra dengan Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni), selanjutnya menyerahkan tahta Malwadewa kepada putranya yang telah beranjak dewasa, <strong>Sanghyang Nurrasa</strong>.<br />
Selain menyerahkan kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya juga menyerahkan seluruh kesaktian pusakanya, antara lain <strong>Cupu Manik Astagina</strong>, <strong>Lata Maosadi</strong> (Pohon Rewan / Pohon Kehidupan, Oyod Mimang, Kalpataru), dan <strong>Sesotya Retna Dumillah</strong>. Selanjutnya Sanghyang Nurcahya menciptakan <strong>Pustaka Darya</strong>, yang adalah serat (kitab) yang menyatu dalam <strong>budi</strong>. Serat (kitab) tersebut berwujud suara tanpa <strong>sastra</strong> (<strong>tanpa tulis</strong>). Membacanya dengan <strong>&#8220;cipta sasmita&#8221;</strong> (kemampuan batin). Berisi kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya sendiri. Setelah menyerahkan semuanya kepada Sanghyang Nurrasa, <strong>Sanghyang Nurcahya meraga menjadi satu dengan Sanghyang Nurrasa</strong>.<br />
Dalam kisahnya <strong>Sanghyang Nurrasa menikah</strong> dengan <strong>, raja jin Pulau Darma</strong> yang tidak lain adalah kakeknya. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia beberapa anak yang terlahir<strong> &#8220;Sotan&#8221;</strong> (suara yang samar-samar tanpa wujud). Masing-masing hanya terdengar suaranya saja. Suara-suara itu bersahut-sahutan seperti berebut siapa yang lebih tua.<br />
Sanghyang Nurrasa kemudian mengheningkan cipta, masuk ke alam gaib. Dengan kesaktiannya, ia bisa melihat wujud putra-putranya itu. Dua suara yang lebih besar berada di depan, dan yang satu bersuara kecil berada di belakang. Keduanya bisa terlihat setelah disiram dengan <strong>Tirtamarta Kamandalu</strong>. Sanghyang Nurrasa akhirnya menetapkan, bahwa yang di belakang lebih tua daripada yang di depan.<br />
<strong>Putra bersuara kecil</strong> yang ada di belakang itu diberi nama <strong>Sanghyang Darmajaka</strong>, sementara <strong>dua putra</strong> yang <strong>bersuara besar</strong> yang ada di depan, kembar diberi nama <strong>Sanghyang Wenang</strong> dan <strong>Sanghyang Wening</strong>. Peristiwa tersebut diceritakan terjadi pada tahun 2900 Matahari, atau tahun 2989 Bulan.<br />
Beberapa tahun kemudian, <strong>Dewi Sarwati</strong> melahirkan seorang putra lagi, kali ini berwujud <strong>&#8216;akyan&#8217;</strong> (jasad halus). Putra ketiga tersebut diberi nama <strong>Sanghyang Taya</strong>.<br />
Setelah putra-putranya dewasa, <strong>Sanghyang Nurrasa</strong> mewariskan semua ilmu kesaktiannya kepada mereka. Namun diantara mereka hanya <strong>Sanghyang Wenang yang paling berbakat sehingga terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Malwadewa</strong>. Sanghyang Nurrasa kemudian <strong>turun takhta dan menyatu ke dalam diri Sanghyang Wenang</strong>.</p>
<p><strong>II</strong></p>
<p>Sanghyang Wenang juga gemar bertapa dan olah rasa, sama seperti <strong>kakeknya</strong> dulu,<strong> Sanghyang Nurcahya</strong>. Segala macam tempat <strong>wingit</strong> ia datangi. Segala macam jenis tapa brata ia jalankan. Ia kemudian <strong>membangun istana yang melayang di udara</strong>, tepatnya di atas <strong>puncak Gunung Tunggal</strong>, sebuah <strong>gunung tertinggi di Pulau Malwadewa</strong>. Setelah <strong>300 tahun</strong> bertakhta, ia akhirnya dipertuhankan oleh <strong>seluruh jin di pulau tersebut</strong>.</p>
<p>Pada saat itu hidup seorang raja bangsa manusia bernama <strong>Prabu Hari</strong> dari <strong>kerajaan Keling di Jambudwipa</strong>. Ia marah mendengar ulah Sanghyang Wenang yang mengaku Tuhan tersebut. Tanpa membawa pasukan ia datang menggempur <strong>Kahyangan Pulau Malwadewa</strong> seorang diri. Perang adu kesaktian pun terjadi. Dalam pertempuran itu <strong>Prabu Hari akhirnya mengakui keunggulan Sanghyang Wenang</strong>.</p>
<p><strong>Prabu Hari</strong> kemudian <strong>mempersembahkan putrinya</strong> yang bernama <strong>Dewi Sahoti</strong> sebagai <strong>istri Sanghyang Wenang</strong>. Dari perkawinan itu lahir seorang putra berwujud <strong>akyan</strong>, <strong>yang diliputi cahaya merah, kuning, hitam, dan putih</strong>. Setelah <strong>dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu</strong>, <strong>keempat cahaya</strong> dalam tubuh bayi itu bersatu. <strong>Bayi tersebut kemudian menjadi sosok berbadan rohani yang memancarkan cahaya</strong>. Putra pertama <strong>Sanghyang Wenang</strong> itu diberi nama <strong>Sanghyang Tunggal</strong>. Peristiwa ini terjadi pada tahun <strong>3500 Matahari</strong>.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian <strong>Dewi Sahoti melahirkan bayi kembar dampit</strong>, laki-laki-perempuan, yang <strong>keduanya juga berwujud akyan</strong>, dengan diliputi cahaya. Keduanya kemudian dimandikan dengan <strong>Tirtamarta Kamandalu</strong> dan diberi nama oleh sang ayah. Yang <strong>laki-laki diberi</strong> nama <strong>Sanghyang Hening</strong>, sementara yang <strong>perempuan</strong> diberi nama <strong>Dewi Suyati</strong>.</p>
<p>Sementara itu, perjalanan kehidupan <strong>kakak kandung Sanghyang Wenang</strong>, yaitu <strong>Sanghyang Darmajaka</strong> telah menjadi <strong>raja di negeri Selong</strong>. Sanghyang Darmajaka mempunyai istri bernama <strong>Dewi Sikandi</strong>, <strong>putri Prabu Sikanda dari Kerajaan Selakandi</strong>. Kerajaan ini terletak di <strong>Tanah Srilanka</strong>.</p>
<p>Dari perkawinan tersebut Sanghyang Darmajaka mendapatkan lima orang anak, yaitu <strong>Dewi Darmani, Sanghyang Darmana, Sanghyang Triyarta, Sanghyang Caturkaneka, dan Sanghyang Pancaresi</strong>.</p>
<p><strong>Sanghyang Darmajaka</strong> kemudian <strong>berbesan </strong>dengan <strong>Sanghyang Wenang</strong>, yaitu melalui <strong>pernikahan Dewi Darmani</strong> dan <strong>Sanghyang Tunggal</strong>. Sanghyang Tunggal sendiri kemudian menjadi <strong>raja Keling</strong>, menggantikan <strong>sang kakek, Prabu Hari</strong>.</p>
<p>III</p>
<p>Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Darmani putri Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) raja Kahyangan Keling (negeri Selong) yang tidak lain adalah kakak kandung Sang Hyang Wenang sendiri. Lalu <strong>Sang Hyang Tunggal dinobatkan menjadi raja di Kahyangan Keling menggantikan Sang Hyang Darmajaka</strong>. Dari perkawinannya dengan <strong>Dewi Darmani</strong>, Sang Hyang Tunggal dikaruniai <strong>beberapa orang anak </strong>dalam <strong>wujud &#8216;akyan&#8217;</strong> (jasad halus) mereka adalah : <strong>Sang Hyang Rudra</strong> / Dewa Esa, <strong>Sang Hyang Dewanjali</strong> dan <strong>Sang Hyang Darmastuti</strong>.<br />
<strong>Sang Hyang Tunggal yang gemar membaca Serat (kitab) Pustaka Darya yang berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis) itu menjadi tertarik dengan kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya (kakek buyutnya)</strong>. Ia memutuskan untuk meniru sang <strong>kakek buyut, yaitu bertapa</strong> untuk mencapai cita-citanya menjadi penguasa di <strong>tiga lapisan dunia (Tribuana</strong> / Triloka<strong>). Kahyangan Keling</strong> pun ia serahkan kepada putera sulungnya yaitu <strong>Sang Hyang Rudra</strong>.<br />
<strong>Sang Hyang Tunggal</strong> kemudian bertapa tidur di atas sebuah <strong>Batu Datar</strong>. Begitu heningnya ia bertapa, ketika terbangun ia telah berada di sebuah istana indah di dasar samudera. Tanpa sadar sebenarnya <strong>Sang Hyang Tunggal</strong> telah diculik oleh <strong>raja siluman</strong> kepiting bernama <strong>Sang Hyang Rekatama</strong> (Sang Hyang Yuyut) untuk dinikahkan dengan putrinya. Putri Sang Hyang Rekatama yang bernama Dewi <strong>Wirandi</strong> (Dewi Rekatawati) mengaku pernah bertemu dengan Sang Hyang Tunggal di alam mimpi, dan jatuh hati kepadanya. Karena itu adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya, maka Sang Hyang Tunggal menerima lamaran tersebut.<br />
Sang Hyang Tunggal lalu membawa Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) ke istana Jonggring Salaka (Kahyangan Suralaya) di gunung Tengguru (Himalaya) untuk mendapat restu dari ayahnya. Kemudian Sang Hyang Wenang menyerahkan Kahyangan Suralaya kepada Sang Hyang Tunggal. Dan lalu Sang yang Wenang mokswa, tinggal di swargaloka awang-uwung kumitir.<br />
Sang Hyang Tunggal kini bersemayam di Kahyangan Suralaya bersama kedua istrinya, Dewi Darmani dan Dewi Wirandi. Saat itu Kahyangan Suralaya masih belum berpenghuni lain selain mereka bertiga.<br />
Pada suatu ketika, Dewi Wirandi yang hamil besar itu melahirkan, namun yang dilahirkan oleh sang dewi bukanlah sesosok bayi, tapi ia melahirkan sebutir telur.<br />
Sang Hyang Tunggal bermujasmedi mengheningkan cipta masuk ke Swargaloka Awang Uwung Kumitir. Dihadapan Sang Hyang Wenang, ia menceritakan perihal telur yang dilahirkan oleh istrinya.<br />
Sang Hyang Wenang memberi petunjuk dan memberikan <strong>air kehidupan ‘Tirta Kamandalu’ </strong>kepada Sang Hyang Tunggal.<br />
Sesuai petunjuk ayahnya, telur itu ia puja hingga meretak dan pecah berserakan menjadi tiga bagian, kulit, putih dan merah telur. Sang Hyang Tunggal menyiramkan ‘air kehidupan’ Tirta Kamandalu secara bersamaan kepada bagian telur yang tercerai berai. Secara ajaib, kulit, putih dan merah telur itu berubah menjadi tiga sosok bayi. Sang Hyang Tunggal memberi nama masing-masing bayi yang tercipta, dari <strong>kulit telur</strong> diberi nama <strong>Sang Hyang Antaga</strong>, sedangkan bayi yang tercipta dari <strong>putih telur</strong> diberi nama <strong>Sang Hyang Ismaya</strong>, dan bayi yang tercipta dari <strong>merah telur</strong> diberi nama<strong> Sang Hyang Manikmaya</strong>. Kelak ketiga putra Sang Hyang Tunggal ini akan mempunyai peran penting dalam meramaikan Jagat Pramuditya (wayang).</p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Triloka Mayapada</em></strong></p>
<p>1</p>
<p>Senja berganti malam dan malam sirna berganti siang, waktu berputar menutup hari dan kemudian berganti hari. Kini putra-putra Sang Hyang Tunggal telah tumbuh dewasa. <strong>Sang Hyang Antaga</strong>, <strong>Sang Hyang Ismaya</strong>, dan <strong>Sang Hyang Manikmaya</strong>, mereka sama-sama mewarisi berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian dari ayahnya sehingga mereka benar-benar menjadi kesatria dewa yang pilih tanding.</p>
<p>Alkisah di istana <strong>Jonggring Salaka</strong>, <strong>Kahyangan Suralaya</strong>. Sang Hyang Tunggal yang didampingi kedua permaisurinya memanggil ketiga putranya, Sang Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Ia bermaksud ingin menyerahkan tahta Suralaya kepada salah putranya, namun sebelumnya Sang Hyang Tunggal mengisahkan perihal kelahiran mereka yang berasal dari sebutir telur hingga tercipta menjadi sosok manusia dewa. Dan yang membuat Sang Hyang Tunggal belum bisa menentukan siapa diantara putranya yang berhak mewarisi Kahyangan Suralaya, adalah karena dulu Sang Hyang Tunggal menyirami tiga bagian pecahan telur itu secara bersamaan sehingga tidak ada yang tercipta lebih dahulu dari bagian lainnya, tidak ada istilah ter-tua diantara yang lainnya, besarnya pun bersamaan.<br />
Sebelum Sang Hyang Tunggal selesai bersabda, tiba-tiba Sang Hyang Antaga berkata kepada Sang Hyang Tunggal. Ia mengatakan bahwa kulit telur tentunya lebih awal dilahirkan, sebab kulit berada diluar isi dan telah ditakdirkan menjadi pelindung, yaitu melindungi isi telur yang lemah. Maka menurut Sang Hyang Antaga, kulit telurlah yang dianggap lebih tua dibandingkan dengan isinya.<br />
Sang Hyang Ismaya menepis perkataan Sang Hyang Antaga. Menurutnya, bahwa kulit dan isi telur adalah satu kesatuan yang terlahir bersamaan. Tanpa adanya putih dan merah telur yang menjadi isi, maka kulit telur pun tidak akan ada. Tidaklah mungkin telur terlahir hanya kulitnya saja tanpa ada isi yang telah ikut menyempurnakan keadaannya. Dan Sang Hyang Ismaya mengingatkan kepada Sang Hyang Antaga, bahwa putih dan merah telur yang menjadi isi adalah cikal bakal yang menjadi adanya tanda-tanda kehidupan. Kulit hanya ragangannya saja, tetapi isilah yang menjadi sumber dan keutamanya.</p>
<p>Sang Hyang Antaga tersinggung mendengar kata-kata Sang Hyang Ismaya. Ia yang tercipta dari kulit telur merasa dihina, tidak dianggap memiliki keutamaan, hanya ragangan yang berarti benda kosong yang tidak memiliki arti. Sang Hyang Antaga pun berjumawa, ia menganggap kulit telur adalah yang terkuat dengan wujud keras dibandingkan isi. Sang Hyang Ismaya membantah, bagaimana bisa disebut kuat kalau kulit telur bisa retak dan pecah. Adu mulut antara Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya kian memanas, mereka berdua sama-sama telah terbakar amarah.</p>
<p>Kita adu kesaktian! Siapa yang kuat diantara kita!</p>
<p>Adigang, adigung, adiguna. Sang Hyang Antaga menunjukan perwatakannya yang secara lahir tercipta dari kulit telur, keras, jumawa dan selalu merasa dirinya yang paling hebat.<br />
Sang Hyang Ismaya yang sudah merasa jengah dengan segala perkataan dan sikap saudaranya, menanggapi tantangan. Bagi Sang Hyang Ismaya menolak tantangan adalah tindakan seorang pengecut. Sekaligus akan memberi pelajaran kepada Hyang Antaga bahwa “girilusi jalmo tan keno ing ngino” di atas langit masih ada langit, jangan menganggap diri paling sakti di atas muka bumi.</p>
<p>Melihat perselisihan yang kian memanas diantara kedua putranya, Sang Hyang Tunggal segera melerai. Ia menasehati putra-putranya agar bisa lebih berpikir secara jernih dan terbuka, sebab semua masalah akan ada jalan keluarnya bila tanggapi dengan jiwa yang bersih. Tapi sudah terlanjur, keduanya sudah merasa saling dihinakan satu sama lainnya, maka keduanya pun sudah tidak menghiraukan lagi nasehat ayahandanya.</p>
<p>Bertikai dengan saudara sendiri, apakah kalian tidak akan menyesal nantinya?</p>
<p>Guntur menggelegar dan kilat menyambar. Awan hitam berarak berkejaran menutupi langit, bumi pun bergetar. Candradimuka bergolak menyemburkan lahar api yang sangat panas. Sabda Sang Hyang Tunggal telah menjadi kutukan bagi mereka, namun karena keduanya sudah sama dirasuki nafsu angkara murka, maka keduanya sudah tidak mampu berfikir dengan hati nuraninya. Hyang Antaga segera melesat meninggalkan Jonggring Salaka, dan kemudian disusul oleh Sang Hyang Ismaya.</p>
<p>Dilain pihak Sang Hyang Manikmaya hanya diam membisu. Dia tidak mau melibatkan diri dalam pertikaian kedua saudaranya, terkesan tidak ingin ikut campur. Akan tetapi ‘diam’ yang dilakukan Sang Hyang Manikmaya bukanlah sebab halus budi pekertinya. Disinilah perbedaan perwatakan diantara mereka. Sang Hyang Manikmaya lebih cerdik dibandingkan kedua saudaranya, ia licik dan otaknya mampu bekerja dengan baik dibandingkan nafsunya. Sang Hyang Manikmaya akan membiarkan kedua saudaranya yang bertikai. Ia tahu bahwa diantara mereka mempunyai kesaktian yang berimbang, jadi untuk apa harus membuang tenaga ikut mengadu kesaktian dengan mereka. Yang terlintas dalam pikirannya adalah, ini kesempatan baik untuk bisa merebut hati ayahandanya dan mengincar singgasana Suralaya.</p>
<p>Sementara itu, jauh di luar gerbang gaib Selamatangkep, dua kesatria dewa telah saling beradu kesaktian. Masing-masing dari keduanya menunjukan keluhuran ilmunya. Saling mengeluarkan aji jaya kawijaya dan saling menghunus pusaka kadewatan. Mereka saling serang, saling pukul, saling tusuk dan saling banting hingga mengakibatkan guncangan hebat bagi bumi tempat mereka bertarung. Gunung longsor, bukit rug-rug. Candradimuka tidak henti-hentinya mengeluarkan semburan api panas yang menyala, asap hitamnya menggumpal melingkupi puncak Himalaya (Kahyangan Suralaya).<br />
Tidak disangsikan lagi kehebatan dari kedua putra Sang Hyang Tunggal itu, keduanya sama-sama sakti, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Palagan yuda tempat bertarung mereka tidak hanya di atas lapisan bumi, tapi juga masuk ke dalam perut bumi, bertarung di dasar samudera dan bahkan berdirgantara di angkasa.<br />
Pertempuran dua kesatria dewa yang berlangsung dahsyat ini mengundang rasa keprihatinan bagi kakek-kakek mereka, baik Sang Hyang Wenang yang bersemayam di alam ‘sunyaruri’, ataupun Sah Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) yang bersemayam di Samudralaya. Telah banyak yang menjadi korban karena dampak dari pertarungan kedua cucunya. Rusaknya gunung, hutan dan lautan, juga mahluk-mahluk lain baik yang berada di alam maya ataupun di alam nyata.</p>
<p>Pertarungan antara Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga telah memakan waktu yang cukup lama, tanpa berhenti dan tanpa mengenal rasa lelah. Dan saat pertarungan menginjak waktu yang ke-empat puluh hari, Sang Hyang Tunggal memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan dengan mengajukan syarat sayembara kepada kedua putranya. Barang siapa yang mampu menelan <strong>gunung Jamurdipa</strong> dan  lalu memuntahkannya kembali, maka dialah yang akan diakui sebagai yang tertua dan dinobatkan sebagai <strong>Raja Tribuana</strong>, mewarisi seluruh Kahyangan Suralaya.</p>
<p>Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya menyanggupi sayembara tersebut. Keduanya lalu mempersiapkan diri. Didahului oleh Sang Hyang Antaga, ia bertiwikrama menjadi berhala sewu yang besarnya melebihi gunung. Dan lalu gunung Jamurdipa dicabut dan dimasukan ke dalam mulutnya. Ia memaksa untuk menelan, namun ia merasa sangat kesusahan untuk menelannya, Gunung Jamurdipa itu masih berukuran lebih besar dari mulutnya, tapi karena nafsunya yang besar, maka ia terus mencoba memasukan gunung itu ke dalam mulutnya hingga mulutnya robek besar, besar keinginannya namun kurang mempunyai perhitungan.</p>
<p>Melihat Sang Hayang Antaga yang sedang bersusah payah ingin menelan gunung, Sang Hyang Ismaya segera melakukan tiwikrama. Tubuhnya seketika meninggi dan membesar, wujudnya seketika itu juga berubah menjadi berhala sewu. Akan tetapi wujud reksa denawa Sang Hyang Ismaya lebih tinggi besar dibandingkan dengan wujud raksasa jelmaan Sang Hyang Antaga. Tingginya melebihi tujuh kali puncak Himalaya. Kemudian Berhala Sewu perwujudan dari Sang Hyang Ismaya dengan cepat merebut gunung yang hendak ditelan oleh Sang Hyang Antaga. Dalam keadaan seperti itu Sang Hyang Antaga menjadi limbung, pandangan matanyapun dengan serta merta menjadi gelap, tidak sadarkan diri. Tubuhnya sekejap berubah kembali menjadi kecil dan luruh ambruk di atas bumi.</p>
<p>Kini gilliran Sang Hyang Ismaya, dengan kekuatan luar biasa Sang Hyang Ismaya memaksakan gunung Jamurdipa masuk ke dalam mulutnya. Oleh sebab tubuhnya lebih besar dari reksa denawa jelmaan Sang Hyang Antaga, maka dengan kekuatannya Sang Hyang Ismaya berhasil memasukan gunung Jamurdipa ke dalam mulutnya, dan lalu ditelan. Sang Hyang Ismaya sempat tercekat, ia merasa seperti tercekik dan sulit bernafas saat gunung Jamurdipa tertelan masuk di kerongkongannya. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kesaktiannya hingga gunung itu pun langsung amblas ke dalam perutnya.</p>
<p>Seperi juga Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya sudah kehabisan seluruh tenaganya, ia merasa sudah tidak mampu lagi untuk mencoba memuntahkan kembali gunung Jamurdipa. Tubuhnya dingin dan lunglai, lalu seketika berubah kembali menjadi kecil, jatuh terkapar tidak sadarkan diri.</p>
<p>Sementara di Jonggring Salaka, Sang Hyang Tunggal yang sudah mengetahui peristiwa yang telah dialami kedua putranya hanya merenung. Ia pun menyesali atas kesalahannya waktu dulu, saat menyempurnakan wujud telur yang menjadi asal muasal mereka. Seharusnya mereka tidak disempurnakan secara bersamaan, sehingga bisa dibedakan mana yang lebih awal tercipta dan untuk dituakan. Namun yang lebih disesalkan lagi adalah mereka sudah tidak mau mendengarkan nasehatnya sebagai orang tua, apa mau dikata, semuanya sudah terlanjur, dan mereka telah memilih jalannya masing-masing.</p>
<p>Alam kembali menjadi tenang, burung-burung berkicau dikegelapan pagi, dan angin berhembus semilir meniupkan nafasnya yang gemulai. Diantara basahnya embun pagi di atas dedaunan, dua sosok mahluk yang terkapar di atas tanah kini mulai bergerak hidup, menunjukan bahwa keberadaan mereka masih memiliki nafas.</p>
<p>Mereka yang tidak lain adalah Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya yang telah tidak sadarkan diri untuk beberapa saat lamanya, dan kini mulai terbangun dari sadarnya. Keduanya masih terlihat bingung dan seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Baik Sang Hyang Antaga maunpun Sang Hyang Ismaya belum pulih total kesadarannya, mereka sama terkejutnya saat saling berhadapan. Dan Salah satu dari mereka lalu bertanya.</p>
<p>Siapa andika?</p>
<p>Yang ditanya menjawab sebagai Sang Hyang Antaga. Yang bertanya sontak terkejut seperti mendengar petir disiang bolong.Betapa tidak, yang mengaku sebagai Sang Hyang Antaga itu berpenampilan buruk rupa. Penampilan dan mukanya sangat jauh dari Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenal. Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenali adalah sosok kesatria perkasa, sedangkan yang dihadapinya bisa dibilang lebih mirip dengan mahluk jadi-jadian sebangsa Jin atau Dedemit. Tubuhnya pendek buncit, mukanya tidak seimbang dengan mulutnya yang sangat lebar menyerupai mulut angsa. Belum lagi habis rasa herannya, yang tadi mengaku bernama Sang Hyang Antaga balik bertanya.</p>
<p>Lah! Andika sendiri siapa?</p>
<p>Kini giliran dia menjawab dan mengaku bernama Sang Hyang Ismaya. Seperti juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga pun terkejut bukan kepalang. Sang Hyang Ismaya seharusnya berwajah elok dan bersinar seperti matahari, tapi yang mengaku Ismaya ini bertubuh gemuk berpantat besar, wajahnya pun sama sekali tidak mirip, sangat lebih tua.</p>
<p>Mereka berdua saling meyakinkan siapa mereka, dan baru tersadar saat mereka mencoba untuk mengenali bentuk tubuh masing-masing, merabai seluruh wajah dan tubuhnya. Mereka sama-sama terkejut dan menjadi sadar bahwa mereka berdua telah terkena kutukan orang tua mereka, Sang Hyang Tunggal. Lalu mereka berdua menangis sejadi-jadinya sambil berangkulan seperti anak kecil. Dan kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke Kahyangan Suralaya, menghadap Sang Hyang Tunggal.</p>
<p>Di Jonggring Salaka, di hadapan Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga masih terus menangis memohon ampunan, mereka memohon ayahandanya untuk merubah kembali wujud mereka seperti semula. Namun Sang Hyang Tunggal tidak dapat mengabulkan permohonan mereka. Menurutnya ini sudah takdir dan kehendak Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Sang Hyang Tunggal bersabda kepada para putranya bahwa dirinya akan segera mokswa ke alam sunyaruri, namun sebelumnya ia akan menunjuk salah satu dari putranya untuk menggantikannya menjadi Raja Tribuana di Kahyangan Suralaya. Lalu Sang Hyang Tunggal menunjuk dan menobatkan Sang Hyang Manikmaya menjadi Raja Tribuana, dan kepada Sang Hyang Antaga juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Tunggal menyarankan mereka untuk turun ke marcapada apabila Sang Hyang Manikmaya kelak menurunkan keturunannya di Marcapada.</p>
<p>Sebagai Raja Tribuana, <strong>Sang Hyang Manikmaya diberi tugas untuk menentramkan marcapada</strong>. Sedangkan <strong>Sang Hyang Antaga</strong> bila saatnya nanti turun ke marcapada harus merubah namanya menjadi <strong>Togog (Togog Wijomantri)</strong>. <strong>Ia ditugaskan untuk mengasuh, mendidik dan memberi nasehat budi pekerti yang baik kepada para raja keturunan Sang Hyang Manikmaya yang berwujud raksasa</strong>. Kelak dikehidupannya nanti <strong>Togog akan menghamba dan ikut kepada para raja raksasa seperti raja-raja Lokapala hingga Alengka yang berasal dari keturunan Batara Sambu, putra sulung Sang Hyang Manikmaya</strong>.<br />
Dan kepada Sang Hyang Ismaya, bila saatnya turun ke marcapada harus berganti nama menjadi <strong>Semar (Semar Badranaya)</strong>. <strong>Ia ditugaskan untuk mengasuh para raja, brahmana, dan kesatria yang masih keturunan Sang Hyang Manikmaya</strong>.</p>
<p>Sebenarnya yang paling berat adalah tugas Sang Hyang Antaga, sebab ia disuruh memberi pelajaran budi pekerti, menasehati serta meluruskan para raja raksasa yang kebanyakan sifat dan perwatakannya penuh dengan angkara murka.</p>
<p>2</p>
<p>Setelahnya Sang Hyang Manikmaya dinobatkan menjadi Raja Tribuana di kahyangan Suralaya, maka Sang Hyang Tunggal dan kedua isterinya yaitu Dewi Darmani dan Dewi Wirandi mokswa menuju swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga untuk sementara waktu ditugaskan mendampingi Sang Hyang Manikmaya, sebelum mereka nantinya turun ke marcapada.</p>
<p><strong>Sang Hyang Manikmaya bergelar Sang Hyang Jagatnata atau Sang Hyang Otipati (Batara Guru atau Batara Tengguru).</strong> Bersama <strong>Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga, ia mulai menata Suralaya, membuat kahyangan-kahyangan baru yang akan diperuntukan bagi persemayaman para dewa yang menjadi keturunannya nanti</strong>. Namun walau pun demikian, Sang Hyang Manikmaya mempunyai ganjalan dihatinya, sebab ia telah mendengar bahwa kakak sulungnya yang lain ibu <strong>dari Dewi Darmani, yaitu Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Dewa Esa / Sang Hyang Rancasan yang menjadi raja di kahyangan Keling (negeri Selong) telah membangun dengan megah kahyangan yang dahulunya telah diwariskan oleh Sang Hyang Tunggal</strong>. Bahkan, konon menurut kabar yang ia dengar, Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Dewa Esa / Sang Hyang Rancasan mulai dipuja-puja oleh para pengikutnya. Hal ini dianggap Sang Hyang Manikmaya akan merongrong kewibawaannya sebagai Raja Tribuana, maka tersirat dalam benaknya untuk menyingkirkan kekuasaan lain yang menyaingi Suralaya.</p>
<p>Sang Hyang Manikmaya berupaya keras mencari cara untuk dapat menyingkirkan Sang Hyang Rancasan. Harus ada alasan, sebab selain Sang Hyang Rancasan adalah kakak sulungnya walau beda ibu, tapi juga Sang Hyang Rancasan memiliki kesaktian yang luar biasa. Tidak mungkin baginya sendiri dapat mengalahkan Sang Hyang Rancasan, maka tidak ada jalan lain kecuali menghasut kedua saudaranya, yaitu Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga.</p>
<p>Dihadapan Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga ia menceritakan kegelisahan hatinya, yaitu keberadaan kahyangan Keling yang telah dianggap akan menandingi kahyangan Suralaya. Sang Hyang Manikmaya juga menghasut kedua saudaranya, bahwa Sang Hyang Rancasan berkeinginan merebut Suralaya dan ingin menjadi raja Tribuana. Selain itu, Hyang Manikmaya bercerita juga tentang sebuah pusaka yang konon dikeramatkan oleh leluhur mereka. <strong>Pusaka yang sangat luar biasa, tidak tertandingi oleh pusaka-pusaka lainnya di jagat pramuditya, pusaka Jamuslayang Kalimasada</strong>.<br />
Menurut Hyang Manikmaya, Jamuslayang Kalimasada sebenarnya diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur mereka, tapi kemudian oleh ayahanda mereka dititipkan kepada putra Hyang Rancasan sebagai puytra yang tersulung sebelum ayahanda mereka melakukan tapa brata dan terdampar di negeri Samudralaya. <strong>Menurut Sang Hyang Manikmaya pusaka tersebut bukanlah dianugerahkan atau diwariskan kepada Hyang Rancasan, sifatnya hanya ditipkan untuk sementara waktu</strong>.</p>
<p>Awalnya Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga tidak terpancing oleh pengaduan Sang Hyang Manikmaya, namun karena kecerdikan Sang Hyang Manikmaya dalam menghasut, maka Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga pada akhirnya berubah pikiran setelah mendengar kisah pusaka Jamuslayang Kalimasada. Mereka lalu sepakat untuk bertandang ke kahyangan Keling (negeri Selong) guna meminta kembali pusaka Kalimasada yang dianggap telah ditipkan ayah mereka kepada kakak sulungnya.</p>
<p>Setibanya di kahyangan Keling, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Manikmaya langsung menghadap kakak sulungnya. Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Rancasan yang bergelar Sang Hyang Dewa Esa menyambut baik kedatangan ketiga adiknya itu, mereka lalu terlibat pembicaraan.<br />
Dalam percakapan selanjutnya diantara mereka, <strong>Sang Hyang Manikmaya meminta pusaka Jamuslayang Kalimasada dengan alasan untuk disemayamkan di Jonggring Salaka sebagai pusaka kadewatan, karena dirinya telah dinobatkan menjadi raja Tribuana di Suralaya. Dengan halus Sang Hyang Rancasan menolak, ia menganggap pusaka itu adalah amanat leluhur yang harus ia jaga &amp; dipertanggung jawabkan amanatnya</strong>. Sang Hyang Manikmaya menuduh sulungnya telah melawan keputusan ayahanda mereka yang telah menobatkan dirinya sebagai raja Tribuana. Perbincangan berganti dengan perdebatan, dan akhirnya Sang Hyang Manikmaya menantang Sang Hyang Rancasan untuk mengadu kesaktian. Perang tanding pun tidak terelakan lagi diantara mereka.</p>
<p>Bumi gonjang-ganjing, marcapada kembali diguncang oleh nafsu angkara murka putra-putra Sang Hyang Tunggal. Gunung-gunung menggelegar mengeluarkan laharnya, bukit-bukit longsor bermuragan. Perang tanding terjadi antara Hyng Manikmaya dengan Hyang Rancasan. Keduanya saling mengadu kedigjayaan dan saling memamerkan aji-aji kesaktian. Namun dalam perang tanding itu, terlihat Sang Hyang Rancasan lebih unggul dibandingkan Sang Hyang Manikmaya. Beberapa kesaktian dan pusaka-pusaka kadewatan milik Manikmaya tidak mampu menghadapi kesaktian dan kedigjayaan Sang Hyang Rancasan. Saat Sang Hyang Manikmaya bertiwikrama menjadi berhala sewu, Hyang Rancasan tidak kalah hebat, ia bertiwikrama lebih besar dari raksasa jelmaan Hyang Manikmaya. Begitu seterusnya, setiap Manikmaya masuk ke dalam perut bumi, Hyang Rancasan ada dibelakangnya. Dan setiap Manikmaya berdirgantara di angkasa, Rancasan pun selalu ada di belakangnya. Manikmaya keteteran menghadapi kesaktian Hyang Rancasan, maka Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya segera terjun ke palagan yuda demi membantu Manikmaya, keduanya langsung menerjang Sang Hyang Rancasan. Mereka menyerang secara serempak dari segala penjuru, ada yang menyerang dari arah depan saling berhadapan, ada yang menyerang dari belakang, dari angkasa dan dari bawah bumi.</p>
<p>Perang kejayaan diantara mereka menggemparkan marcapada. Terjadi hujan badai, angin prahara, halilintar dan kobaran api yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan gaib mereka hingga menghancurkan kahyangan Keling dan meluluh lantakan bumi Selong. Dan hingga pada akhirnya, Sang Hyang Rancasan palastra ditangan saudara-saudaranya. Tubuhnya terbelah menjadi dua oleh sebab terjadi saling tarik menarik diantara Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Rancasan dan Sang Hyang Antaga. Namun sesaat setelah kematian Sang Hyang Rancasan, di atas angkasa terdengar suara tanpa rupa yang tidak lain adalah ‘ruh’ dari Sang Hyang Rancasan yang tidak menerima perlakuan saudara-saudaranya. Ia mengancam, <strong>kelak disuatu hari akan menuntut balas atas perbuatan mereka. Ia akan selalu membayang-bayangi kekuasan Manikmaya dan akan selalu mengikuti langkah Ismaya juga Antaga di marcapada. Ketiganya tertegun mendengar ancaman dari ruh Hyang Rancasan</strong>. Kesadaran dan penyesalan selalu berada diakhir kisah setelah semuanya terjadi, terlebih lagi perbuatan mereka telah mengusik ketenangan Sang Hyang Tunggal di swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Tunggal dalam wujud suara tanpa rupa mengutuk perbuatan Manikmaya yang telah menghasut kedua saudaranya hingga membunuh kakak sulung mereka. “<strong>Kelak Hyang Manikmaya akan menerima karmanya, yaitu kakinya akan menjadi kecil sebelah dan lemah, maka dengan begitu ia akan mendapat julukan sebagai Sang Hyang Lengin. Giginya akan bertaring sebesar buah randu dan dinamakan Sang Hyang Randuana. Tangannya akan bertambah menjadi empat dan akan mendapat nama Syiwa, dan yang terakhir dalam perjalanannya nanti tubuhnya akan terbakar oleh racun ganas sehingga menjadi biru, maka namanya pun bertambah menjadi Sang Hyang Nilakanta”</strong>.<br />
Sang Hyang Manikmaya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah menerima kutukan dari ayandanya, begitu juga dengan Sang Hyang Ismaya dan Antaga. Perihal pusaka yang diperebutkan itu kini telah diambil kembali oleh <strong>Sang Hyang Tunggal</strong> dan pada saatnya nanti pusaka itu akan diwariskan kepada para <strong>kesatria</strong> <strong>marcapada</strong> yang sanggup mengembannya, <strong>Jamuslayang Kalimasada</strong>.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Sang Hyang Lengin</em></strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Alkisah Prabu <strong>Detya Kalamercu</strong> yang menjadi <strong>raja bangsa dedemit</strong> di Negara <strong>Tunggul Wesi</strong> telah mendengar penobatan Sang Hyang Manikmaya menjadi <strong>Raja Tribuana di kahyangan Suralaya</strong>. Batara Kalamercu yang juga mempunyai keinginan untuk menguasai Triloka (tiga dunia), maka ia pun menyiapkan seluruh bala tentara buta dan dedemit untuk menyerang Suralaya. Bersama dengan seluruh kekuatan bala tentaranya yang berasal dari bangsa jin dan siluman, ia segera melesat menuju puncak Tengguru.<br />
Kawah Cadradimuka menggelegar memuntahkan laharnya, asapnya membumbung ke angkasa, menyaput puncak Himalaya. Ini <strong>telah menjadi pertanda bagi kadewatan Suralaya bahwa akan ada sesuatu yang bakal terjadi</strong>. Sang Hyang Manikmaya yang telah waspada, segera memberi tahu Hyang Ismaya dan Hyang Antaga agar bersiap-siap menyambut kedatangan raja Jin yang akan menyerang Suralaya. Agar tidak merusak tatanan kahyangan, maka ketiganya bersepakat untuk menghadang pasukan Prabu Kalamercu di depan pintu Selamatangkep.</p>
<p>Pertempuran pun terjadi ketika kedua belah pihak saling berhadapan. <strong>Prabu Kalamercu berhadapan langsung dengan Sang Hyang Manikmaya</strong>, <strong>sedangkan puluhan ribu bala tentaranya bertempur melawan Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga</strong>. Pertempuran seperti tidak berimbang, namun karena Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga mempunyai kesaktian yang luar biasa, maka serangan bala tentara pasukan Prabu Kalamercu dapat dihadapi. Bahkan sebaliknya pasukan Prabu Kalamercu kualahan menghadapi dua kesatria dewa yang tampangnya kini tidak berbeda dengan bangsa dedemit itu. Korban berjatuhan di pihak bala tentara Detya Kalamercu. Mereka jatuh bertumbangan, ada yang terbakar api, ada yang tersapu badai, dan terjilat hangus halilintar yang disebabkan oleh kesaktian Hyang Ismaya dan Hyang Antaga.</p>
<p>Sementara itu Sang Hyang Manikmaya perang tanding dengan Prabu Detya Kalamercu. Keduanya saling terjang, saling pukul dan saling beradu kekuatan yang masing-masing dilambari aji-aji kesaktian. Petir menggelegar, api berkobar, sesaat lalu badai angin dan hujan berbaur menyapu seluruh pelataran bumi tempat pertarungan mereka. Prabu Detya Kalamercu sangat sakti mandraguna sehingga Hyang Manikmaya harus mengeluarkan pusaka-pusaka Kadewatan untuk melawannya, tapi kehebatan pusaka Hyang Manikmaya tidak membuat gentar Prabu Detya Kalamercu. Raja Jin itu sangat sukar untuk dibunuh, bahkan tumbak pusaka Trengganaweni dan tumbak Kalaminta milik Hyang Otipati yang konon dapat meluluh lantakan gunung, tetap tidak mampu mencederai raja Jin itu.</p>
<p>Pada pertempuran selanjutnya, Sang Hyang Manikmaya terdesak mundur, ia keteteran menghadapi serangan dan terjangan Detya Kalamercu hingga suatu ketika Manikmaya terjebak di salah satu lereng gunung yang berbatu cadas. Tubuhnya dilemparkan oleh Prabu Kalamercu dan menghantam bebatuan cadas. Hyang Manikmaya ambruk bersama reruntuhan batu-batu gunung, dan salah satu kakinya terhimpit batu-batu cadas yang besarnya sebesar gajah. Setelah memukul hancur batu yang menghimpit kakinya, Hyang Manikmaya terkejut saat melihat kakinya menjadi kecil sebelah. Ia teringat kutukan ayahandanya, bahwa kakinya akan menjadi kecil sebelah dan menjadi lemah, maka namanya kini bertambah menjadi Sang Hyang Lengin.<br />
Sang Hyang Manikmaya menjadi murka atas kejadian itu, maka ia pun kemudian merapal aji Kemayan untuk menaklukan musuhnya. Prabu Detya Kalamercu tidak sanggup melawan kekuatan aji Kemayan yang dijapa oleh Manikmaya. Tubuhnya lunglai seperti tidak bertulang, kesaktiannya seperti sirna, ia pun ambruk di palagan yuda. Detya Kalamercu menggerung menjerit-jerit minta ampun. Ia berjanji tidak akan melakukan penyerangan lagi terhadap kadewatan Suralaya. Sang Hyang Manikmaya lalu mengampuni Prabu Detya Kalamercu, tetapi sebagai pelajaran untuk raja Jin itu, maka Hyang Manikmaya menghanguskan seluruh balatentara siluman Kalamercu yang masih tersisa. Ia mendatangi tempat pertempuran antara pasukan Siluman dan kedua saudaranya. Seketika setelah Hyang Manikmaya menjapa mantra kembali aji Kemayan, ribuan Jin dan Siluman pun hangus terbakar seketika. Dan lalu bangkai-bangkai siluman yang hangus itu oleh Hyang Manikmaya dicipta dengan aji Kawrastawam (kawaspadan cipta) hingga menjadi bebatuan yang menjalar sepanjang jalan dari kadewatan Suralaya menuju kawah Candradimuka, jalan itu kemudian diberinama Balagadewa.<br />
Kini Detya Kalamercu dipulihkan kembali oleh Hyang Manikmaya, dan sebagai tanda kesetiaan Detya Kalamercu, raja Jin itu mempersembahkan damper kencana Mercupunda (singgasana emas yang bertaburkan mutiara)</p>
<p>3</p>
<p>Prabu Pattanam raja bangsa dedemit di Dahulagiri mempunyai tiga putra yaitu, Andini (Andana), Cingkarabala dan Balaupata. Ketiga putra Prabu Pattanam ini berkeinginan menjadi raja Triloka dengan maksud ingin merebut kahyangan Suralaya dari tangan Sang Hyang Manikmaya.<br />
Andini (Andana) adalah putra Prabu Pattanam yang tersulung, wujudnya berupa lembu dengan bulunya yang kuning keemasan, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata berwujud raksasa kembar bersenjatakan alugora (gada). Setelah mendapat restu dari ayahandanya, mereka lalu berangkat menuju puncak Tengguru (kahyangan Suralaya). Cingkarabala dan Balaupata naik di punggung Andini. Lembu berwarna bulu kuning keemasan itu melesat ke angkasa raya bagaikan kilat tatit. Namun sebelum mereka sampai ke puncak Tengguru, di angkasa raya mereka telah dihadang oleh Sang Hyang Manikmaya. Melalui aji Pengabaran, Raja Tribuana itu telah waspada sebelumnya akan kedatangan mereka yang ingin menyerang kahyangan Suralaya, maka di angkasa mereka pun bertempur.</p>
<p>Andini yang sakti dapat mengeluarkan semburan api dari mulutnya, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata kedua senjata mereka yang berbentuk alogora menggelegar seperti halilintar. Namun kesaktian mereka tidak setara dengan Sang Hyang Manikmaya. Cingkarabala dan Balaupata ambruk luruh ke bumi terkena pukulan tumbak pusaka Trengganaweni. Andini sendiri tidak berkutik, tubuhnya pun sama luruh terkena aji Kemayan yang dijapa oleh Sang Hyang Manikmaya. Ketiga putra prabu Pattanam tidak berdaya menghadapi kesaktian Sang Hyang Manikmaya, mereka mengaku takluk dan ingin mengabdi kepada Manikmaya. Ketiganya diampuni dan diterima oleh Sang Hyang Manikmaya, maka saat itu juga ketiga putra Prabu Pattanam masing-masing diberi tugas. Andini yang berwujud lembu dan mempunyai kecepatan yang sangat luar biasa dijadikan kendaraan pribadi Sang Hyang Manikmaya, sedangkan Cingkarabala dan Balaupata diberi tugas menjadi penjaga pintu gerbang Selamatangkep (pintu gaib kahyangan Suralaya).<br />
Hari-hari selanjutnya kahyangan Suralaya digegerkan lagi oleh kedatangan dua jin yang bernama Mercukilan dan Mercukali. Mercukilan berperawakan tinggi jangkung dengan hidung panjang seperti burung pelatuk dan kepalanya berkuncir, sedangkan Mercukali berperawakan pendek berhidung besar bulat seperti buah tomat, kepalanya juga sama berkuncir. Keduanya bertingkah jenaka tapi sering sekali menyombongkan diri. Apalagi setelah keduanya sanggup mengalahkan Cingkarabala dan Balaupata sehingga kedua duruwiksa penjaga gerbang Selamatangkep itu harus lari tunggang langgang menghadap Sang Hyang Jagatnata (Manikmaya) di istana Jonggring Salaka. Sang Hyang Manikmaya lalu menghadapi Mercukilan dan Mercukali menanyakan maksud kedatangan mereka. Kedua jin itu dengan sombongnya meminta Manikmaya menyerahkan kahyangan Suralaya kepada mereka berdua. Mereka mengaku merasa lebih pantas menguasai Triloka dibandingkan Manikmaya yang hanya perwujudan ‘akyan’ (jasad halus). Sang Hyang Manikmaya yang sudah pasti menolak permintaan kedua jin itu, maka mereka pun melakukan perang tanding. Mercukilan dan Mercukali memiliki kesaktian-kesaktian gaib, gerakan mereka sangat gesit sehingga Sang Hyang Manikmaya merasa kesulitan menghadapinya. Begitu juga dengan Mercukilan dan Mercukali, keduanya tidak sanggup mengalahkan kesaktian Manikmaya. Pertempuran diantara mereka cukup dahsyat walaupun kedua jin itu bertempur secara semrawutan, terkesan bercanda atau memang sengaja meremehkan lawannya. Hal itu membuat Manikmaya merasa kesal, ia seperti sedang dipermainkan oleh kedua musuhnya, maka ia pun memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran dengan menyiapkan aji Kemayan agar musuh-musuhnya dapat segera dibinasakan, tapi sebelum Manikmaya merapal kesaktiannya, Hyang Ismaya dan Antaga datang menghampiri. Hyang Ismaya melarang Manikmaya menggunakan aji Kemayan, dan membiarkan dirinya untuk menghadapi kedua bangsa jin tersebut.</p>
<p>Melihat Hyang Ismaya perutnya buncit, pantatnya besar, kepalanya berkuncung, dan giginya cuma satu menghiasi mulut, Mercukilan dan Mercukali saling berbisik lalu terkekeh-kekeh menertawakan. Dengan sombongnya, mereka menganggap suruhan Manikmaya itu tidak lebih dari dua duruwiksa penjaga gerbang Selamatangkep yang dapat mereka kalahkan dengan sangat mudah. Hyang Ismaya sebenarnya menyukai tingkah jenaka Mercukilan dan Mercukali, tetapi ia tidak menyukai sifat-sifat sombongnya. Ismaya mengingatkan kepada dua jin itu agar tidak selalu meremehkan dan menghina orang lain, sebab wujud mereka pun tidak lebih dari keadaannya. Mercukilan dan Mercukali tidak menggubris kata-kata Hyang Ismaya, keduanya segera menerjang, akan tetapi Hyang Ismaya yang sudah siap menghadapi keduanya, menyambut serangan mereka. Pertempuran mereka tidak berlangsung lama, sebab Hyang Ismaya sendiri bertempur lebih semrawut dibandingkan kedua musuhnya. Mercukilan dan Mercukali jatuh bangun menghadapi Hyang Ismaya, keduanya tersungkur setelah ditabrak oleh Hyang Ismaya, lalu oleh Hyang Ismaya kedua kuncir kepala kedua jin itu ditangkap sehingga mereka menjerit-jerit memohon ampun. Hyang Ismaya memantrai mereka dengan aji Kawrastawam (kawaspadan cipta). Seketika wujud Mercukilan dan <strong>Mercukali berubah, wajah mereka yang sebelumnya agak menyeramkan berubah menjadi seperti rakyat jelata yang polos</strong>. Mereka berdua kemudian diampuni dan diangkat anak oleh Hyang Ismaya. <strong>Mercukilan namanya diganti menjadi Petruk</strong> sedangkan <strong>Mercukali diganti namanya menjadi Gareng</strong>.</p>
<p>4</p>
<p>Syahdan di Negara Shindu Udal-udal yang menjadi raja adalah <strong>Sang Hyang Caturkaneka. Ia adalah putra dari Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) kakak kandung Sang Hyang Wenang</strong>, yang juga berarti saudara sepupu dengan Sang Hyang Tunggal. <strong>Sang Hyang Caturkaneka mempunyai seorang putra yang bernama Sang Hyang Kanekaputra</strong>. Ia adalah seorang kesatria dewa yang berparas cakap rupawan dengan kelebihan berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian ditambah kecerdasan yang menjadikan Sang Hyang Kanekaputra adalah seorang anak yang sangat dibanggakan oleh kedua orang tuanya, juga bangsanya. Namun kepandaian ilmu dan keluasan pengetahuan terkadang menjadi cobaan bagi setiap insan yang mendapatkan keistimewaan karunia tersebut, begitu juga dengan Hyang Kanekaputra. Dihadapan Ayahandanya, Hyang Kanekaputra mengutarakan keinginannya yang selalu tersirat dalam hati dan pikirannya untuk menjadi seorang penguasa Triloka (dunia ketiga). Sebenarnya Sang Hyang Caturkaneka melarang keinginan putranya itu. Ia memberi nasehat kepada putranya bahwa seseorang yang memiliki keluhuran ilmu dan kepandaian, sejatinya tidak akan pernah hilang walaupun ia tidak menjadi seorang penguasa atau pemimpin. Dan apalagi kedudukan sebagai Raja Tribuana telah dimandatkan oleh Sang Hyang Tunggal dan para leluhurnya kepada Sang Hyang Manikmaya, alangkah lebih baik jika Hyang Kanekaputra membantu Hyang Manikmaya dalam menjalankan tugas dan baktinya yang telah diemban sebagai seorang kalifah di kadeatan Suralaya nanti. Walau pun Hyang Caturkaneka mencoba untuk mengarahkan jalan yang lebih baik kepada putranya, namun ia sangat paham akan perwatakan putranya yang berpendirian keras. Lagi pula putranya beralasan bahwa, ia hanya ingin menguji sampai dimana kepandaian dan kesaktian Manikmaya sehingga diangkat menjadi raja Tribuana, dan kalau memang Hyang Manikmaya teruji kesaktiannya, maka ia tidak segan-segan untuk mengabdikan diri kepada Manikmaya. Mendengar alasan itu Sang Hyang Caturkaneka mengijinkan keinginan putranya. Setelah mendapat restu dari ayahandanya, Sang Hyang Kanekaputra kemudian pergi meninggalkan negeri Shindu. Ia terbang melintasi daratan dan lautan menuju Suralaya. Di tengah perjalanan Hyang Kanekaputra berubah pikiran, ia berpikir lebih baik mengundang Hyang Manikmaya dari pada dirinya yang harus datang ke Suralaya. Maka, Sang Hyang Kanekaputra lalu duduk di atas lautan samudralaya, mengheningkan cipta bermujasmedi mengolah rasa.</p>
<p>Puncak Tengguru diliputi awan hitam kelam. Candradimuka menggelegar-gelegar memuntahkan lahar dan api panasnya. Saat itu juga kahyangan Suralaya dihampar hawa panas, menyebabkan para penghuninya merasa was-was, ada apa gerangan yang bakal terjadi? Hyang Manikmaya dengan aji Pengabarannya mencari tahu apa gerangan yang menjadi penyebab mengamuknya kawah Candradimuka. Melalui kesaktiannya itu Manikmaya akhirnya mengetahui apa dan siapa dibalik peristiwa tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk mendatangi Sang Hyang Kanekaputra di samudralaya.</p>
<p>Nun jauh di tengah samudralaya, Manikmaya melihat seberkas sinar yang memancar dari sosok seorang kesatria dewa yang sedang melakukan tapabrata. Pancaran sinarnya mampu meredam gelombang ombak yang bergemuruh di tengah lautan, tubuhnya tidak sedikit pun basah oleh air laut. Manikmaya kagum dengan kesaktian kesatria rupawan yang tidak lain adalah Sang Hyang Kanekaputra. Lalu Sang Hyang Manikmaya membangunkan dan menanyakan maksud dari tapabrata Kanekaputra yang telah mengguncangkan kawah Candradimuka. Yang ditanya tetap diam, membisu dan masih memejamkan mata. Hyang Manikmaya kembali menggugah dan menanyakannya. Yang ditanya masih saja diam, membisu dan masih tetap memejamkan mata. Hyang Manikmaya merasa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, ia lalu berniat mengeluarkan pusaka dewata untuk mengugahnya, tapi sebelum niat Manikmaya terlaksana tiba-tiba sepasang mata itu terbuka dan tertawa. Ia menertawakan sifat Manikmaya yang dianggap tidak memiliki kesabaran. Manikmaya kembali bertanya tentang maksud dan tujuan dari tapabrata tersebut. Sebelum menjawab pertanyaan dari yang Manikmaya, Sang Hyang Kanekaputra lebih dulu memperkenalkan jatidirinya sehingga Manikmaya kini tahu bahwa kesatria dewa tersebut adalah masih keturunan Hyang Nurrasa, salah satu leluhurnya.<br />
Sang Hyang Kanekaputra melanjutkan dengan menjawab maksud dan tujuannya melakukan tapabrata adalah tidak lain untuk mengundang Hyang Manikmaya dan menyampaikan keinginannya menjadi kalifah ing dewa (Raja Tribuana). Mendengar itu, Hyang Manikmaya lalu mengatakan bahwa untuk menjadi seorang Raja Tribuana haruslah memiliki kepandaian dan kesaktian yang dapat diandalkan hingga nantinya akan dapat mempertanggungjawabkan tugas yang akan diemban kelak. Maka, Keduanya lalu saling mengadu pengetahuan dengan saling memberikan pertanyaan dan jawaban. Sang Hyang Kanekaputra memang seorang ahli dalam ilmu pengetahuan, kepandaiannya sangat luar biasa sehingga semua pertanyaan Hyang Manikmaya dapat ia jawab. Dan saat Hyang Manikmaya menanyakan tentang sifat tertua yang tertanam pada diri manusia semenjak lahir, Hyang Kanekaputra mampu menjawabnya dengan cemerlang bahwa sifat tertua yang ada pada diri manusia semenjak lahir adalah sifat ‘keinginan’, karena semenjak manusia dilahirkan di alam dunia, ia sudah berkeinginan. Seperti bayi manusia yang dilahirkan dalam keadaan menangis, ia sudah mempunyai keinginan, hanya saja manusia dewasa saat itu tidak mampu menterjemahkan keinginan yang disuarakan lewat tangisan bayinya.<br />
Hyang Manikmaya mengagumi kecerdasan dan ilmu pengetahuan Hyang Kanekaputra, maka sebagai ujian terakhir adalah mengadu kesaktian. Hyang Kanekaputra menantang Manikmaya, apabila Hyang Manikmaya dapat menggeser tubuhnya dari keadaan duduk sempurna tapabrata di atas laut, maka ia mengaku kalah dan bersedia mengabdi kepada Hyang Manikmaya. Akan tetapi apabila Hyang Manikmaya tidak mampu melakukannya, maka Hyang Manikmaya harus menyerahkan tahta Jonggring Salaka kepada dirinya. Sang Hyang Manikmaya menerima tantangan, ia pun segera menyiapkan aji Kemayan dan kemudian keduanya beradu kesaktian secara batiniah. Larikan sinar berkelebatan diantara dua sosok manusia dewa yang sedang bertarung batin di atas samudralaya. Beberapa saat kemudian seiring dengan derunya gelombang ombak, Hyang Kanekaputra yang tidak sanggup melawan keampuhan aji Kemayan seakan ada sesuatu yang membetot paksa seluruh kesaktiannya keluar dari garbanya. Tubuhnya terasa lemas tak berdaya dan akhirnya terjebur masuk kedalam laut. Ia timbul tenggelam dilautan dan ia mengakui kekalahannya. Hyang Manikmaya lalu memulihkan kembali kesaktian Hyang Kanekaputra dan sejak saat itu Hyang Kanekaputra mengabdi kepada Hyang Manikmaya, ia mendapat gelar batara dan diberi jabatan sebagai kebayan ing dewa yang artinya adalah manusia dewa kedua setelah Raja Tribuana di kahyangan Suralaya, atau istliah lainnya adalah Mahapatih.<br />
Pada hari-harinya di Suralaya, Sang Hyang Kanekaputra atau juga Batara Kanekaputra sangat gemar berjenaka. Ia seorang yang periang dan sangat suka bersendawan dengan Hyang Ismaya dan Hyang Antaga, namun kekurangannya adalah terkadang Hyang Kanekaputra tidak bisa membatasi sifat berkelakarnya. Bercandanya kadang keterlaluan, melampaui batas dengan ejekan-ejekan yang dianggapnya sebagai lelucon. Suatu hari Hyang Manikmaya merasa tersinggung ketika melihat Batara Kanekaputra meng-olok-olok Hyang Ismaya dan Hyang Antaga. Perlakuannya dianggap sudah melampuai batas bercanda, maka Hyang Manikmaya pun bersabda bahwa Batara Kanekaputra sebenarnya lebih pantas berpenampilan seperti mereka, sebab ke-elokan dan tingkah laku Kanekaputra dianggap tidak sepadan. Sekecap nyata, Batara Kanekaputra berubah wujud menjadi pendek, gemuk dan cebol. Melihat perubahan tubuhnya, Hyang Kanekaputra menangis meminta maaf kepada Manikmaya, tetapi semuanya sudah terlanjur. Hyang Manikmaya pun meminta maaf kepada Kanekaputra bahwa dirinya tidak dapat merubah lagi bentuk rupa Kanekaputra. Hyang Ismaya dan Antaga menasehati Kanekaputra untuk dapat menerima cobaan tersebut dengan kelapangan jiwa. Dan kepada Manikmaya mereka pun menasehati agar tidak gegabah dalam menyabdakan Kawrastawam yang bercampur dengan nafsunya, sehingga nantinya akan menjadi malapetaka yang akan merugikan banyak orang. <strong>Sejak saat itu Hyang Kanekaputra lebih dikenal dengan nama barunya yaitu Batara Narada.</strong></p>
<p>5</p>
<p>Cahaya sang surya memancar keemasan diufuk timur, sinarnya menghangatkan titik-titik embun yang membasahi dedaunan. Kicau burung besahutan menyapa pagi dengan segala kebahagiaan yang alami. Marcapada kembali terisi dengan suasana kedamaian.<br />
Pagi itu puncak Tengguru dikejutkan oleh penampakan sosok ‘akyan’ (wujud halus) seorang bocah bayi yang terbang melayang melintasi hutan-hutan pegunungan dan bermain-main di depan gerbang gaib Selamatangkep. Cingkarabala dan Balaupata, dua raksasa penjaga gerbang yang merasa heran dengan sosok bayi ajaib tersebut mencoba menangkapnya namun tidak berhasil. Sosok bayi itu wujudnya halus bercahaya, ia tidak dapat disentuh, dipegang dan dirsakan. Lebih mengherankan lagi bagi Cingkarabala dan Balaupata ketika sosok bayi ajaib itu sanggup menembus Selamatangkep dengan sangat mudah. Cingkarabala dan Balaupata terus mengejar dan memasuki wilayah kahyangan Suralaya. Sosok bayi itu seperti menggoda para pengejarnya, terkadang ia hinggap diantara dahan-dahan pohon kahyangan yang indah sehingga menyempurnakan ke-elokan taman kahyangan. Tingkah pola Cingkarabala dan Balaupata yang berkejar-kejaran seperti anak kecil yang sedang menangkap seekor capung itu sempat terlihat oleh Hyang Ismaya, Antaga dan Narada. Ketiganya lalu mendatangi Cingkarabala dan Balaupata, saat mereka mendekati dua raksasa penjaga gerbang Selamatangkep barulah mereka memahami apa yang sedang dilakukan dua raksasa itu. Baik Hyang Ismaya, Hyang Antaga dan Batara Narada sama-sama takjub melihat sosok bayi indah yang berwujud halus, bayi itu sekonyong-konyong mendekati mereka bertiga, Ismaya mencoba menangkap tapi yang tertangkap hanya ruang kosong, begitu juga dengan Hyang Antaga dan Batara Narada. Petruk dan Gareng pun ikut mencoba menangkap tapi sia-sia. Sosok bayi halus itu masih terus mempermainkan mereka, selanjutnya lama kelamaan terbang menjauh dan hilang dari pandangan mata mereka.<br />
Belum selesai diantara mereka membicarakan kejadian aneh yang baru saja terjadi, tiba-tiba datang dua orang manusia pria dan wanita. Yang pria berbusana mewah memperkenalkan diri sebagai Prabu Umaran, bangsawan dari negeri Merut dan yang wanita adalah istrinya bernama Dewi Nurweni. Bangsawan dari negeri Merut itu menjelaskan bahwa mereka tengah mengejar sosok bayi dengan wujud halus yang terbang melayang-layang hingga membawa mereka ke puncak Tengguru. Mereka mengakui bahwa bayi itu adalah putri mereka yang semenjak lahir wujudnya sudah berupa ‘akyan’ (jasad halus) dan lalu terbang meninggalkan kediaman mereka. Hyang Ismaya dan Antaga menyarankan kepada Batara Narada untuk melaporkan peristiwa itu kepada Hyang Manikmaya, dan agar Prabu Umaran juga Dewi Nurweni dipertemukan dengan Hyang Manikmaya. Mereka lalu menghadap Sang Hyang Manikmaya di istana Jonggring Salaka. Prabu Umaran memohon pertolongan Hyang Manikmaya untuk menangkap bayi anaknya. Sang Hyang Manikmaya menyanggupinya, ia mencoba akan membantu menangkap bayi itu dan akan menyerahkannya kepada Prabu Umaran dan Dewi Nuweni.<br />
Dengan mengendarai lembu Andini, Hyang Manikmaya terbang meninggalkan kahyangan Suralaya. Mereka melintasi daratan dan lautan mencari sosok bayi putri Prabu Umaran. Menjelang malam hari, di angkasa raya Hyang Manikmaya melihat titik cahaya yang sedang melayang-layang, cahayanya bagaikan bintang timur yang bersinar di musim panas, elok dan indah dipandangan mata. Hyang Manikmaya menyuruh lembu Andini untuk mendekatinya, dan ketika terlihat lebih dekat tampaklah kalau cahaya yang berkedip bersinar itu adalah sosok bayi yang sedang terbang melayang-layang. Hyang Manikmaya tidak salah menduga bahwa bayi itu tidak lain adalah bayi yang dimaksudkan oleh Prabu Umaran. Bayi itu mendekati Hyang Manikmaya, putra Hyang Tunggal pun mencoba menangkapnya tapi tidak berhasil. Hyang Manikmaya merasa heran bercampur takjub beberapa kali dia mencoba menangkap tapi tidak berhasil, dan ketika sosok bayi itu mencoba menjauh Hyang Manikmaya mengejarnya. Dua sosok melayang-layang diangkasa diantara gelap dan terangnya gugusan sinar bintang dan rembulan. Tertangkap dalam pelukan tetapi hilang, teraih dalam genggaman tetapi kosong. Sang Hyang Manikmaya lalu bersemedi memohon petunjuk kepada ayahandanya untuk dapat menangkap bayi tersebut. Sang Hyang Tunggal memberi petunjuk bahwa untuk menangkap bayi itu harus dipegang pergelangan tangan dan kakinya secara bersamaan, dan untuk melakukan itu Hyang Manikmaya harus merelakan tangannya bertambah dua, sehingga tangan Manikmaya nantinya akan menjadi empat. Dan dengan demikian kutukan terdahulu akan dijalani oleh Manikmaya sebagai seorang Shiwa.<br />
Setelah berubah tangannya menjadi empat, Hyang Manikmaya kembali mengejar sosok bayi ajib anak dari Prabu Umaran. Kini dengan keempat tangannya Hyang Manikmaya dapat menangkap pergelangan tangan dan kaki bayi itu secara bersamaan, dan tatkala masing-masing pergelangan tangan dan kaki bayi terpegang oleh Manikmaya, seketika itu juga sosok ‘akyan’ (wujud halus) bayi hilang dan berubah menjadi wujud jasad wadag seorang gadis jelita berparas cantik rupawan. Kaget bukan kepalang tetapi juga terpesona melihat kecantikannya. Selanjutnya, gadis itu dibawa oleh Hyang Manikmaya ke negeri Merut untuk diserahkan kepada Prabu Umaran dan Dewi Nurweni. Oleh mereka gadis itu diberi nama Uma. Dihadapan Prabu Umaran dan Dewi Nurweni, Hyang Manikmaya menyampaikan isi hatinya yang telah terpikat oleh Uma. Prabu Umaran dan Dewi Nurweni merestui, maka Dewi Uma pun dinikahkan dengan Hyang Manikmaya dan diboyong ke kahyangan Suralaya</p>
<p>6</p>
<p>Kahyangan Suralaya kini bertambah ke-elokannya setelah Sanghyang Manikmaya Raja Tribuana mempersunting Dewi Uma putri Prabu Umaran dan Dewi Nurweni dari negeri Merut. Seperti ratna mutu manikam ditengah samudra biru, cahayanya gemerlapan bersinar menerangi Jonggring Salaka. Burung dan angin bernyanyi seirama dengan alunan gending lokananta yang mendayu sepanjang waktu dalam ruang kahyangan. Seperti juga titik-titik embun yang jatuh di dedauanan sebelum langit terbuka, menyongsong kehadiran sang fajar yang memberikan kehangatan pada ruang bumi. Generasi-generasi para dewa keturunan Hyang Manikmaya akan bermuasal dari sini untuk meramaikan kahyangan dan marcapada.</p>
<p>Angin malam semilir berhembus berkelana membisikan keheningan peraduan dua insan yang sedang melintasi gelora asmara. Semerbak harum wewangian bunga kahyangan melengkapi rasa asyik dan masyuk, menimbulkan keinginan untuk dapat selalu merajut cinta dan kasih selamanya… kepada sang dewi yang memancarkan kebahagiaan.<br />
Beberapa kurun waktu setelah pernikahan mereka, Dewi Uma melahirkan seorang putra yang kelahirannya disertai bau harum semerbak diseluruh kahyangan Suralaya. Putra pertama ini diberi nama Batara Sambu yang memiliki sifat jujur dengan perbawa (perlambang) ‘awan’ (mega). Batara Sambu bersemayam di kahyangan Suwelagringging, ia menikah dengan Dewi Darmastuti putri dari Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Dari pernikahannya dengan Dewi Darmastuti, Batara Sambu dikaruniai empat orang putra, antara lain adalah Batara Sambusa, Batara Sambawa, Batara Sambujana dan Batara Sambudana. Kelak dari salah satu putranya akan menurunkan raja-raja raksasa seperti Rahwana hingga Nirtakawaca yang akan diasuh oleh Hyang Antaga (Togog).</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, cinta kasih antara Hyang Manikmaya dan dewi Uma kembali menurunkan benih keturunan. Dewi Uma kembali melahirkan seorang putra, saat itu kelahiran putra kedua diawali dengan membuncahnya lahar panas Candradimuka hingga menyalakan kobaran api yang sangat besar dan dahsyat. Putra kedua itu lalu diberi nama Batara Brahma yang memiliki sifat semangat yang menyala-nyala dengan perbawa (perlambang) ‘api’. Ia bersemayam di kahyangan Tursina Geni (Daksina Geni). Batara Brahma menikah dengan tiga orang putri Sanghyang Nioya, mereka adalah Dewi Saci, Dewi Sarasyati dan Dewi Rarasyati. Dari perkawinannya dengan Dewi Saci, Batara Brahma dikaruniai dua orang putra, yaitu : Batara Maricibrama dan Batara Naradabrama. Sedangkan perkawinanya dengan Dewi Sarasyati dikaruniai lima orang putra, yaitu : Batara Bramanasa, Batara Bramasadewa, Batara Bramanasadara, Batara Bramarakanda, Batara Bramanaresi. Adapun putra dan putri Batara Brahma dengan Dewi Rarasyati adalah Dewi Bremani, Dewi Bramanisri, Batara Bramaniskala, Batara Bramanayara, Dewi Bramanista, Dewi Bramaniyari, Dewi Bramaniyodi, Batara Bramanayana, Batara Bramaniyata, Batara Bramanasatama, Dewi Bramanayekti, Dewi Bramaniyuta, Dewi Dresnala, Dewi Dreswati.</p>
<p>Waktu-waktu berikutnya Dewi Uma kembali melahirkan putranya yang ketiga. Pada saat itu kelahiran putra ketiga seiring dengan musim penghujan yang berkepanjangan. Putra ketiga ini diberi nama Batara Indra yang memiliki sifat rasa dengan perbawa (perlambang) ‘halilintar’. Batara Indra bersemayam di kahyangan Rinjamaya (kahyangan kaindran). Indra menikah dengan Dewi Wiyati putri Sanghyang Nioya, mereka dikaruniai putra dan putri, yaitu : Dewi Tara, Dewi Tari, Batara Citrarata, Batara Citragana, Batara Jayantaka, Batara Jayantara, Batara Harjunawangsa.</p>
<p>Selanjutnya Dewi Uma kembali melahirkan lagi putranya yang keempat. Pada saat kelahiran putra keempat ini diiringi oleh angin prahara yang sangat dahsyat. Maka, putra keempat mereka beri nama Batara Bayu yang memiliki sifat daya atau kekuatan dengan perbawa (perlambang) ‘angin’. Batara Bayu bersemayam di kahyangan Panglawung, ia menikah dengan Dewi Sumi putri Batara Soma, cucu dari Sanghyang Pancaresi yang adalah keturunan Sanghyang Darmajaka (Darmakaya) kakak kandung Sanghyang Wenang. Perkawinan Batara Bayu dengan Dewi Sumi dikaruniai empat orang putra, yaitu : Batara Sumarma, Batara Sangkara, Batara Sadarma, dan Batara Bismakara.</p>
<p>Setelah Hyang Manikmaya dan Dewi Uma beranak panak seperti layaknya manusia, maka mereka mendapat teguran dari Sanghyang Tunggal. Bahwa untuk menurunkan keturunan yang linuih, Hyang Manikmaya dan Dewi Uma tidak hanya melakukan olah asmara biasa, tapi harus menjalaninya dengan cara menempuh keheningan dengan menggunakan aji asmaracipta, asmaraturida, asmaragama. Hyang Manikmaya dan Dewi Uma menuruti nasehat Sanghyang Tunggal. Dari lelaku mereka lahirlah putra kelima yang diiringi oleh berbagai macam perubahan cuaca yang menimbulkan bencana alam seperti panas, hujan yang disertai petir, dan angin topan prahara yang sangat dahsyat. Peristiwa tersebut menimbulkan kembali membuncahnya lahar api Candradimuka. Putra kelima Hyang Manikmaya dan Dewi Uma diberi nama oleh Sanghyang Tunggal dengan nama Batara Wisnu yang memiliki sifat bijaksana, perbawanya adalah manunggalnya empat sifat, yaitu sifat jujur (Batara Sambu), semangat (Batara Brahma), rasa (Batara Indra), dan daya atau kekuatan (Batara Bayu). Batara Wisnu bersemayam di kahyangan Untarasegara, ia menikah dengan dua orang putri dari Batara Wismaka (putra kelima Sanghyang Pancaresi), mereka adalah dewi Sri Pujayanti (Dewi Laksmita) dan Dewi Sri Sekar (Dewi Laksmi). Dari Dewi Sri pujayanti (Dewi Laksmita), Batara Wisnu dikaruniai putra dan putri, yaitu : Batara Heruwiyana, Batara Ishawa, Batara Bhisawa, Batara Isnawa, Batara Isnapurna, Batara Madura, Batara Madudewa, Batara Madusadana, Dewi Srihuna, Dewi Srihuni, Batara Pujarta, Batara Panwanboja, Batara Sarwedi.<br />
Dari perkawinannya dengan Dewi Sri Sekar, Batara Wisnu dikaruniai tiga orang anak, yaitu : Batara Srigati (pendiri negara Purwacarita, ia menjadi raja Purwacarita bergelar Prabu Sri Mahapunggung), Batara Srinada (pendiri negara Wirata / Wirata kuno, ia menjadi raja Wirata bergelar Prabu Basurata), Dewi Srinadi.</p>
<p>Putra ke-enam Dewi Uma dengan Hyang Manikmaya adalah Batara Gana (Ganesa). Peristiwa kelahirannya diawali saat Dewi Uma hamil, ia merasa sangat kaget dengan kehadiran gajah Erawati yang datang secara tiba-tiba. Gajah besar kendaraan Batara Indra itu dimaki-maki oleh Dewi Uma, karena kesal dan saking terkejutnya. Maka ketika lahir putra ke-enam Hyang Manikmaya dan Dewi Uma itu berwujud manusia gajah, tubuhnya berbentuk manusia, kepalanya berwujud gajah. Oleh Hyang Manikmaya diberinama Batara Gana (Ganesa).</p>
<p>Selain Sanghyang Manikmaya, sebenarnya para sanghyang dan dewa lainnya juga berkembang menurunkan keturunan mereka, seperti Sanghyang Ismaya yang telah mempersunting seorang bidadari yang bernama Dewi Senggani, putri dari Sanghyang Wening (saudara kembarnya Sanghyang Wenang). Dari pernikahannya dengan Dewi Senggani, Hyang Ismaya dikaruniai sepuluh orang anak, diantaranya adalah Bathara Wungkuam, Bathara Tembora, Bathara Kuwera, Bathara Wrahaspati, Bathara Syiwah (bukan Shiwa), Bathara Surya, Bathara Chandra, Bathara Yama/Yamadipati, Bathara Kamajaya dan Bathari Darmastuti (istri Batara Sambu, putra Hyang Manikmaya).<br />
Sanghyang Senggana kakak kandung Dewi Senggani menurunkan keturunan yang berbentuk burung belibis.</p>
<p>Sanghyang Nioya yang bersemayam di kahyangan Argamaya, menikah dengan Batari Darmastuti, yang masih kemenakannya sendiri. Sebab, Sanghyang Nioya adalah putra ke-empat dari Sanghyang Wenang, sedangkan Batari Darmastuti adalah putri Sanghyang Tunggal dari Dewi Dermani. Dari pernikahannya dengan Dewi Darmastuti, Hyang Nioya dikaruniai empat puluh satu orang anak. Salah seorang dari anak Hyang Nioya adalah Hyang Baruna, dan empat puluh lainnya adalah bidadari-bidadari yang akan dinikahkan dengan keturunan Hyang Manikmaya dan keturunan Hyang Ismaya. Dari sekian banyak putri Sanghyang Nioya yang dikenal dalam pedalangan diantaranya Dewi Warsiki yang merupakan salah satu pimpinan tujuh bidadari upacara di kahyangan, dan Dewi Urwaci, bidadari paling seksi di kahyangan dan menjadi kecintaan Hyang Manikmaya.</p>
<p>Sanghyang Heramaya putra bungsu Hyang Wenang menikah dengan putri raja jin di perairan. Dari perkawinannya itu lahirlah seorang putra bernama Batara Gangga.</p>
<p>Sanghyang Taya, adik dari Sanghyang Wenang juga telah berputra empat orang. Yang sulung bernama Sanghyang Parma, memiliki putra bernama Sanghyang Pramana. Putranya tersebut memiliki putri bernama Dewi Tappi yang menikah dengan raja jin penguasa bangsa binatang bernama Sanghyang Darampalan. Dari perkawinan itu lahir Batara Winata berwujud burung, Batara Agli berwujud musang, Batara Karpa berwujud kowangan, dan Batara Kowara berwujud sapi.</p>
<p>Batara Narada putra Sanghyang Caturkaneka dari Shindu / Siddi Udaludal menikah dengan Dewi Wiyodi putri Sanghyang Pancaresi (adik kandung Sanghyang Caturkaneka). Dari pernikahannya itu dikaruniai dua orang anak, yaitu : Dewi Kanekawati dan Batara Malangdewa.</p>
<p>Putri bungsu Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti yang bernama Dewi Suyati menikah dengan Sanghyang Anantaswara dari Saptapertala (Saptabumi), mereka dikaruniai putra bernama Sanghyang Anantanaga (ular) dan menikah dengan Dewi Wasu (putri Sanghyang Nioya). Dari perkawinan Anantanaga dengan Dewi Wasu menurunkan seorang putra yang bernama Sanghyang Antaboga (Nagapasa), jadi Hyang Antaboga adalah keturunan ketiga dari Hyang Wenang.</p>
<p><em>Catatan:<br />
Dalam catatan penulis, Sanghyang Wening dengan Sanghyang Hening berbeda. Sanghyang Wening adalah saudara kembar Sanghyang Wenang, sedangkan Sanghyang Hening (Nioya) adalah putra dari Sanghyang Wenang.<br />
Silsilah:<br />
Sanghyang Nurrasa dengan Dewi Sarwati mempunyai tiga orang putra yaitu, Sanghyang Darmajaka (Darmakaya), Sanghyang Wenang dan Wening (kembar), dan yang bungsu adalah Sanghyang Taya.<br />
Putra Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti adalah : Sanghyang Tunggal, Sanghyang Hening (Nioya) dan Dewi Suyati.</em></p>
<p><em>Catatan lainnya adalah nama Dewi Darmastuti ada dua, yang satu adalah Bathari Darmastuti putri Hyang Tunggal dengan Dewi Darmani, dan yang satu laginya adalah Dewi Darmastuti (Dewi Hastuti) putri Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sanghyang Antaga tidak menikah dan tidak memiliki keturunan di kadewatan Suralaya. Namun dalam cerita wayang sunda, Hyang Antaga setelah turun ke marcapada mempunyai seorang putra bernama Jakatamilung, tetapi tidak diketahui siapa ibunya.</em></p>
<p>Pada suatu hari Sanghyang Jagatnata mengajak Dewi Uma berpesiar ke angkasa raya untuk menikmati keindahan marcapada dengan mengendarai Lembu Andini. Mereka berdua bersuka cita sebagai pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Namun pada saat mereka melintasi samudralaya, hembusan angin laut sempat menyingkapkan helai kain Dewi Uma sehingga bagian dari tubuhnya yang indah terlihat membangkitkan desiran rasa yang meletup-letup disanubari Hyang Manikmaya. Putra Sanghyang Tunggal yang sedang dilanda rasa itu membujuk Dewi Uma untuk melakukan peraduan di atas lembu Andini yang sedang melintasi samudralaya. Dewi Uma menolak secara halus, sebab menurutnya sebagai seorang Bathara dan Bathari tidaklah pantas melakukan peraduan di tengah perjalanan, apalagi melakukannya di atas seekor lembu yang sedang mereka kendarai. Sanghyang Jagatnata yang sudah terbakar nafsu birahinya itu terus membujuk istrinya. Karena kesalnya, Dewi Uma menjadi marah kepada Sanghyang Jagatnata. Ia mengatakan bahwa prilaku Sanghyang Jagatnata tidak seperti seorang Raja Tribuana, tetapi prilaku seperti itu lebih layak dikatakan seperti Denawa (raksasa). Ajaib! Seketika itu juga dari mulut Hyang Jagatnata tumbuh taring menyerupai raksasa, dan sejak saat itu kutukan Hyang Tunggal kembali ia jalani, dan namanya kini bertambah menjadi Sanghyang Randuana. Namun rasa yang sudah terlanjur membakar birahinya pun telah keluar menjadi benih bersama dengan kutukan Dewi Uma. Benih dari Sanghyang Jagatnata jatuh ditengah samudralaya, benih itu terus tenggelam diantara gelapnya dasar samudralaya.</p>
<p>Sekembalinya ke Suralaya, Sanghyang Jagatnata marah atas perlakuan istrinya yang telah menyupatai dirinya hingga bertaring. Pertengkaran diantara mereka pun terjadi sangat sengit sehingga tanpa sadar Sanghyang Jagatnata sendiri mengatakan bahwa perilaku Dewi Uma yang suka mengutuk suaminya itu juga tidak ubahnya seperti seorang raksesi (raksasa wanita). Seketika itu juga wajah dan penampilan Dewi Uma yang tadinya cantik mempesona berubah menjadi seorang raksesi. Dewi Uma menjerit menangis ketika melihat perubahan pada jasmaninya. Sanghyang Jagatnata menyesal atas ucapannya itu. Pada kesehari-hariannya Dewi Uma hanya bisa menangis meratapi nasibnya, ia selalu mengurung diri di dalam kamarnya, tidak mau menampakan diri lagi dibalai agung Jonggring Salaka. Dampar kencana mercupunda yang indah itu terasa kosong, seperti ada sesuatu yang hilang yang menjadi pelengkap keindahannya. Sanghyang Jagatnata hanya bisa merenung menyesali diri, ia merasa sangat bersalah atas peristiwa tersebut. Ia lalu bermujasmedi meminta petunjuk ayahandanya di Sunyaruri. Dalam petunjuk yang ia dapat dari ayahandanya, ia diperintahkan untuk datang ke negeri Merut, menjelaskan persoalan yang telah menjadi kemelut anatara dirinya dengan Dewi Uma. Dan Sanghyang Jagatnata diperintahkan oleh Hyang Tunggal untuk meminta salah satu buah ranti yang telah matang yang terletak di dalam taman istana Merut.<br />
Setelah mendapat petunjuk dari ayahandanya, Sanghyang Jagatnata dengan mengendarai lembu Andini melesat menuju negeri Merut. Di istana Merut ia disambut gembira oleh Prabu Umaran dan Dewi Nurweni, walau kedatangan Jagatnata itu sebenarnya dirasakan ganjil oleh mereka. Sanghyang Jagatnata dengan sangat menyesal menceritakan peristiwa yang telah menimpa dirinya dan Dewi Uma. Prabu Umaran dan Dewi Nurweni terkejut, mereka sangat terpukul mendengar penuturan menantunya. Akan tetapi Sanghyang Jagatnata juga menceritakan petunjuk yang telah ia dapat dari ayahandanya, maka ia meminta kepada Prabu Umaran untuk memberikannya buah ranti sesuai dengan petunjuk yang ia dapat. Mereka lalu menuju taman yang di dalamnya terdapat pohon ranti. Sanghyang Jagatnata kemudian memetik salah satu buah ranti yang sudah matang. Dalam genggaman tangannya, buah ranti itu dibelah menjadi dua. Secara ajaib buah ranti yang terbelah itu dari dalamnya keluar sinar yang kemudian membentuk sosok tubuh dan berubah menjadi seorang gadis jelita yang rupanya sangat mirip dengan Dewi Uma, membuat Prabu Umaran dan Dewi Nurweni menjadi terkejut bercampur gembira. Kemudian gadis jelmaan buah ranti itu diberinama Dewi Ranti atau Umaranti (Parwati), ia kemudian diangkat anak oleh Prabu Umaran dan Dewi Nurweni, lalu diserahkan kepada Sanghyang Jagatnata untuk dijadikan istrinya menggantikan Dewi Uma.<br />
Kini Dewi Ranti menggantikan posisi Dewi Uma yang sudah tidak ingin lagi tampil di paseban agung Jonggring Salaka. Dewi Ranti sangat patuh dan setia kepada Hyang Jagatnata dan Dewi Uma, sehingga Dewi Uma menjadi sangat sayang kepada Dewi Ranti. Dari pernikahannya dengan Dewi Ranti, Sanghyang Jagatnata dikaruniai beberapa orang putra, yaitu Batara Cakra (Sakra), Batara Mahadewa, Batara Asmara, dan Batara Aswin (dewa kembar). Ke-empat putra Sanghyang Jagatnata ini menjadi pengurus tatanan Suralaya, mereka tinggal di kahyangan Mayaretna.</p>
<p>7</p>
<p><strong><em> Batara Kala</em></strong><em> </em></p>
<p>Gelombang air laut bergulung-gulung disertai suaranya yang membahana di perairan samudra. Gelombangnya menderu dan menghempas tepian serasa ingin memecahkan batu-batu karang yang berjajar menghalangi. Nun jauh di dasar samudra telah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan kehidupan alam di bawah laut. Ya! Rahsa (Kama) yang salah, yang terjadi atas perbuatan Sanghyang Jagatnata saat ingin melambangkan asmara kepada Dewi Uma itu kini menjelma menjadi sosok bayi raksasa yang kian hari kian bertambah besar pertumbuhannya. Jelas sudah bahwa bayi raksasa itu tidak berasal dari persemayaman rahim dewi Uma, tetapi samudralah yang menjadi persemayaman rahimnya. Ia hidup dan dibesarkan dari perburuan yang ditangkapnya dari kehidupan satwa laut.</p>
<p>Syahdan di kahyangan Mutiara yang terletak di dasar Samudra, Sanghyang Baruna yang telah mendapat laporan dari para rakyatnya yang berasal dari bangsa satwa laut, bahwa di perairan samudra telah terjadi perusakan yang dilakukan oleh sesosok bayi raksasa yang setiap hari selalu memangsa satwa-satwa laut hingga tubuhnya menjadi bertambah besar. Mendengar pengaduan rakyatnya, Sanghyang Baruna merasa khawatir kalau-kalau nanti lama kelamaan rakyatnya akan habis dijadikan santapan si raksasa, maka ia pun segera menghadang si raksasa yang sedang memburu ikan-ikan di dasar lautan. Perang tanding terjadi antara Hyang Baruna dengan raksasa muda yang bertubuh tinggi besar. Hyang Baruna mengeluarkan segala macam kesaktian dan pusaka-pusakanya untuk dapat menaklukan si raksasa, namun kesaktian dan pusaka Hyang Baruna tidak mampu membinasakan si raksasa. Tubuhnya sangat kekar dan kuat, kebal walau dihujani senjata-senjata pusaka. Merasa tidak sanggup membinasakannya, Hyang Baruna pun segera melesat ke permukaan laut dan terus terbang menuju kahyangan Suralaya. Sanghyang Jagatnata untuk mengamankan kehidupan rakyatnya di dasar laut. Dihadapan Sanghyang Jagatnata, Hyang Baruna menceritakan kejadian yang dialami rakyatnya di dasar laut. Ia meminta bantuan Hyang Jagatnata untuk menangkap dan membinasakan raksasa tersebut.</p>
<p>Sanghyang Jagatnata memerintahkan Batara Narada untuk mengerahkan pasukan kadewatan Suralaya dalam membantu Hyang Baruna dengan tujuan membinasakan raksasa yang telah dianggap membuat kekacauan di dasar samudra. Batara Narada segera memanggil Batara Brahma, Indra dan Bayu untuk memimpin pasukan kadewatan. Mereka lalu melesat menuju samudra, namun sebelum mereka terjun ke dasar samudra, mereka dikejutkan oleh sosok tinggi besar yang sedang memburu manusia di daratan, yang setelah tertangkap lalu dimakannya hidup-hidup. Ternyata sosok tinggi besar yang tidak lain adalah raksasa ganas yang baru saja bertempur dengan Hyang Baruna, sebenarnya telah melakukan pengejaran terhadap raja satwa laut itu, sehingga ia kini berada di daratan dan mulai memangsa mahluk-mahluk hidup yang ada di daratan. Melihat kejadian tersebut, Batara Narada yang setelah diberi tahu oleh Hyang Baruna, bahwa sosok tinggi besar itulah yang telah membuat kerusakan di alam bawah laut, maka Hyang Narada memerintahkan pasukan para dewa untuk segera mengepung, menangkap dan membunuhnya.<br />
Dari atas angkasa pasukan dewata secara serentak menggempur si raksasa. Hujan pukulan, tusukan dan sabetan senjata-senjata para dewa menghunjam secara bertubi-tubi. Akan tetapi sungguh dahsyat raksasa itu, jangankan hancur lumat, sedikit pun tubuhnya tidak cidera oleh pusaka dan berbagai macam pukulan sakti para dewa. Sebaliknya, si raksasa balas menyerang dan mengamuk membuat pasukan bala tentara kadewatan porak poranda. Banyak pasukan dewa yang jatuh terpelanting dan terpental jauh oleh terjangan serangan si raksasa. Pertempuran itu ibarat seperti manusia dengan capung-capung yang mengelilinginya.<br />
Diantara awan yang berarak, Batara Indra segera membidikan pusaka Chandrasa ke arah si raksasa. Panah melesat disertai suara bagaikan halilintar menggelegar menghantam tepat pada sasarannya. Reksa Denawa itu jatuh terpelanting oleh pusaka Indra, namun dengan tertatih-tatih ia kembali mencoba berdiri, dan sebelum ia bisa berdiri dengan tegak, Batara Bayu sudah menerjangnya dari angkasa. Si raksasa pun kembali jatuh terbanting diantara bebatuan cadas menimbulkan suara bergemuruh seperti longsornya sebuah bukit. Batara Bayu dengan cepat menerjang dan memukulkan Pancanakanya yang berkilat. Kuku sakti Bayu yang menurut cerita dapat merobohkan gunung sekalipun itu menghunjam tubuh si raksasa secara bertubi-tubi, namun memang sangat luar biasa tubuh raksasa itu sangat kebal sehingga Pancanaka Batara Bayu seperti tidak memiliki tuah. Raksasa itu sangat marah, ia pun bangkit dan melakukan perlawanan kepada Batara Bayu. Mereka saling tangkap, saling dorong dan saling banting. Tubuh keduanya tidak seimbang, si raksasa tubuhnya jauh lebih besar dari Batara Bayu. Walau Batara Bayu memiliki kekuatan Bayubajra, tapi si raksasa dengan kuat dapat menandinginya. Ia pun dapat melemparkan Batara Bayu hingga jatuh terpental. Batara Bayu segera mengeluarkan daya kesaktiannya berupa aji saipiangin, seketika angin topan praha keluar dari tubuh Batara Bayu dan menghantam musuhnya. Si raksasa tidak kalah hebat, pukulan angin topan Batara Bayu ditabraknya hingga angin itu menghantam tuannya sendiri. Batara Bayu terpental jauh terhantam pukulannya sendiri. Batara Brahma tidak tinggal diam, ia bertiwikrama hingga tubuhnya mengeluarkan api dahsyat yang kian bertambah besar kobarannya. Api itu lalu dipukulkannya ke arah si raksasa. Tidak kalah hebat si raksasa pun mengeluarkan api dari mulutnya sehingga dua pukulan sakti yang berupa api beradu di udara. Dua kekuatan dahsyat yang saling bertabrakan itu menggelegar, panasnya menghampar di permukaan bumi. Batara Brahma sendiri sempat tersurut mundur menghindari panasnya.<br />
Dalam keadaan masih diliputi amarah, Batara Brahma hendak mengeluarkan lagi kesaktiannya, namun ketika itu Batara Narada segera mencegahnya. Narada meminta Brahma, Indra, Bayu dan seluruh pasukan kadewatan agar ditarik mundur kembali ke Suralaya. Sebab menurut Batara Narada percuma menghadapi raksasa itu, ia sangat tangguh, tidak cidera oleh pusaka dan kesaktian para dewa. Maka, seluruh pasukan kadewatan segera melesat terbang kembali menuju Suralaya. Si raksasa yang sudah terlanjur murka tidak membiarkan musuhnya melarikan diri, ia terus mengejar pasukan para dewa yang menuju kahyangan Suralaya.<br />
Sesampainya di Suralaya, Batara Narada menceritakan semua kejadian yang dialaminya beserta dengan para dewa saat menghadapi kesaktian raksasa yang telah dianggap menjadi perusak marcapada itu kepada Sanghyang Jagatnata. Tiba-tiba kahyangan Suralaya digegerkan oleh kedatangan sesosok raksasa yang tinggi besar. Raksasa yang tidak lain adalah raksasa ganas yang baru saja dihadapi oleh pasukan para dewa itu kini telah menapakan kaki di kahyangan Suralaya. Sanghyang Jagatnata yang sudah memahami siapa sebenarnya mahluk raksasa tersebut segera keluar dari istana Jonggring Salaka untuk menghadapinya. Dihadapan Sanghyang Jagatnata, raksasa itu hendak mengamuk dan melancarkan serangan dahsyat, tapi Sanghyang Jagatnata telah lebih dulu melambarinya dengan aji Kemayan. Raksasa itu tidak kuat menahan kesaktian Sanghyang Jagatnata, tubuhnya limbung dan jatuh. Ia menggeram dan meraung memohon ampun. Tubuhnya si raksasa lemah lunglai tidak berdaya. Dihadapan para dewa, Sanghyang Jagatnata segera menghunus pusaka Kalaminta. Ia berniat membunuh si raksasa dengan pusakanya, tiba-tiba Sanghyang Ismaya datang dan melarang Sanghyang Jagatnata yang ingin membunuh si raksasa. Ia beralasan bahwa tidak pantas bagi seorang Raja Tribuana melakukan pembunuhan terhadap mahluk yang sudah tidak berdaya. Apalagi Hyang Ismaya menyindir, kalau memang si raksasa dianggap sebagai perusak dan harus dimusnahkan, kenapa tidak sekalian dimusnahkan dengan biangnya (ayahnya). Sanghyang Jagatnata merasa malu mendengar sindiran Hyang Ismaya, lalu ia mencabut dua taring si raksasa yang menjadi keganasannya. Taring dalam genggaman Sanghyang Jagatnata berubah menjadi pusaka yang diberi nama Kalanadah. Lalu Hyang Jagatnata memulihkan kembali kekuatan si raksasa dan diakuinya sebagai putranya dan di beri nama batara Kala.</p>
<p>Saat itu juga Batara Kala diberi pakaian kadewatan dan diperkenankan tinggal di kahyangan Suralaya bersama dewa-dewa lainnya. Dan Sanghyang Jagatnata menyuruh Batara Kala untuk dapat membiasakan diri memakan makanan yang layak seperti makanan para dewa lainnya.<br />
Pada kehidupan sehari-harinya Batara Kala yang kini tinggal di kahyangan Suralaya merasa bosan dengan kehidupan lingkungan kahyangan. Ia selalu merasa lapar, sebab selain aturan-aturan jatah makan yang ia peroleh juga makanan yang dimakan tidak sesuai dengan seleranya. Akhirnya Batara Kala menghadap ayahandanya, Sanghyang Jagatnata untuk mengijinkan dirinya kembali ke marcapada. Ia merasa tidak betah tinggal dilingkungan kahyangan, apalagi para dewa dan dewi tidak ada yang ingin berteman dengannya. Karena merasa kasihan Sanghyang Jagatnata mengijinkan Batara Kala untuk kembali ke marcapada. Namun sebelumnya Sanghyang Jagatnata meruat Batara Kala dengan gambar Kalacakra di keningnya. Ia berpesan kepada Batara Kala, bahwa siapa saja yang mampu membaca lambang yang ditorehkan di kening Batara Kala, maka mereka tidak boleh dibunuh, sebab mereka adalah kerabat para dewa di Suralaya dan merupakan utusan Sanghyang Jagatnata. Kemudian Sanghyang Jagatnata kembali memberi pesan agar Batara Kala tidak asal memakan makanan yang ada di marcapada. Adapun kodratnya yang sudah gemar memakan makanan yang bernyawa, hendaknya dibunuh terlebih dahulu sebelum dimakan. Sanghyang Jagatnata memberikan pusaka Kalanadah kepada Batara Kala untuk membunuh setiap korbannya yang hendak dimakan. Dan aturan-aturan lainnya yang dibuat oleh Sanghyang Jagatnata untuk Batara Kala, hal ini dimaksudkan agar kelak Batara Kala tidak memusnahkan kehidupan di marcapada. Maka, Sanghyang Jagatnata memberi ijin kepada Batara Kala untuk memakan mangsanya dengan syarat adalah mereka yang sudah ditentukan untuk dijadikan mangsa, yaitu :<br />
1. “Julung caplok” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbenam. Selain menjadi jatah Batara Kala, anak “Julung Caplok” juga merupakan cadangan makanan harimau.<br />
2. “Julung kembang” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit.<br />
3. “Ontang anting” yaitu anak tunggal puteri atau putera.<br />
4. “Kendana-kendidi” yaitu dua bersaudara putera dan puteri seayah-seibu.<br />
5. “Uger-uger lawang” yaitu dua bersaudara putera semua seayah-seibu.<br />
6. “Kembang sepasang” yaitu dua bersaudara puteri semua seayah-seibu.<br />
7. “Pandawa” yaitu lima bersaudara putera semua seibu-seayah.<br />
8. “Pandawi” atau “kembang setaman” yaitu lima bersaudara puteri semua seibu-seayah.<br />
9. “Pancuran kapit sendang” yaitu tiga bersaudara terdiri puteri-putera dan puteri seayah-seibu.<br />
10. “Sedang kapit pancuran” yaitu tiga bersaudara terdiri putera-puteri-putera seayah-seibu.<br />
11. “Runta” yaitu anak yang hari dan tanggal kelahirannya sama dengan ayahnya.<br />
12. Empat orang bersaudara putera semua seayah-seibu.<br />
13. Empat orang bersaudara puteri semua seayah-seibu.<br />
14. Lima bersaudara terdiri seorang putera, empat puteri seayah-seibu.<br />
15. Lima bersaudara terdiri seorang puteri, empat putera seayah-seibu.</p>
<p>Begitulah akhirnya Batara Kala dibatasi jatah makannya dan diharuskan membunuh mangsanya terlebih dahulu sebelum ia makan.</p>
<p>Sang surya beranjak lingsir, cahaya yang keemasan tersaput awan lembayung yang berarak. Senja berganti malam, kahyangan Suralaya kembali diliputi keheningan. Hanya suara-suara satwa kahyangan yang berderik menyatu dengan suara gending lokananta yang terdengar lirih, alunan yang mendayu merdu.<br />
Disaat para dewa dan dewi bercengkrama dalam wisma mereka, saat para batara dan batari ber asyik masyuk di peraduan mereka, nun disalah satu sudut taman kahyangan yang hanya di terangi oleh sinar kunang-kunang yang indah, Hyang Ismaya duduk merenung seorang diri. Sebentar lagi ia akan menjalani tugasnya turun ke marcapada meninggalkan tanah pusaka yang telah melahirkannya, Suralaya. Terlintas dalam pikirannya tentang saudaranya, Hyang Antaga yang telah lebih dulu turun ke marcapada, entah bagaimana nasibnya disana. Saat Hyang Ismaya masih termenung, tiba-tiba seberkas cahaya menjelma dihadapannya. Cahaya itu lamat-lamat berubah menjadi sosok Sang Hyang Tunggal. Sang ayah pun menanyakan perihal yang menjadi lamunan putranya. Ia menanyakan keteguhan hati putranya, apakah sang putra merasa berat hati menjalani tugas yang akan diembannya.<br />
Sang putra merasa ikhlas dengan apa yang telah dihadapinya sebagai ujian, namun dalam nada bersenda gurau ia menyindir keadaan rupanya yang telah tidak lagi rupawan. Wujudnya kini sangat jauh berbeda dengan wujudnya yang terdahulu, buruk rupa dan berkulit hitam legam. Hyang Tunggal menjelaskan bahwa tubuh Hyang Ismaya yang kini berubah hitam mempunyai makna tidak berubah; menyamarkan yang sejatinya, yang bermaksud ‘ada’ itu ‘tidak ada’, sedangkan yang ‘tidak ada’ diterka bukan, dan yang ‘bukan’ diterka ‘ya’. Dengan demikian sebenarnya Hyang Tunggal telah menunjuk Ismaya sebagai putra yang tertua secara sifat diantara kedua saudaranya, Hyang Antaga dan Manikmaya. Dan hitam kulit Ismaya sendiri dilambangkan sebagai misteri, ketidak tahuan mutlak, yaitu ketidak tahuan semua mahluk kepada Sang Penciptanya. Maka, Hyang Ismaya dalam tugasnya nanti di marcapada harus mengganti nama sebagai Semar Badranaya (Semar = Haseming Samar-samar atau Penuntun Hidup) dan Badra (Bebadra = Membangun dari dasar) dan Naya (Nayaka= Utusan).<br />
Hyang Ismaya mengajukan permintaan kepada Sanghyang Tunggal, bahwa di marcapada nanti ia meminta seorang saksi dalam menjalankan tugasnya. Ia tidak menginginkan saksi yang bukan merupakan bagian dari jati dirinya, ia akan mencipta seorang saksi yang bersal dari dirinya sendiri. Kelak di marcapada nanti selain ditemani oleh Petruk dan Gareng, Semar atau Hyang Ismaya menciptakan seorang saksi yang berasal dari bayangannya, dan saksi itu akan diberi nama Bagong.</p>
<p>(Bersambung )</p>
<p><strong>Sumber :</strong></p>
<ol>
<li><em><span style="text-decoration:underline;">Perpustakaan PKA </span></em></li>
<li><em><span style="text-decoration:underline;">Museum Wayang Indonesia – e Wayang.org</span></em></li>
<li><em> </em><em><span style="text-decoration:underline;">Naskah Purwacarita – Bagian Naskah Prosa Caruban</span></em></li>
<li><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em><em><span style="text-decoration:underline;">Naskah Wayang Purwa –</span></em></li>
</ol>
<ol>
<li><em> </em><em>Wikipedia : Syith ,Wayang Purwa ,Ramayana dan Mahabarata</em></li>
<li><em>http://www.kalangsunda.net &amp; </em>http://wayang.wordpress.com/</li>
<li><em> </em><em>http://e-wayang.org</em></li>
<li><em>http://www.facebook.com/pages/Kumpulan-Cerita-Wayang<br />
</em></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=41&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2011/02/08/wayang-purwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sikap Kebangsaan :  Antara Bisma – Druna &#8211; Sangkuni</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2011/01/21/sikap-kebangsaan-antara-bisma-%e2%80%93-druna-sangkuni/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2011/01/21/sikap-kebangsaan-antara-bisma-%e2%80%93-druna-sangkuni/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 09:28:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[…..&#8221;O kakanda Kresna, janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Titisan Wisnu terhormat, apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2011/01/21/sikap-kebangsaan-antara-bisma-%e2%80%93-druna-sangkuni/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=37&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>…..&#8221;O kakanda Kresna, janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Titisan Wisnu terhormat, apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!&#8230;&#8221; ( Epic Mahabarata – Baratayudha – Bab Bismaparwa; Mpu Wyasa)</em></strong></p>
<p>Mendengar cerita Pewayangan babad Baratayudha di radio 2 band, penulis tertarik pada cerita yang dituturkan Pedalang kondang tersebut, sementara mata penulis gelisah membaca banner teks berita di salahsatu stasiun televisi yang bertuliskan korupsi, keributan massa , opini pidato kenegaraan dari negara entah berantah serta lain-lainnya lagi. Sesaat terlintas untuk membaca kenapa kisah ini bertutur dalam ruang baca penulis dan studi diskusi dengan rekan sejawat maka tergerak membahas penyebab kisah pewayangan ini ditulis oleh sang Begawan Wyasa. Dengan metode pendekatan sejarah “<strong><em>les annales</em></strong> “ penulis mencoba menggambarkan epic Mahabarata tentang tokoh peperangan besar antara Pandawa dan Kurawa di lapangan Kurusetra. Penulis menemukan tiga tokoh hadir sebagai tokoh yang terintegrasi dengan kunci kisah Mahabarata; selain sebagai tokoh tetua dan pelaku juga menjadi saksi seperti Rama Widura , Prabu Destarata, Prabu Salya .selain tokoh-tokoh Epos lainnya .</p>
<p>Seandainya Begawan Wyasa sang pengarang Kisah Mahabarata ini mengillustrasikan tokoh Druna dan Bisma adalah tokoh yang hidup di ruang dan tempat yang Ironi, maka itu adalah hanya bermakna kiasan yang ingin disampaikan Wyasa. Dikisahkan dalam Koridor Mahaguru, 3 orang ini yang mengabdikan diri untuk negara dan sebuah penebusan masa lalu dari sejarah Keluarga Barata dan latar belakangnya masing-masing. Ini adalah sebuah keniscayaan bahwa Kisah Epik Baratayudha ingin menyampaikan sebuah pesan yang terbungkus rapih untuk naskah karya sastra kuno yang secara kebetulan masih rasional terjadi di kehidupan berbangsa ini. Di Nusantara ini dikenal sebagai Kisah Epos Pewayangan.</p>
<p>Dewabarata adalah nama Resi Bisma saat muda, yang dilahirkan dalam Dinasti Kuru. Merupakan ksatria yang pilih tanding dalam menggauli Integritas Keilmuan untuk Kerajaan Astina sebagai konsep hidupnya , ketika Astinapura notabene adalah warisan yang menentukan prosesi kepemimpinan berikutnya maka Bisma memilih menjadi Ksatria lajang, seorang Resi adalah pilihannya dan menyerahkan Kepercayaannya kepada adik tirinyanya untuk memimpin Astina daripada dia harus melepaskan keyakinannya sebagai resi dari kasta Ksatria. Dengan segala kerendahan hatinya Bisma berjanji tetap mendampingi Hastinapura hingga akhir hayatnya. Sebagian para sastrawan sepakat bahwa itu adalah pilihan kewajiban seorang yang telah melepas baju ksatrianya dan menjadi resi, sebagian para sastrawan berpendapat; dibalik kesungguhan itu &#8211; kesetiaan Bisma justru ditunjukan dalam dedikasinya pada Ilmu Pengerahuan dan Ilmu Poltik &#8211; kenegaraan di Astinapura. Tak ada guru sejati yang tangguh dikalangan Kurawa-Pandawa selain Bisma tokoh negerawan yang lebih mendedikasikannya dalam bentuk ruang dedikasi pendidikan bernegara.</p>
<p>Dan bila Druna adalah tokoh yang di hidupkan ambigu oleh penulisnya, sifat Ambiguitas nya menyebabkan ke-iri-an para Pandawa terhadap Kurawa yang terus menjadi. Druna yang dilahirkan bukan dari keluarga Istana namun dari kasta Brahmana lebih memilih pengabdiannya untuk para Kurawa di Hastinapura, dengan menjadi Guru yang mumpuni dalam Ilmu Perang ingin menebus keraguan terhadap masa lalunya atas kekecewaan yang terjadi padanya. Pasca kejadian itu Druna mengalami masa Transdental , kini Druna menjelma menjadi seorang Resi yang disegani banyak pihak , Druna telah berhasil mencapai Ilmu tertinggi dari sebuah Kitab Perang, dia menjadikannya ilmu tersebut menjadi praktis dan membumi. Disegani para teman dan ditakuti para musuh. Namun Ambiguitas Resi Druna lebih memilih untuk menjadi Ambivalen atas masa lalunya sehingga Druna mengajar kepada Pandawa dan Kurawa seperti Bumi dan langit. Sebagian Sastrawan, Druna dianggap sebagai penghianat profesi Keresian.</p>
<p>Sangkuni yang dilahirkan dari keluarga Istana dan terhormat, yang mendapatkan pendidikan politik serta kenegaraan adalah tokoh Antagonis yang dihadirkan untuk membuka jurang pemisah dari babad Mahabarata, meruncing menjadi perpecahan terbuka dari skema politik di internal Negara Hastina antara Pandawa dan Kurawa. Berbekal ketidaksetujuan dan ketidakpuasan masa lalu pada kakaknya yaitu Gandari,dengan menikahi Destarata yang buta dan kebenciannya pada Pandu yang memilih Kunthi daripada Gandari maka Sangkuni mendesain kepentingan ilmu negara dan politiknya akan menjadikan anak keturunan Kurawa berkuasa penuh atas Hastinapura, maka ketika Pandu wafat digantikan Destarata – Wali Raja, Sangkuni kini menjadi Perdana Mentri Kurawa dan membangun strategi suksesi yang inkonstitusional, apapun itu yang kelak menjadikan Sangkuni sebagai Begawan saat pensiun seperti Abiyasa sang kakek dari keluarga Barata dan Bisma yang dihormati dinasti Kuru.</p>
<p>Namun mengapa ketiga tokoh ini ada, seperti Illustrasi Wyasa. Kenapa ? Mencoba mendekonstruksi untuk melihat dan memahami tentang Naskah Mahabarata ditulis; dengan metode Les annalles penulis ingin mendekonstruksi mengapa itu terjadi,</p>
<p>Dari sikap Bisma yang lebih memilih rasa kasih sayangnya pada Pandawa dan Resi Druna memilih mendidik metode Ilmu dengan keras kepada Pandawa namun sebaliknya pada Kurawa. Kepada Kurawa sikap Bisma mendidik keras dalam urusan Poltik Negara sedangkan Druna lebih memanjakan.  Bisma tahu bahwa pendidikan kasih sayangnya membuat Pandawa akan menjadi lebih Bijaksana terhadap sikap keras Resi Druna dalam mengajar Pandawa. Sedang Sangkuni tetap membangun jurang dengan sistematis dalam mempersiapkan Pengganti kakak iparnya “sebagai Raja yang Buta” untuk Kurawa.</p>
<p>Sikap Ambigu Resi Druna dengan mendidik keras Pandawa untuk menjadi lebih kuat, karena sikap Kurawa lebih dimanjakan oleh politik Sangkuni yang menghancurkan sistem kekerabatan Keluarga Barata. Seorang Druna telah menjadikan Bima menjadi Benteng tangguh Pandawa , tak ada Bima yang gagah berani dan perkasa bila Bima tidak selesai dari Logika Resi Druna tentang BIMALODRA dan DEWARUCI dan Bisma mengajarkan Yudistira arti pengabdian dan kesetiaan dalam Ilmu Negara,. Tak ada panah 1000 busur Arjuna bila tidak dijadikan seorang ksatria yang penasaran mencari Guru sejatinya dan Arjuna yang selalu di no.2 kan setelah Aswatama – putra Resi Druna, membuat Arjuna menjadi Ksatria yang terampil. Lalu takkan ada Srikandi dalam cerita Arjuna bila Bisma memilih Pandawa saat perang terjadi karena Bisma tahu bahwa berperang adalah jalan terbaik bagi penyadaran Kurawa &#8211; Pandawa dan lebih suka mati untuk membela Hastina bukan Kurawa. Namun 2 orang Resi inilah yang sangat berperan dalam penentuan hasil akhir, membela dengan Negara melalui analogi  berseberangan dengan paham displin Ilmu yang didapatkan oleh 2 Resi ini .</p>
<p>Semua disajikan dalam kisah “Ironi” di babad Mahabarata ini. Tidak semata-mata karena faktor genealogi mereka harus menjadi bagian yang satir di puncak cerita Naskah ini, namun karena Wyasa sang Penulis naskah ini menyampaikannya untuk Dedikasi dan Integritas yang menentukan kenapa ketiga tokoh ini harus memilih untuk membuka simpul-simpul kisah ini. Permasalahannya adalah Chaos terjadi karena masalah-masalah internal Bangsa Kuru di Epik Pewayangan Mahabarata ,walau harus diselesaikan dengan berperang bukan lagi karena wacana politik yang menjawab kekacauan itu , namun Bharatayudha adalah pilihan terakhir yang harus diambil oleh Dinasti Kuru. Ini tidak lain akibat pertikaian yang tak kunjung selesai dari desain keserakahan, penghianatan serta keangkaramurkaan kepada para rakyat. Dan di akhir kisah Epik inipun masih harus berproses dengan perbaikan infrastruktur dan tatanan Pemerintah yang porak poranda pasca perang  .</p>
<p>Seandainya mereka harus ada dalam kisah ini ( Bisma – Druna-Sangkuni.red), itu karena contoh Illustrasi terhadap bentuk-bentuk dedikasi dan integritas anak bangsa, walau harus menjadi pertanyaan namun tetap 3 karakter ini dihidupkan secara klise agar tetap berusaha untuk membuktikan ketidak mampuan dan ketidakcukupan menyelesaikan permasalahan yang terjadi hanya dengan simpul metodelogis disiplin keilmuan. Simpul Astinapura mengillustrasikan bahwa Negara tidak membutuhkan Pemimpin yang Ambigu dan Ambivalen yang selalu merengek dan mengeluh terhadap suatu keadaan yang terjadi dan mensikapi terhadap efek kebijakan yang sudah terjadi dan sedang berjalan, ketentuan bagi masyarakat umum tetap dilandasi sikap-sikap yang tak lepas dari apa yang dilakukan pemimpinnya, bukan saja sibuk dengan pencitraan “Who is The Boss “ namun diperlukan orang yang masih menjunjung kesetiaan dan Integritasnya terhadap Profesi yang sedang di pimpinnya dan sikap ke-profesionalitasan diperlukan dalam menyelesaikan tiap masalah, meskipun dia harus berhadapan dengan tembok besar keseimbangan antara yang baik dan buruk dari apa yang mereka dapatkan didalam tingkat pemahaman.</p>
<p>Dalam Epik Perang ini ketika Pandawa harus melawan para guru dan kakeknya, itu karena sistem yang disepakati sebagai jalan terakhir untuk penyelesaian , namun penulis naskah Mahabarata ini justru menyampaikan dengan makna kiasan bahwa perang sebenarnya bukanlah penyelesaian yang diharapkan karena memang sistem sosial kemasyarakatan tidak berkata untuk berperang dengan saudara ( Bhagawadgita.red ), intinya mekanisme yang terjadi bukanlah suksesi pemenangan yang cenderung korup terhadap kekuasaan namun semata keberlangsungan suatu Negara itu harus bisa menjalankan Undang-undang Dasarnya secara konsekwen . Maka ketika para Guru Astina seperti Bisma terjebak dalam Ambivalenisme dan Druna menjadi Ambigu, lalu ditambah sikap Despotisme <em>Sangkuni</em> lah yang pertama mencoba ide keberuntungan untuk sebuah “peluang dadu” untuk memebuat inkonstitusional dengan harapan bahwa sistem dan mekanisme bernegara akan tetap selalu dipahami dengan SUKSESI di pihak Kurawa berikutnya, walaupun “sebrengsek” apapun kualitas kepemimpinan sebelumnya. Sangkuni berharap bahwa sikap Ambivalen dan Ambigu para “older” tetap dilanjutkan terus bagi para oposan berikutnya kelak, dan ketika Perang Baratayudha terjadi itu karena akibat sistem dan mekanisme bernegara yang selalu dirongrong oleh “peluang dadu” dan dukungan Korupsi Nepotisme yang setuju bersekutu dengan bentuk Hegemoni dan Otokrasi , bukan Demokrasi lagi tapi malah Propaganda palsu yang dijalankan, seperti Sangkuni mengillustrasikan kepada Bisma dan Druna tentang Suksesi Kurawa sehingga mereka berdua menjadi Ambigu dan Ambivalen terhadap kisah yang terjadi. Maka wajar Mahabarata ditutup dengan epic Perang Baratayudha, semua karena sistem dan mekanisme yang merubah sejarah dan landasan kenapa kerajaan Hastinapura didirikan, berubah dengan perlahan tapi pasti sesaat konteks kepentingan bercampur dengan semuanya tanpa tedeng aling-aling lagi, dan terjadilah ketentuan Perang saudara yang tidak bisa dihindari lagi, bukan kudeta. Semoga para pemimpin dan calon pemimpin bahkan calon perwakilan lembaga rakyat bangsa ini kelak dapat menyadari arti sebuah dedikasi dan integritasnya bagi bangsa ini.</p>
<p><em>Bagus Soetrama </em></p>
<p><em>agnaagni@yahoo.com</em></p>
<h1>Pustaka</h1>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><cite><strong>Buku dan media :</strong></cite></li>
</ul>
<p><cite>Asep Sunandar Sunarya , Dorna Gugur , Giri Harja 3 </cite></p>
<p><cite>Herjaka HS , ( 2003 ) Anugerah Kesetiaan Dewabrata , Penerbit Kanisius</cite></p>
<p><cite>Zoetmulder P.J. (1983), </cite><cite>Kalangwan, sastra Jawa Kuno selayang pandang</cite><cite>, Penerbit Djambatan</cite></p>
<p><cite>Soemitro RMJ . (1992),Baratayudha ,Translasi dan Tafsiran jillid 1&amp; 2 ,Paper Pustaka Keluarga RMJ.Sapoetro ,Cimahi</cite></p>
<p><cite>Sapoetro RMJ . ( 1975 ), Mahabarata, Translasi dan Tafsiran ,Pustaka Keluarga Paku Alaman </cite></p>
<ul>
<li><cite><strong>Web &amp; Public Space Service :</strong></cite></li>
</ul>
<p><cite>http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabarata / Astadasapharwabharata</cite></p>
<p><cite>http://www.virtualpune.com/html/channel/edu/institutes/html/bhandark.shtml</cite></p>
<p><cite>http://koenraadelst.bharatvani.org </cite></p>
<p><cite>Publik Diskusi ,2010, Lembaga Konservasi Kebudayaan – LSBS UNISBA </cite></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=37&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2011/01/21/sikap-kebangsaan-antara-bisma-%e2%80%93-druna-sangkuni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/16/31/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/16/31/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 16:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[The Last Ark Of Javanees : “ Warisan Kontroversial Deandels dan Raffles” Setelah penguasaan Kerajaan Belanda dan ketika masa transisi kepemerintahan Inggris di Jawa, ada perubahan struktural yang signifikan dalam situasi politik saat itu, pasca persidangan Deandels di Hadapan Raja &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/16/31/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=31&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>The Last Ark Of Javanees : “ Warisan Kontroversial Deandels dan Raffles”</strong></p>
<p style="text-align:left;">Setelah penguasaan Kerajaan Belanda dan ketika masa transisi kepemerintahan Inggris di Jawa, ada perubahan struktural yang signifikan dalam situasi politik saat itu, pasca persidangan Deandels di Hadapan Raja Belanda Raja Willem I serta penyerahan dan peralihan kepemimpinan Gubernur Jendral Hindia Belanda kepada Jan Willem Jansenn, dengan laporan pertanggungjawaban setebal 3 buku itu , Deandels berusaha memaparkan berbagai alasan sebagai jawaban atas reaksi keras yang diberikan Raja Willem I pada Deandels di depan Sidang Militer Tinggi Dewan Kerajaan Belanda, baginya saat itu cukup menyudutkan posisi dalam masa kepemimpinan Deandels guna mengendalikan Hindia Belanda, bagi Deandels pun ini berakibat serangan dari lawan-lawan politiknya yang selalu mengganggu dan merongrongnya. Salah satunya yang dianggap sebagai kebijakan yang kontroversialnya yaitu pembuatan jalan Pos Jawa “De Groote Postweg” yang telah memakan biaya yang cukup mahal dan korban cukup banyak penduduk Jawa, dengan sistem kerja paksa yang di jalankan Deandels menyebabkan sebagian pendukung poltiknya Deandels tidak bisa membela dan berbuat banyak untuk mendukung terus Deandels. Bahkan Raja Willem I berfikir tidak saja merugikan secara finansial , malah menyebabkan kerabat Istana menjadi antipati kepada pihak Kerajaan Belanda. Deandels pun tak mampu membela “De Groote Postweg” sebagai keuntungan dan jawaban strategis militernya dalam sidang Militer tersebut, jabatannya sebagai Gubernur Jendral segera digantikan oleh Jan Willem Jansenn.</p>
<p style="text-align:left;">Beberapa Fakta yang diketemukan penulis tentang Deandels bahwa :</p>
<ol>
<li>Saat pembangungan De Groote Postweg, Deandels berfikir bahwa itu adalah Strategi militernya untuk melawan kekuatan Laut dari Armada Inggris yang telah memasuki wilayah Perairan Nusantara. Dan perlu disegerakan untuk dibuat dengan cara mempercepat pembangunannya, ini menyebabkan kondisi psikologis masyarakat Jawa berubah terutama menghadapi kebijakan Kerja Paksa. Walau pada akhirnya kebijakan Kerja Paksa ini menjadi proyek yang ideal untuk dijalankan setiap Gubernur Jendral Belanda dalam memaksa Pribumi untuk bantu membayar hutang Belanda di Eropa,”Kebijakan Tanam Paksa”</li>
<li> Pada Sidang militer itu dikatakan Saat pembangunan De Groote Postweg ini, Deandels telah melanggar Kode Etik Kepercayaan yang telah diberikan Raja Louis Napoleon. yaitu menggunakan kekuasaannya “berlebihan” untuk membuat Jalan Raya De Groote Postweg yang mengakibatkan banyak lahan dan daerah yang dikuasai oleh Rakyat, Penguasa Inlander Eropa serta Raja-raja di Jawa  diambil alih oleh Deandels, tuduhannya yaitu dengan alasan tanpa “ijin” Raja Belanda atau Raja yang melantiknya. Deandels adalah Jendral Perang yang berpengalaman di Eropa, namun dia melupakan bahwa karier Politiknya ditentukan oleh langkah-langkah kecil yang dilupakannya, yaitu para teman-teman poltik dari pejabat lokal, yang secara diam-diam para pejabat lokal menentang keras kebijakan Deandels, seperti F.Waterloo mantan Residen Cirebon dan beberapa Pejabat setingkat Bupati dan para Raja Jawa yang menuliskan Opini kekecewaan terhadap kebijakan Deandels tersebut dan mengirimkan Opini itu ke Kerajaan Belanda. Akibatnya persidangan militer pun terjadi, Deandels menyadari dan dengan berusaha laju itu Deandels melakukan perlawanan terhadap penguasa lokal tersebut yaitu salah satu usaha pembunuhan diam-diam yang dilakukan kroni Deandels kepada Pangeran Notokusumo dan Notodiningrat salah satu putra kesayangan Hamengkubuwono II, walau ini tidak terbuktikan kebenarannya namun kenyataan inilah yang dilupakan Deandels. Dan usaha pembelaan pun menjadi sia-sia ketika dihadapan Raja dan Dewan Kerajaan saat persidangan Militer, Deandels tidak mempunyai dukungan yang kuat dari siapapun, bahkan Raja Williem I segera memecat Deandels dan memutasikan Deandels menjadi penasehat pribadi bidang militer, sebagai pertimbangan karena Deandels mempunyai karier Militer yang bagus.</li>
<li> Daendels telah merubah Struktur dasar pemerintahan kerajaan di Jawa yang menyebabkan sakit hatinya rakyat , para pejabat dan raja-raja Jawa. Bukan semata-mata karena armada Inggris dengan mudah mendarat di Jawa karena perjanjian kalah perang Eropa, namun kekuasaan Deandels dan penggantinya telah dilumpuhkan dari dalam, karena kebijakan politik Deandels yang menyebabkan dukungan kepada Kerajaan Belanda runtuh. Salah satu Kebijakan Deandels lainya yaitu  diangkatnya para Bupati Lokal menjadi Perwakilan Pemerintahan Kerajaan Belanda dan sejajar dengan para Raja Jawa dan merubah Tatanan Administrasi Kepemerintahan Kerajaan lokal di Jawa yang selama ini diberlakukan Pemerintahan Kerajaan Belanda tanpa meminta pertimbangan Dewan Kerajaan Belanda, membuat perubahan pandangan Rakyat Jawa kepada Kerajaan Belanda membangun dan memupuk luka serta dendam yang bisa menyebabkan Pemberontakan besar dikalangan para bangsawan Jawa.Ini sangat merugikan pihak kerajaan Belanda.</li>
</ol>
<p>Sedangkan 3 Fakta tentang Raffles :</p>
<ol>
<li> Kedatangan Raffles sebenarnya diperuntukan untuk segera membereskan hal-hal yang diwariskan Deandels terutama dalam Sistem Administrasi yang berantakan. Namun Raffles menghadapi kenyataan bahwa Wilayah Hindia Belanda ini sangat rumit dan cukup merepotlkannya, jadi perlu penanganan khusus bagaimana cara mengembalikan kepercayaan Rakyat HIndia Belanda ini untuk bisa bekerjasama dalam membangun kepentingan yang sejajar. Sayangnya Raffles berhadapan dengan oknum-oknum pejabat Lokal yang “Korup” maka usaha pembenahan ini menjadi sangat terjal.</li>
<li> Raffles berhadapan arus politik kekuasaan yang diwariskan Deandels dalam sistem pemerintahan lokal, dengan menghadapi kenyataan serta waktu pemerintahan transisi yang waktunya pendek ini Raffles  justru merekomendasikan untuk tetap menjalankan sistem yang ditinggalkan Deandels seperti kesetaraan Pemerintahan dan Sistem Administratif, bahkan terjebak dengan disposisi Militer maka Raffles menggunakan Agitasi militernya untuk menakut-nakuti para Pemimpin lokal tersebut.Bahkan Raffles memiiki karier bukan dari Militer ,dia seorang Administratur yang direkrut dari kalangan Akademi dan mempunyai kecenderungan “Humanis”</li>
<li>Khawatir peninggalan kebijakan Deandels tentang kebencian dari kalangan rakyat berubah menjadi pemberontakan, Raffles malah menjalankan Politik pemandulan kekuasaan lagi yaitu dengan memecah Kesultanan Hamengkubuwono menjadi 2 yaitu Kesultanan Hamengkubuwono dan Paku Alaman, dengan demikian maka kekuatan militerpun berkurang . Sistem ini mirip dijalankan oleh para “leluhurnya” Belanda dalam memecah Mataram dan seisinya. Ini merupakan kegagalan dan berakibat fatal bagi pemerintahan Kolonial. Pada puncaknya kelak kebencian ini yang melatarbelakangi salah satu putra mahkota kesultanan Jogjakarta (P.Antakusuma/Pangeran Diponegoro) memberontak, bukan karena masalah “Sejengkal Tanah Leluhur” saja namun warisan itu dibangun terus menjadi kebencian yang memuncak diseluruh rakyat Jawa umumnya , khususnya rakyat Jogja.</li>
</ol>
<p>Maka faktanya, Perang Jawa sebagai jawaban akibat kegagalan Administrasi Kepemerintahan Belanda di Jawa, pada masa pemerintahan Inggris melalui Raffles sebetulnya itu bisa dilakukan perubahan -perubahan mendasar namun Kolonialisme tidak membawa perubahan yang siginifikan bagi rakyat  hanya meneruskan kebijakan-kebijakan sebelumnya.. Terlalu besar biaya yang harus dikeluarkan untuk Perang Jawa ? bila dikatakan untuk membayar “Mercenary Army” atau menyuap para oknum pejabat Korup untuk ikut berperang melawan Pangeran Diponegoro, karena Auditing yang membengkak maka kerajaan Belanda akhirnya harus segera menghentikan peperangan ? Pada kenyataannya bila warisan yang ditinggalkan Deandels dan Raffles itu masih bisa kita saksikan dan rasakan saat ini, itu karena memang Legacy yang patut diberikan oleh  bangsa penjajah, setelah bangsa ini membantu kepentingan mereka. Tidak menjadi kebanggaan bila Legacy itu harus diterima cuma -cuma namun menjadi kewajiban kita bahwa apa fakta sebenarnya yang melatarbelakangi itu semua terjadi bukan dari sistem rekaan sejarah yang dibuat para kolonialis belaka atau karena sebab “sakit hati” rakyat memberontak, bahkan mengakui sebagai bukti kebaikan dari para Penjajah. Terlalu naïf untuk dikatakan bahwa perang-perang di Nusantara ini akibat masalah Kultur belaka namun pada kenyataannya Perang Jawa sendiri bukan karena kultur yang dilanggar, lebih pantas dikatakan sebagai akibat kegagalan Administrasi Pemerintah Kolonial secara menyeluruh yang berakibat Fatal dan merenggut korban jiwa yang sangat banyak, yang melahirkan kebudayaan Korup dikalangan Oknum pejabat Lokal serta terbangunnya poltik Agitasi yang menghancurkan sistem kekerabatan dan pemerintahan yang berupa kerajaan saat itu. Fakta lainnya yang ditemukan bahwa “Perang Jawa” ini sebetulnya jauh sebelum November 1825 telah dimulai melalui pemberontakan-pemberontakan kecil setingkat Bupati ataupun Kyai, hanya saja “ Java Oorlog” ditafsirkan penulisnya sebagai pemberontakan Kultur namun  ini lebih pantas sebagai perlawanan kepada kebobrokan sistem administrasi pemerintah Kolonial. Kini semua sub kultur di NKRI ini menuntut tentang hak-hak kultur yang harus dibereskan segera oleh pemerintah Republik Indonesia, tidak cukup dengan pendekatan teori modern tentang Hukum Tata Negara yang sekarang dipahami namun membereskan sub kultur di negeri ini haruslah melihat fakta -fakta sejarah yang telah ada dan dipahami oleh anak bangsa sebagai pendekatan cultural dalam memahami apa sebenarnya terjadi saat itu , sebagai negosiasi terhadap keinginan dasar bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Negarakertagama telah membahas ini jauh sebelum pelayaran bangsa Eropa masuk ke Wilayah Nusantara ini, walau tidak sedetail yang kita harapkan namun ada dalam logika bangsa yang mengenal Ke-Bhinekaan itu sendiri.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Bagus Soetrama</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Refferensi :</strong></p>
<ol>
<li> Netherland Royal Archief , http://beeldbank.nationaalarchief.nl ,2009-2010</li>
<li> Daendels,H.W 1814 Staat der Nederlands Nederlansche Oostiindische Bezitiingen onder het Besturr van den Gouvernur General Herman Williem Deandels in jaaren 1808 -1811.”S Gravenhage.</li>
<li> Anonim, 1855 “geschiedenis van het Bataafsche en Hollandsch Gouverment op Java 1802 -1810” dalam TBG , jilid I – V ,tahun 1855</li>
<li> Raffles,S.J.T , History Of Java Vol 1 &#8211; 2 University Of Michigan Libraries, Google Books</li>
<li> Egerton H.Edward , Journey Sir Stamford Raffles ; England In The Far East : General Books Publisher,1897 6.</li>
<li>Marihandono,Djoko. 2005. Sentralisme Kekuasaan Pemerintahan Herman Williem Deandels di Jawa 1808 – 1810 : Penerapan Instruksi Bapoleon Bonaparte, Disertasi FIB-UI •	: Jurnal “ Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808 : Komparasi Sejarah dan Trdisi Lisan.2004.</li>
<li> Yamin, Muh ; Perang Diponegoro ;Djembatan 1950 8.	Notodiprojo K.R.T , Wawancara “Kerajaan Terakhir Mataram “, Warnasari edisi Juni 1989</li>
<li> Soemitro R.M.J , Wawancara Penulis tentang “Kebijakan Cerita Babad Betawi karya Pangeran Notokusumo &#8211; Studi Tembang Jawa sebagai Budaya Tradisi Tutur Yang Turun Menurun  ”, Cimahi  2010 10.</li>
<li>Media Publik  baik  Diskusi kecil penulis , informasi media Cetak dan Elektronik dalam konteks Wawancara dan Dialog</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=31&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/16/31/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Catatan Tambahan dari “From The Last Ark Of Javanees Standing”</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/13/sebuah-catatan-tambahan-dari-%e2%80%9cfrom-the-last-ark-of-javanees-standing%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/13/sebuah-catatan-tambahan-dari-%e2%80%9cfrom-the-last-ark-of-javanees-standing%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 08:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan Moral Sejarah Perlu dicatat sebuah gerakan kultur telah membuka paradigma sistem demokrasi negeri ini, berangkat dari salah satu sebuah sub-kultur bangsa ini, kini telah membuka paparan baru bahwa negeri ini bukanlah seperti pemetaan demokrasi dalam pemahaman bangsa lain. Jogja &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/13/sebuah-catatan-tambahan-dari-%e2%80%9cfrom-the-last-ark-of-javanees-standing%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=29&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gerakan Moral Sejarah</strong></p>
<p>Perlu dicatat sebuah gerakan kultur telah membuka paradigma sistem demokrasi negeri ini, berangkat dari salah satu sebuah sub-kultur bangsa ini, kini telah membuka paparan baru bahwa negeri ini bukanlah seperti pemetaan demokrasi dalam pemahaman bangsa lain.</p>
<p>Jogja telah memberikan goresan sejarah yang cukup panjang dalam buku anak bangsa ini , rakyatnya telah memberikan keputusan yang cukup adil bagi mereka, minimal untuk rakyat jogja. Terlepas itu monarki atau bukan , demokrasi  ataupun bukan, perlu disadari ketika bangsa ini terjebak dalam wacana demokrasi yang kebablasan,rakyat Jogja telah cukup arif membahas dan mengembalikan wacana itu dengan masuk kembali  dalam kerangka dasar kultur masyarakatnya yang “Asli Jogja”.</p>
<p>Tak ada keangkuhan ketika  Jogja  terusik, hanya batas kesadaran dalam sejarah mereka mulai bergerak di bawah alam sadarnya memecahkan raungan Agitasi politik dan kekuasaan. Semenjak 200 tahun yang lalu pun , sejarah Jogja telah membuktikan  bahwa mereka bukan seperti monarki “Eropa” dan bukan Monarki seperti pemahaman “les mirabes”. Bahkan kerajaan Belanda dan Inggris pun coba menafsirkan itu dengan kepentingan  Imprealismenya agar keduanya  bisa berdampingan menjadi kolonialisme namun  tidak mudah Jogja di taklukan seperti saudara tuanya, Solo. Kepentingan politik dan Aspirasi yang digulirkan oleh Kedua kerajaan Eropa diatas tidak mampu mendudukan Jogja menjadi bawahan kerajaan Belanda dan Inggris, tidak seperti di kerajaan lain yang dilucuti para Imprealis bahkan Di India yang notabene wilayah kerajaan  yang banyak pun kekuatan dilucuti &#8211; di pecah dan di adu domba.hingga menjadi kepingan-kepingan negeri yang selalu berselisih.(India-pakistan).Di Jogja ,percobaan itu terjadi berulang Sejak masa Sultan Agung Mataram hingga  Perang Djawa telah  membuktikan bagaimana perang saudara itu terjadi yang sebenarnya,dan Perang Jawa adalah konskwensi Kerajaan Belanda yang perlu dibayar mahal,pun harus “me likuidasi” kamar dagangnya (VOC) dan Pihak Belanda harus  mengembalikan kedaulatan Jogja  ke kerajaan asli tradisi semestinya dengan kesetaraan yang disepakati bersama .</p>
<p>Rakyat Jogja cukup baik belajar dari sejarah saat mereka menyadari  isu “demokrasi kebablasan” digulirkan di Jogja. Cukup sudah dengan saudara tua “Mataram” yang di obrak-abrik dengan Kolonialsime,  cukup hanya  “Deandels &amp; Raffles” yang membuat jogja menjadi terpecah, dan tidak perlu lagi ada “Djava Oorlog” bila pemerintah yang berkuasa di Wilayah NKRI ini menyadari fakta sejarah yang telah terjadi. Apapun kepentingan tentang kebutuhan Politik, Jogja menyadari ini sebagai percobaan kedua setelah masa Imprealisme dulu abad 17 dan itu terlalu klise bila hanya sekedar pengalihan isu belaka. Bangsa ini cukup pintar memahami kejadian ini khususnya rakyat jogja yang sadar akan kepentingan kerajaan di wilayah tanah leluhurnya. Setidaknya pemerintah telah berhasil mempercepat proses demokrasi nya “Jogja” yang selama ini tertunda di lembaga Legeslatifnya NKRI. Semakin cepat semakin baik.</p>
<p>Apapun itu ,rakyat Jogja telah bergerak dengan penentuan apa yang mereka pikir ,rasakan dan butuhkan. Bagi penulis Gerakan ini adalah Gerakan Moral Sejarah yang tumbuh dari sanubari rakyat , tanpa harus berfikir itu monarki atau bukan,apapun itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=29&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/13/sebuah-catatan-tambahan-dari-%e2%80%9cfrom-the-last-ark-of-javanees-standing%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/27/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/27/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 12:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[From The Last Ark Javanees Standing Dalam latar belakang diatas,  mulanya Mataram merupakan kabupaten di bawah kekuasaan Sultan Pajang.Akan tetapi, setelah Sutawijaya sebagai Bupati Mataram jajahan Pajang merasa kuat dan tak mau lagi tunduk pada Sultan Pajang,dia pun memberontak. Sutawijaya &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/27/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=27&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>From The Last Ark Javanees Standing</em></strong></p>
<p><em>Dalam latar belakang diatas,  mulanya Mataram merupakan kabupaten di bawah kekuasaan Sultan Pajang.Akan tetapi, setelah Sutawijaya sebagai Bupati Mataram jajahan Pajang merasa kuat dan tak mau lagi tunduk pada Sultan Pajang,dia pun memberontak. Sutawijaya menobatkan diri sendiri  sebagai raja pertama Mataram, bergelar Panembahan Senopati.Inilah Awal Mataram terbentuk…sss…..</em></p>
<ul>
<li>Era Sultan Agung</li>
</ul>
<p>Ketika Panembahan Senopati wafat, digantikan oleh putranya:Raden Mas Jolang.Di masa pemerintahannya terjadi lagi berbagai kekacauan, namun demikian berhasil diatasi olehnya. Beberapa tahun bertahta, ia pun wafat,digantikan oleh putranya: Raden Mas Rangsang atau Anjakrakusma, yang setelah naik tahta  bergelar Sultan Agung/Sultan Agung Anjakrakusuma.</p>
<p>Dari banyaknya raja-raja Mataram,Sultan Agung lah yang sangat terkenal.Selain mempunyai kecakapan,ia dikenal bercita-cita luhur.Di zaman pemerintahannyalah berdiri tapak makam raja-raja Mataram di Imogori, tak jauh dari Kota Gede,kurang lebih 5 km dari Kota Jogjakarta.Sebagai seorang raja yang taat menjalankan ajaran Islam,membuat Sultan Agung sempat berusaha mengusir Belanda yang ketika itu berkuasa di Batavia,sekarang Jakarta.</p>
<p>Demi mewujudkan cita-citanya agar tak dijajah, langkah awal yang dilakukan oleh Sultan Agung yaitu menyatukan raja-raja kecil di seantero pulau Jawa saat itu. Setelah itu, ia akan kerahkan tentaranya ke Batavia.</p>
<p>Namun, karena kurangnya persediaan bahan pangan dan serangan penyakit, dua invasi ke Batavia dapat di gagalkan oleh Belanda(VOC.red).Pada serangan kedua Sultan Agung berhasil menewaskan Gubernur Jendral J.P Coen meskipun pasukan Sultan Agung dapat dipukul mundur dari Batavia.</p>
<p>Setelah Raja Agung atau Sultan Agung wafat tahta kesultanan digantikan oleh putranya yaitu Sunan Amangkurat I.</p>
<p>Pada abad ke-16, sebelum Belanda menjajah Hindia Belanda, Nusantara terdiri atas beberapa kerajaan yang saling bersaing untuk bisa menguasai perdagangan karena Jalur Laut kini dikuasai oleh kekuatan ketiga yang disebut Imprealisme, yang pada waktu tidak bersamaan ingin menguasai Pulau Jawa. Kerajaan Jawa yang besar dan terakhir, dikenal dengan nama Mataram II-Islam ( Mataram I=Mataram Hindu), didirikan pada tahun 1587 oleh Panembahan Senopati,sebagai pecahan dari kerajaan Pajang.</p>
<p>Pada puncak kejayaannnya, pengaruh kerajaan ini tidak saja tersebar ke luar Jawa tetapi sampai ke daerah yang sekarang bernama Malaysia.Pada zaman pemerintahan Raja Amangkurat II, Kerajaan Mataram, yang pada mulanya terletak di Kota Gede, di pinggiran yang sekarang bernama kota Yogyakarta, berpindah tempat beberapa kali antara tahun 1587 dan 1680. Raja Amangkurat II inilah yang mendirikan kraton di Kartasura dekat kota yang sekarang bernama Surakarta (Solo). Pada zaman pemerintahan raja Amangkurat II hubungan antara kraton dan pemerintahan kolonial Belanda memburuk lagi karena timbul akibat Superior kolonisasi dalam sektor perdagangan baik darat ataupun laut setelah jatuhnya Malaka kepada kekuasaan Imprealis dan pengaruh kekuasaan Politik &#8211; Ekonomi oleh Belanda di wilayah Batavia atau Masa Pemerintahan kakeknyanya, Panembahan Senopati (Sultan Agung Hanyrakusumah.red) di sebut Jayakarta. Berawal dari perjanjian perdamaian antara VOC dengan Amangkurat I untuk menyudahi peperangan dan menyetujui untuk dikedua belah pihak akan saling bantu bila terjadi kekacauan. Ini merupakan langkah Politik Strategis Belanda untuk bisa terlibat dalam masalah Internal Mataram.Bagi Trunojoyo ,  ini adalah kesalahan besar bagi mataram dan Trunojoyo pun memberontak besar-besaran maka jatuhlah sebagaian wilayah penting Mataram . Amangkurat I yang jatuh sakit kemudian Wafat dalam masa perjalanan pelariannya ke Batavia lalu digantikan oleh Adipati Anom Amangkurat II, yang masih muda untuk meminta bantuan Belanda (Speelman.red) dalam memadamkan pemberontakan sebagaimana titah Almarhum Ayahnya, dan dengan perjanjian yang cukup rumit Belanda menyetujui untuk membantu merebut kembali semua wilayah yang dikuasai oleh Trunojoyo dan berhasil. Konskwensinya Krawang serta sebagian kecil wilayah Priangan sebagai Gudang Beras Mataram jatuh ketangan VOC,lalu Pelabuhan di Pantai Utara serta perdagangannya kini dibawah kendali VOC.Semuanya ini adalah sebagai Pembayaran Ganti Rugi atas bantuan VOC dalam memerangi Trunojoyo.Secara Diplomatis Amangkurat II memang dibawah pengawasan VOC,namun secara diam-diam Sunan Amangkurat II membantu para pemberontak seperti Untung Surapati.Pemberontakan ini tidak membuat Sunan Amangkurat II menjadi lebih baik di hadapan para bangsawan Jawa saat itu,malah cenderung Skeptis dan khawatir,sementara itu Belanda menghembuskan Nafas Deviden et empera melalui saudara tirinya yaitu Sunan Puger. Setelah wafat tahun 1702 Sunan Amangkurat II digantikan oleh Putranya yaitu Sunan Mas, dengan Gelar Sunan Amangkurat III , namun Ketika  Amangkurat III menggantikan ayahnya, Belanda dengan sengaja membantu saudara tirinya (Sunan Puger.red) untuk dijadikan raja baru,kelak bergelar Sunan Pakubuwono I sebagai penyeimbang kekuasaan Mataram terdahulu.Karena Belanda melihat keuntungan dari Perjanjian terdahulu untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan guna intervensi Politik dalam kalangan Internal Keluarga Kerajaan,akibat dari seringnya terjadi pemberontakan yang terjadi selama ini,apalagi kini Kesultanan Mataram yang lumpuh telah dan berhutang banyak pada VOC maka inilah sebagai konskwensinya,membiarkan Belanda mengintervensi Hukum Adat – Istiadat Istana dan memporak-porandakan sistem kekerabatan Istana Mataram dan kelak berdampak “bola Salju” pada pemerintahan selanjutnya hingga ke anak-turunannya,sampai pecahnya kekuasaan Mataram menjadi setingkat Kabupaten dari awalnya 1/3 pulau Jawa – Madura.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penobatan Pakubuwono I, yang disusul oleh serangkaian perang perebutan kekuasaan ini berakhir berkat bantuan Belanda.Kini berlanjut dengan dinobatkannya cucu Pakubuwono I menjadi Pakubuwono II. Semangat untuk memerangi Belanda tetap dimiliki Pakubuwono II seperti yg diwariskan dari kakeknya namun karena sikap Ambivalen dari Sunan Pakubuwono II yang mudah terpengaruh menyebabkan daerah Pakubuwono II di Kartasura diserang oleh  pemberontak dari Pulau Madura (Pemberontakan Sunan Kuning-30 juni 1742.red), sebuah pulau yang terletak disebelah pantai timur Laut Jawa.Sebagai Sultan dengan sikap Ambivalen maka Belanda dengan mudah mempengaruhinya dan membantu serta memberikan janji kepada Belanda. karena bantuan Belanda tersebut sebagai balasan atas bantuan yang diberikan dalam menahan serangan ini. Pakubuwono II memberikan bagian penting dari wilayah Warisan dari kekuasaan Mataram kepada pemerintah kolonial Belanda,yaitu sepanjang Pantai Utara Jawa,sebagian Wilayah Cirebon dan Priangan timur. Akibat melemahnya kekuasaan Pakubuwono, pada tahun 1745, Pakubuwono II pindah dan membangun istana baru di Surakarta, yang bernama Surakarta Hadiningrat, kini kraton utama di kota Solo.</p>
<p><strong><em>PERPECAHAN DI KERAJAAN MATARAM</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p>Perebutan kekuasaan di dinasti Mataram belum berakhir, kali ini, antara Pakubuwono II dan saudara tirinya Pangeran Mangkubumi. Ketika Pakubuwono II digantikan putranya, Pakubuwono III, Mangkubumi juga mengangkat dirinya sebagai raja dan mendirikan pemerintahan tandingan di Yogyakarta.Ini adalah akibat dari Ingkarnya janji Sultan Paku Buwono kepada Pangeran Mangkubumi tentang Eksistensi Tanah Jawa Warisan Sultan Agung berupa tanah Sukawati yang urung diserahkan sultan kepada Pangeran Mangkubumi serta keberadaan Belanda yang semakin Kokoh dengan para antek-anteknya yang mempengaruhi sistem administrasi kerajaan; diantaranya Patih Paku Buwono II yg bernama Pringgalaya yang menghasut Sultan Pakubowono tentang keberadaan Pangeran Mangkubumi sebagai Saudara tirinya yang akan memberontak dengan pertimbangan masukan dari Belanda dan Pengaruh Pangeran Mangkubumi yang kharismatik maka ketika semakin lama kekuasaan Pangeran Mangkubumi bertambah besar dan berpengaruh,lalu karena tidak senang dengan hasutan Patih Pringgalaya Pangeran Mangkubumi memberontak kepada Sultan Pakubuwono,akibatnya mudah di tebak ,Belanda campur tangan menengahi pertikaian itu dengan memaksa Sultan Paku Buwono untuk mengadakan perjanjian dengan Pangeran Mangkubumi dengan hasutan bahwa “haruskah ada perang lagi?”,dan berhasil. Perjanjian itu dilaksanakan di desa Giyanti ,Perjanjian itu diberi nama Palian Nagari &#8211; dalam sejarah disebut Perjanjian Giyanti –Tgl 13 Februari 1755. Isinya, untuk menengahi perang saudara ini maka kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kesunanan Surakarta dibawah pimpinan Pakubuwono III dan Kesultanan Yogyakarta dibawah Mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwono I. Perjanjian Gijanti ditandatangani oleh kedua raja ini pada tahun 1755 dan 4(empat) tahun kemudian dibangun kraton utama Yogyakarta, Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun oleh Hamengkubuwono I di dusun Pacetoggan di tegalan yang dibangun ditengah-tengah Hutan beringin,dan Pangeran Mangkubumi memproklamirkan  Hamengkubuwono I sebagai Susuhunan ing Mataram.</p>
<p>Hasutan Belanda belum selesai ,pun pemberontakan kesunanan di Surakarta juga masih belum berakhir. Raden Mas said, seorang pangeran lainnya yang merasa tidak puas, memisahkan diri dari kraton Pakubuwono III,dengan pertimbangan yg cukup sulit,Raden Mas Said harus melawan 3(tiga) kekuatan sekaligus (Belanda-Jogjakarta-Surakarta) maka Raden Mas Said menyerahkan diri kepada Susuhunan Sunan Paku Buwono III.Sekali lagi Belanda Campur tangan untuk kesekian kalinya dalam Rumah Tangga Keluarga Kerajaan.Melalui Gubernur Jendral Hartingh mengusulkan untuk jalan damai dengan mengadakan Persetujuan Antara Sunan PakuBuwono III dengan Raden Mas Said pada tanggal 17 Maret 1757 di Salatiga,dikenal dalam sejarah yaitu Perjanjian Salatiga. dan atas restu Sunan mendirikan kerajaan yang merdeka di Surakarta. Dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangkunegoro I, Raden Mas Said menjadi pemimpin kerajaan kedua di Surakarta dan pada tahun 1757 ia membangun istananya sendiri bernama Puro Mangunegaran.</p>
<p>Perpecahan terakhir pada kerajaan Mataram terjadi dalam tahun 1813, yaitu pada masa pemerintahan Inggris di Hindia Belanda, yang hanya berlangsung selama empat tahun. Seperti apa yang telah dilakukan Belanda, ,Gubernur Jendral Inggris untuk Hindia Belanda Sir John Thomas Stamford Raffles memanfaatkan pertikaian politik lainnya, yang kali ini terjadi di didalam Kraton Yogyakarta, dengan cara memaksakan berdirinya kerajaan lain yang merdeka di dalam kerajaan Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang sebelumnya adalah Tahanan Politik Belanda(Daendles.red) dan paman Hamengkubuwono III yang berkuasa di Kesultanan Jogjakarta, pada waktu itu Inggris menyatakan sebagai Bahwa Natakusuma sebagai kepala pemerintahan baru setingkat Residen Bupati, yang berpusat di istana Kadipaten yang dibangun pada tahun 1813, yang letaknya hanya beberapa kilometer dari Kraton Yogyakarta. Pangeran Natakusuma memakai gelar Paku Alam I dan kratonnya dinamakan Puro Pakualaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><strong><em>Pecahan terakhir dari Mataram itu bernama </em></strong><strong><em>Paku Alaman </em></strong></li>
</ul>
<p><strong><em> </em></strong><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Lambang_Pak"></a><strong><em> </em></strong></p>
<ul>
<li><em>Setelah 1813</em></li>
</ul>
<p>Sebelum tahun 1755 hanya ada satu ibukota Kerajaan Mataram.Ibukotanya bernama Solo.Dengan Politik Belanda Deviden et Empera kerajaan ini terpecah menjadi dua,</p>
<ol>
<li>berdasarkan Perjanjian Gianti (Palian Nagari.red) pada tahun 1755 yaitu Nagari Surakarta Hadiningrat ,dengan ibukotanya yaitu Solo,sedangkan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat beribukotakan Yogyakarta dengan Raja yang pertama adalah Pangeran Mangkubumi adik Sri Susuhunan Pakubowono II bergelar Sri Sultan Hamengkubowono I.</li>
<li>Dua tahun setelah itu,1757, terjadi pula Perjanjian Salatiga,ditandai dengan berdirinya Kadipaten Mangkunagaran.Yang menjadi penguasannya yaitu Raden Mas Said  atau Pangeran Sambernyowo , bergelar Pangeran Mangkunegoro Kartosuro, yaitu kakak dari Sri Susuhunan Paku Buwono II.</li>
</ol>
<p>Nama Kecil (lahir.red) Sultan Hamengkubuwono I ( Pangeran Mangkubumi.red) adalah Bendoro Raden Mas Sujono,kelahiran 4 Agustus 1717. Dinobatkan menjadi  sebagai raja Ngayogyakarta Hadiningrat tgl 13 Februari 1755.Ia lebih dikenal sebagai Sinuhun Suwargo, yaitu raja yang berfikiran maju dan ingin berbuat kebaikan terhadap pemerintahan dan rakyatnya.Mempunyai dua orang permaisuri. Pada tanggal 21 Maret 176, yaitu 9 (Sembilan) tahun setelah masa bertahta,lahir anaknya yang kesebelas, diberi nama  Bendoro Raden Mas Hary Sujadi,putra garwa Ampeyan(selir.red) bernama Bendoro Raden Ayu Srenggoro.Putra inilah dikemudian hari menjadi Gusti Pangeran Adipati Pakualam I, atau Sri Paku Alam I, dilantik 17 Maret 1813 oleh Pemerintah Inggris  di bawah Pimpinan Sir John Stamford Raffles sebagai Gubernur Jendralnya.Dengan demikian,setelah 1813 ,Kerajaan Mataram terpecah menjadi 4 Nagari terdiri dari:</p>
<ol>
<li>Nagari Surokarto Hadiningrat (Kasunan) : Sunan Paku Buwono ( Perjanjian Gianti )</li>
</ol>
<ul>
<li>Dengan Kekuasaan Regensi /Kabupatian : Kadipaten Mangkunegoro (Perjanjian Salatiga)</li>
</ul>
<ol>
<li>Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat ( Kesultanan) : Sultan Hamengkubuwono (Perjanjian Gianti )</li>
</ol>
<ul>
<li>Kekuasaan Regensi / Kabupatian : Kadipaten Paku Alaman</li>
</ul>
<p>Oleh penguasa penjajahan saat itu 4 (Empat) wilayah ini disebut Vorstenlanden ( Tanah Kejawen)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><em>Fitnah &amp; Pusaka</em></li>
</ul>
<p>Tahun 1792, tanggal 24 Maret,Sultan Hamengkubuwono I, wafat.Digantikan oleh Gusti Raden Mas Sundoro, Kelahiran 7 Maret 1750, Putra dari Garwa Padmi (Permaisuri) Gusti Kangjeng Ratu Kadipaten.Dinobatkan sebagai pengganti ayahanda pada tgl 2 April 1792,di usia 42 tahun.</p>
<p>Saat sebelum wafat Sultan Hamengkubowono I mengangkat Raden Mas Harya Sujadi yang setelah dewasa bergelar Bendoro Pangeran Haryo Notokusumo menjadi orang kepercayaan istana,sebagai anak yang cerdas dan buah pikirannya luas beliau diserahi tugas untuk membantu dan mendampingi urusan kraton Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat,mendampingi kakaknya yaitu Raden Mas Sundoro Putra Mahkota Kesultanan Jogjakarta sebagai Calon Sultan Hamengkubuwono II.</p>
<p>Setelah ayahanda Sultan Hamengkubuwono I wafat dan digantikan oleh putranya ,bergelar Sultan Hamengkubuwono II. Raden Mas Haryo Sujadi (Pangeran Haryo Notokusumo.red) bersama anaknya Raden Tumenggung Natadiningrat difitnah karena akan memberontak Belanda bersama-sama Sultan Hamengkubuwono II, pemberontakan ini disebut juga Pemberontakan Raden Rangga . <span style="text-decoration:underline;">U</span>ntuk membuktikan ketidakterlibatannya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang di tekan oleh Penguasa Belanda,maka Raden Mas Sujadi (Pangeran Haryo Notokosumo) dan Raden Tumenggung Natadiningrat diminta u/ diserahkan kepada Gubernur Jendral Deandels.</p>
<p>Dari Wawancara  Kangjeng Tumenggung Raden Tumenggung Notodiprojo – Pengelola  Perpustakaan Paku Alaman : “Pangeran Haryo Notokusumo , beribukan Raden Ayu Srenggono,putri Seorang Lurah Karangnongko di daerah Bagelen ( Antara Wates-Purworejo,tepatnya sebelah barat Wates.red),kakeknya yaitu Kyai Prayogati yang senang bertapa”,dikisahkan Kyai Prayogati dalam Pertapaannya dia berharap agar turunannya bisa menjadi raja akan tetapi ketika itu,tak ada yg berani menyebut kata raja.Istilah disebutkan berpayung kuning,hingga disaat bertapa beliau malah mendengar suara gaib bahwa ada di suatu pohon sebuah senjata pusaka yang diperuntukan bagi anak cucu Kyai Prayogati yang bernama Pusaka Kyai Buyut berupa Tombak,hingga sekarang pusaka tersebut tersimpan di Istana Pura Pakualaman.” (Warnasari Edisi Juni 1989.red)</p>
<p>Lanjutnya “Setelah Mimpi tersebut, saat Sultan Hamengkubuwono I melakukan perjalanan sampai singgah di daerah Karangnongko,melihat Putri seorang Lurah yang cantik jelita lalu menjadikannya sebagai Istri. Dari istri inilah Hamengkubuwono I mendapatkan seorang Putra, yang kelak bernama Pangeran Notokusumo dikemudian hari bernama Gusti Pangeran Paku Alaman I. Sedangkan kelak Istri Pangeran Notokusumo  berasal dari Putri Bupati Magetan, Lahirlah Raden Tumenggung Natadiningrat-cucu Sultan Hamengkubuwono I yang kemudian hari menjadi Paku Alaman II menggantikan ayahandanya,Pangeran Notokusumo.”</p>
<p>Baik Pangeran Notokusumo dan putranya Pangeran Notodiningrat dibesarkan didalam lingkungan Istana  Hamengkubowono, keduanya dibesarkan dalam ruang Edukasi Istana dengan baik yang menjadikannya  Pintar, Cerdas dan Terampil.menjadikan 2 putranya ini menjadi orang yang terpercaya dalam lingkungan istana dan memerikan tugas dan jabatan Strategis di Istana Hamengkubuwono. Selepas wafatnya Sultan Hamengkubuwono I dan digantikan Sultan Hamengkubuwono II,dengan jabatan dan posisi strategis yang di pegang Pangeran Notokusumo , Belanda dengan Gubernur Jendralnya Daendels membaca  sebagai ancaman. Dengan strateginya, Belanda berusaha menggunduli kewibawaan Sultan Hamengkubuwono II,apapun caranya, bermula dihadapan para Bupati bawahan Sultan, baik Surakarta ataupun Jogjakarta, terlebih kekuasaan di Jogjakarta yang kini mulai di “obok-obok” oleh Belanda. Dalam Pemikiran seorang Kolonialisme,wajar bila kebijakan Daendels diambil dalam mensikapi  bantuan yang diperlukan oleh Pemerintah Kolonial yang sah untuk biaya Perang Eropa. Maka dengan Politiknya mengangkat semua bupati bawahan Sultan Hamengkubuwono I terdahulu sebagai “Ministeer Of Goverment” atau perwakilan Resmi Pemerintah Belanda setara Utusan Raja Belanda pada tgl 28 juli 1808 adalah kebijakan strategis kolonial, dengan posisi ‘istimewa’ini, semua Bupati dapat masuk Istana Raja dan diharuskan menggunakan Kereta Kuda Istana dengan pengawalan ketat militer Belanda serta Daendels merubah Tatanan Upacara Adat Istana dengan mendudukan Bupati sejajar dengan Sultan, keputusan Daendels ini menyebabkan kedudukan Sultan Hamengkubuwono II semakin berbahaya dalam eksistensi dan kewibawaanya.Tanpa menunggu waktu lama ditiupkan hembusan nafas Pemberontakan oleh Daendels, melalui utusan khususnya  Van Breeman,ia menyatakan :</p>
<ol>
<li>Mendudukan Sultan Hamengkubuwono II sebagai Sultan Sepuh akibat Protes yang dilakukan Sultan pada Deandels dalam Pengangkatan Bupati menjadi perwakilan resmi Pemerintah Belanda berakibat Pranata Ulang Upacara Adat seluruh Istana di Jawa (28 Juli 1808) dan Sultan Hamengkubuwono II digantikan Oleh puteranya, atas usul Belanda menjadi Sultan Hamengkubowono III dengan nama julukannya Sultan Raja dan Sultan Hamengkubuwono II  bergelar Sultan Sepuh, Daendels mempertahankan Sultan Sepuh tetap tinggal di Istana Jogja hingga masa kekuasaan Daendels berakhir,Sultan Sepuh tetap bersabar untuk tidak memberontak, bibit peninggalan Daendels ini pada akhirnya Tahun 1825 berakibat pecahlah pemberontakan besar melawan Pemerintah Kolonial Belanda, yang terkenal dengan sebutan  Perang Diponegoro (Putra Sultan Hamengkubowono III.red ),</li>
<li>Daendels mendudukan kembali Danuredjo II sebagai Patih Istana yang dahulu dipecat Sultan Hamengkubuwono II  karena kedekatan dan bantuan Danuredjo kepada Pemerintahan Belanda daripada kepentingan Kesultanan Jogjakarta. Dan Daendels adalah Orang yang paling paham menggunakan potensi orang sebagai bagian dari kepentingannya,</li>
<li>Menuduh Bupati Raden Rangga Prawiradirja III (menantu Sultan.red) akan memberontak Sultan Hamengkubuwono dan memaksa Sultan untuk menggantinya dan menyerahkannya kepada Daendels. Pada kenyataannya Raden Rangga hanyalah berontak pada Daendels bukan pada Sultan akibat kebijakan keras yang diberlakukan Daendels di wilayahnya.</li>
<li>Daendels memahami bahwa Pangeran Notokusumo bersama anaknya adalah ancaman terselubung,maka harus segera dipisahkan dari Putra Mahkota Sultan (Sultan Hamengkubuwono III) , dengan kebijakan Strategis bahwa Pangeran Notokusumo dan putranya Pangeran Notodiningrat pun  harus diserahkan sebagai tahanan poltik Daendels.Semula ditolak oleh Sultan Sepuh,namun saat akan terjadi pemberontakan Bupati Maospati-Madiun Rangga Prawirodirejo III kepada Belanda , ayah mertua dari Pangeran Notokusumo yang merupakan Bupati Magetan-secara kebetulan bertetangga dengan Bupati Maospati ,sekutu Bupati Maospati.Sebagai Ayah,menyurati mantu dan anaknya yaitu Pangeran Notokusumo beserta istrinya adalah wajar ,namun kesempatan ini digunakan oleh Patih Danurejo II sebagai orang kepercayaan Istana yang berfungsi sebagai mata-mata sekaligus utusan Daendels, Danurejo melaporkan kepada Gubernur Jendral Deandles hubungan surat tersebut adalah ancaman,dan Patih Danurejo memfitnah bahwa surat tersebut menyatakan Pangeran Notokusumo akan bersekutu dengan Bupati Rangga Prawiradirja III akan memberontak Istana. Akibatnya Pangeran Notokusomo beserta anaknya Pangeran Notodiningrat dibebastugaskan Oleh Sultan Hamengkubowono II setelah Deandels dengan arogansi militernya memaksa Sultan untuk bertindak, kemudian kedua putranya ini di tangkap dan diamankan oleh Gubernur Jendral Deandels dan di buang ke Batavia melalui Cirebon sebagai tahanan politik dengan tuduhan Pemberontakan.Selama perjalanan pembuangannya ,Di Cirebon beliau menerbitkan karya sastra” Babad Betawi”, didalam tuturannya yang berisikan Jurnal perjalanan Pangeran  beserta anaknya adalah korban fitnah dan Tahanan Deandels sebagai korban Politik Tangan besi dalam penguasaan di Tanah Jawa. Dalam salah satu bagian kisahnya, saat di Cirebon keduanya nyaris tewas diracun oleh Belanda , namun beliau di tolong  oleh seorang Perwira Belanda keturunan yang bernama Jacob Sari,yang serta merta memberikan minuman anti racun dan segera mengamankan keluarga Istana tersebut ke Batavia,di wilayahnya kini disebut Jatinegara.</li>
</ol>
<p>Belanda sekutu Prancis yang kalah perang di Eropa oleh Inggris, mengakibatkan Belanda mundur ke Bogor dan Semarang  sementara Pangeran Notokusumo dan Pangeran Notodiningrat masih tetap menjadi Tawanan Belanda. maka akhirnya Gubernur Jendral Deandels dikembalikan ke negerinya, Daendels di “sidang” didalam satu persidangan kongres Belanda dihadapan Raja Willem I, menyatakan bahwa Daendles telah melakukan kesalahan besar yang menyebabkan kekalahan Belanda di Jawa, dalam traktat perjanjian antara Gubernur Belanda Hindia Timur dengan Daendles , Daendels yang telah bertindak sewenang-wenang dengan “Kerja Paksa” dalam pembuatan jalan raya “Anyer-Banyuwangi” melanggar pasal 29 Instruksi dari Gubernur Jendral Belanda Louis Napoleon tentang kebijakan Penguasaan dan pemanfaatan wilayahnya, satu tuduhan lainnya yaitu menghancurkan ahli waris keluarga Istana Hamengkubuwono yang notabene dalam perjanjian terdahulu masa Amangkurat I, Kesultanan adalah keturunan Mataram sekutu dari Kerajaan Belanda, seharusnya melindungi tapi justru Daendels menahan sebagai Tahanan Politik tanpa Persidangan ,bahkan hendak mengeksekusi mati Pangeran Notokusumo dan Pangeran Notodiningrat, namun hal ini ditolak oleh Residen Cirebon F.Waterloo dengan mengingat dan mempertimbangkan dapat mengakibatkan Pemberontakan besar dikalangan Istana di Tanah Jawa  yang berdampak di seluruh rakyat Tanah Jawa, kebetulan pada saat bersamaan Belanda sekutu Prancis tengah berperang di Eropa  melawan Inggris dan Prusia.</p>
<p>Dan Raffles sebagai Gubernur Jendral Inggris, membebaskan keluarga Istana tersebut di Semarang.Setelah dibebaskan Raffles , Keluarga Notokusomo beserta anak-istri diboyong ke Surabaya. Dibawah pengawasan Inggris, Raffles berunding dengan Sultan Hamengkubowono II/Sultan Sepuh yang saat itu menjabat  Sebagai Sultan selepas  pemerintahan Daendels sedangkan Patih Danureja II berhasil dibunuh dan Putra Sultan Sepuh diangkat menjadi Adipati Anom pengganti Patih Danureja II,sedangkan Pangeran Notokusumo dan Pangeran Notodiningrat akan di bebaskan dan di beri jaminan beserta keselamatan keluarganya. bila Sultan Sepuh menyetujui desakan Inggris saat itu,untuk membentuk Pemerintah Indipendent, maka pada tanggal 17 Maret 1813 Kadipaten Paku Alaman Berdiri, maka sejak kekuasaaan Mataram terpecah-pecah menjadi 3 wilayah, Mangkunegaran-Hamengkubowono dan Kadipaten Paku Buwono, kini Pemerintahan Kolonial Inggris berhasil memecah kekuasaan Hamengkubuwono II menjadi 2 <strong>yaitu Kasultanan ing Ngayogyakarta Hamengkubowono </strong>dan  <strong>Kadipaten Paku Alaman</strong> yang semuanya mempunyai kekuasaan yang terbatas di bawah pengawasan ketat Pemerintah Kolonial, sebagai pemimpin wilayah tersebut Pangeran Notokusumo diangkat menjadi Kepala Wilayah dengan Gelar Paku Alam I sedang putranya diberi gelar Kangjeng Pangeran Suryaningrat,beliau memegang tampuk pemerintahan hingga tahun 1829 .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah wafat  digantikan oleh putranya dengan Gelar Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II pada tanggal 4 Januari 1830. Sebutan Adipati untuk pembesar Paku Alaman berlaku mulai tahun 1816,sedangkan tambahan dengan gelar Arya mulai tahun 1818.Pada jaman Sri Paku Alam VII di beri tambahan dengan gelar Sampeyan Dalem. Berikut</p>
<ol>
<li><strong><a title="Paku Alam I" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_I">Paku Alam I</a> (1813 &#8211; 1829)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam II" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_II">Paku Alam II</a> (1829 &#8211; 1858)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam III" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_III">Paku Alam III</a> (1858 &#8211; 1864)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam IV" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_IV">Paku Alam IV</a> (1864 &#8211; 1878)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam V" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_V">Paku Alam V</a> (1878 &#8211; 1900)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam VI" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_VI">Paku Alam VI</a> (1901 &#8211; 1902)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam VII" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_VII">Paku Alam VII</a> (1903 &#8211; 1938)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam VIII" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_VIII">Paku Alam VIII</a> (1938 &#8211; 1998)</strong></li>
<li><strong><a title="Paku Alam IX" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Alam_IX">Paku Alam IX</a> (1998 &#8211; sekarang)</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=27&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagian I  “Betulkah Indonesia adalah Reruntuhan  Atlantis yang hilang?”</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/bagian-i-%e2%80%9cbetulkah-indonesia-adalah-reruntuhan-atlantis-yang-hilang%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/bagian-i-%e2%80%9cbetulkah-indonesia-adalah-reruntuhan-atlantis-yang-hilang%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 12:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah review dari “Eden Of The East,karya S.Oppenheimer dan “Arya Invasion Theory &#38; Ayodia-karya Koenraad Elst” – Penyusun : Bagus Soetrama.Dipl.Aud.Eng Berangkat dari beberapa Studi Literasi yang dilakukan penulis, ditemukan beberapa fakta logika yang menarik tentang perulangan kata yang disebut &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/bagian-i-%e2%80%9cbetulkah-indonesia-adalah-reruntuhan-atlantis-yang-hilang%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=24&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sebuah review dari “Eden Of The East,karya S.Oppenheimer</em></strong></p>
<p><strong><em>dan “Arya Invasion Theory &amp; Ayodia-karya Koenraad Elst” –</em></strong></p>
<p>Penyusun : <strong><em>Bagus Soetrama.Dipl.Aud.Eng</em></strong></p>
<p><em>Berangkat dari beberapa Studi Literasi yang dilakukan penulis, ditemukan beberapa fakta logika yang menarik tentang perulangan kata yang disebut sebagai Atlantis. Dengan ditemukannya bukti-bukti keilmuan dan logika baru yang cukup kontroversial dengan sejarah peradaban saat ini, yang telah dikembangkan oleh para peneliti pasca Penjelajahan Dunia- Revolusi Industri dan Era Imprealisme, penulis mencoba melihat ini semua sebagai reruntuhan logika sejarah dari  penyebaran dan peradaban manusia di bumi, sejak bumi ini tercipta hingga saat ini dimana kita berpijak.</em></p>
<p>Seorang peneliti Arkeologi dan Antropologi asal Belanda, <strong>Koenraad elst</strong>, mengatakan bila bumi yang kita tinggali saat ini adalah hasil keseimbangan perubahan iklim Global sebelumnya maka bukanlah sebuah kiasan “<strong><em>kaca Freudian yang buram</em></strong>” saja dan seperti illustrasi <strong>Plato</strong> bahwa pernah ada sebuah bangsa yang tenggelam bersama permukaannya karena naiknya permukaan laut di bumi dan bersamaan letusan gunung berapi secara berturut2 dan dalam waktu yang berdekatan ,bersamaan menghancurkan dan menenggelamkan benua tsb (<strong>Timeus and Critias</strong>.red). Hal ini dapat kita pahami sebagai konskuensi logis, bila saat pun bumi kita sedang mengalami perubahan Iklim Global, dengan makin tipisnya lapisan Ozon dan naiknya suhu udara di kedua kutub bumi maka kita rasakan perubahan iklim ini membawa efek pada lingkungan dimana tempat manusia berada, peradaban manusia sekarang menyebutnya sebagai Bencana Alam baik banjir ataupun dampak efek rumah kaca lainnya.</p>
<p>Tertarik membaca logika sebuah buku yang ditulis oleh <strong>Stephen Oppenheimer</strong>, yang berjudul “Eden of the East” yang mengatakan bahwa ada sebuah benua yang tenggelam, yang saat ini disebut Asia Tenggara. <strong>Stephen Oppenheimer</strong> telah memfokuskan penelitian pada satu pulau Tapobrane dan sebagian landas kontinen lainnya yaitu Sunda: wilayah ini antara Malaysia, Sumatra, Jawa, Kalimantan , Thailand, Vietnam, China dan Taiwan, yang sebagian besar wilayah tersebut sudah ditempati selama Zaman Es purba sebelum mencair. Dimungkinkan bahwa disini pusat peradaban paling maju telah ada, ia menyebutnya Eden, nama ini diambil dari “Alkitab surga” (dari bangsa Edin Sumeria, dalam naskah tersebut disebut juga &#8220;Dataran Aluvial&#8221;), sumber Barat-Asia termasuk Alkitab ini melakukan Prosesi dengan mencari asal-usul manusia atau setidaknya mencari apa yang namanya peradaban dari Timur. Dalam beberapa kasus, seperti dalam referensi Sumeria &#8220;Timur&#8221; ini, <strong>Koenraad</strong> mengatakan : jelas merupakan budaya pra-<strong><em>Harappa</em></strong> dan <strong><em>Harappa</em></strong>, tetapi bahkan lebih banyak negara-negara timur yang saat ini ada tampaknya pun masih merupakan bagian peradaban itu, benua itu,bagi <strong>Oppenheimer dan Koenraad</strong> menyebutkan sebagai “ Bagian Benua Asia Tenggara”.atau dikatakan sebagai Sundaland.</p>
<p><strong>Oppenheimer</strong> sendiri dalam penelitiannya menggunakan metode Ilmiah yaitu dengan Metode Genetik, Antropologi, linguistic dan Arkeologi dan ini sangat berbeda dengan <strong>Plato</strong> yang menggunakan metode tuturan guna melacak “Jejaknya” peradaban itu, sedangkan <strong>Koenraad </strong>melakukan penelitian melalui Studi kebudayaan masyarakat India kuno. Sebagai Ahli Sastra, Antropologi dan Sosiologi ia menemukan adanya “keterkaitan kebudayaan India kuno yang hilang serta Ekspansi Bangsa Arya di India”,<strong>Koenraad</strong> bahkan berhasil menunjukkan melalui pendekatan keilmuannya (salah satunya pendekatan Sastra India Kuno ,melalui karya-karya sastra kuno seperti karya Walmiki.red) bahwa Ayodia dimungkinkan sebagai peninggalan kebudayaan India Pra modern sebagai hasil Agitasi kedua dari bangsa Ayodia setelah masa kedua zaman Es mencair. Sejalan dengan <strong>Oppenheimer</strong>, dengan latar belakangnya sebagai dokter medis yang telah lama tinggal di Asia Tenggara selama beberapa dekade, berhasil menemukan metode secara keilmuan yang dimilikinya dengan metode penelitian DNA manusia-manusia yang berada di wilayah Afrika, Asia Tenggara- Australia hingga kepulauan Pasifik.</p>
<p>Dengan alasan dan bukti yang ditawarkan <strong>Oppenheimer</strong> &#8211; <strong>Koenraad</strong> diatas, diketemukannya peninggalan berupa besaran-besaran pemikiran yang diwarisi oleh penduduknya sekarang , tentang “ kecenderungan yang sama, seperti perbandingan mitologi : banyak budaya yang mirip,  khususnya mereka yang berada di zona Asia-Pasifik, mereka memiliki mitos yang sangat paralel dari satu atau lebih tentang banjir besar”,ungkap <strong>Oppenheimer</strong>. Seperti kata <strong>Koenraad </strong>, ini bukan kiasan “<strong>Freudian</strong>” semata terhadap peristiwa alam bawah sadar para ahli warisnya, namun jelas referensi historis ketika bencana itu terjadi &#8211; dengan ditarik keluar dari konteks tahayul, <strong>Oppenheimer</strong> menyatakan bahwa permukaan laut memang naik secara ekstrim setelah zaman es mencair,  perlu 3 proses banjir besar untuk menggelamkan 2/3 permukaan bumi seperti keadaan sekarang. Karena setiap fase kenaikan ini bukan proses yang berkesinambungan namun bertahap dan melanda di beda tempat; seperti patahnya gunung Es di Eropa Tengah dan Asia Utara disebabkan Suhu yang menghangat maka terjadilah banjir besar yang melanda Asia dan sebagian Eropa, kesemuanya ini terjadi dengan tiba-tiba; untuk tiap fase banjir- baik yang pertama hingga banjir ketiga,bahkan ketinggiannya pun hingga mencapai 130 -150 meter, cukup memusnahkan hampir semua kawasan yan ditempati seluruh penduduk suku &#8211; suku bangsa yang tinggal di dekat pantai dan perairan, kenaikan air Laut ini kira-kira terjadi hingga tahun 55000 SM, setelah itu permukaan laut mundur beberapa meter menjadi surut secara perlahan hingga ratusan dan ribuan tahun ke posisi serta kondisi yang sekarang di tempati sebagai wilayah Asia Tenggara dan Asia Tengah. Bagi Penduduk yang kini ada di wilayah Asia Tenggara, perubahan klimatologi ini diantaranya pun terjadi saat Gunung Toba meletus kira-kira sekitar pertengahan 74.000 sm ( bukti-bukti Vulkanik di P.Samosir,DNA di wilayah kota Tampan &#8211; Perak dan sebagian Serawak-Malaysa.red) lalu Krakatoa purba meletus ( kitab pustaka radya Pararthon- Jauh sebelum letusan tahun 1883.red), dilain tempat dan direntang waktu lebih awal &#8211; Gunung Sunda Purba-pun meletus membagi Pegunungan pulau Jawa bagian barat menjadi 2 lempengan pegunungan; yaitu pegunungan yang ada di Utara kota Bandung dan deret pegunungan yang ada di Selatan Kota Bandung <strong>( </strong><strong>Stratigrafi gunung api daerah Bandung Selatan, Jawa Barat</strong>; <strong><em>Sutikno Bronto, Achnan Koswara, dan Kaspar Lumbanbatu</em></strong>; <em>Jurnal  1 volume 2 &#8211; Pusat Survei Geologi, 2006</em> ) , ini dibuktikan dengan ditemukan melalui Penelitian Geologi yang menunjukkan bahwa endapan danau tertua usianya dari hasil radiometri karbon adalah kira-kira setua 125 ribu tahun, sedangkan kedua erupsi Plinian yang terjadi itu telah ditentukan umurnya kira-kira mencapai 105 dan 55-50 ribu tahun yang lalu. Asal-usul danau Bandung ternyata bukan disebabkan oleh letusan Plinian belaka walaupun aliran debu yang pertama dapat saja memantapkan danau purba itu secara pasti. Danau purba ini berakhir kira-kira pada 16 ribu tahun yang lalu.( <strong>Prof.Dr.R.P Koeseoemadinata </strong>).Dilain tempat, dari rangkaian gunung di bukit barisan &#8211; Sumatera yang ikut mengambil bagian Letusan dari Rangkaian Gunung berapi Mediterania (ring of fire in the East).</p>
<p>Dalam Teori yang dikemukakan kedua peneliti diatas (<strong>Oppenheimer- Koenraad</strong>.red), bahwa Asia Tenggara yang kita ketahui dulunya merupakan bagian paparan daratan yang luas, kini disebut sebagai bagian paparan Sundaland, maka Asia Tenggara mempunyai kriteria yang ideal untuk dikatakan sebagai sisa paparan benua yang tenggelam yang disebabkan naiknya permukaan air laut. Bila merunut tuturan <strong>Plato</strong> , ada kemungkinan bahwa paparan yang tenggelam ini adalah reruntuhan benua Atlantis,ungkap<strong> prof Ariyo Santos</strong>. <strong>Oppenheimer</strong> sendiri mengillustrasikan dalam bukunya bahwa bumi ini mengalami banjir yang besar sebanyak tiga kali, yang pertama: yaitu jaman pra Jurassic, kedua: masa es mencair yang melanda di benua Amerika utara – yang kini membentuk danau-danau besar di kawasan perbatasan antara Kanada dan Amerika,serta fase ketiga yaitu masa mencairnya es di kawasan Asia dan Eropa tengah &#8211; dalam konsep Agama sebagai  “Banjir Nuh”. Bagi <strong>Koenraad</strong> dan <strong>Oppenheimer</strong>, bangsa yang menempati wilayah Paparan Sunda Pasca Banjir kedua ini memimpin dunia dalam <strong>Revolusi Neolitikum</strong> ( mulai dari pertanian), dengan menggunakan  batu untuk  menggiling biji-bijian liar pada 24.000 tahun lalu, lebih tua 10000 tahun dari kebudayaan Pyramid Kuno di Mesir atau Summeria di Palestina.</p>
<p><strong><em> </em></strong><strong><em>( bersambung ke bagian II : Peninggalan Kode Genetik dan Artifisial )</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Bagian II :</h3>
<h3>….Peninggalan tersebut berupa Kode Genetika dan Artifisial…….</h3>
<p>“…<em>Kitu keh twah janma. Dwa nu kapaknakeun: nu goce deungeun nu rampes. Kitu keh janma, mana na kapahayu ku twah nu mahayu inya. Nya mana janma mana hala ku twahna mana hayu ku twahna.”</em></p>
<p><em> (…</em>. Dua macam yang dilakukan manusia: yang buruk dan yang baik. Begitulah manusia, mendapat susah karena perbuatan yang menyusahkan dirinya sendiri. Begitulah manusia, mendapat kebahagiaan karena perbuatan yang membahagiakan dirinya sendiri. Ya manusia itu susah karena ulahnya senang karena ulahnya…..) kutipan Naskah Siksakanda(ng)karesian</p>
<h3>Dari penelitian Kode genetic yang dilakukan oleh Richard Cordeux dan Mark Stoneking dalam Jurnal American Human Genetika tahun 2003 yang berjudul “<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1180321/">South Asia, the Andamanese, and the genetic evidence for an “early” human dispersal out of Africa</a>”  membuktikan bahwa penduduk yang tinggal di kepulauan Andaman adalah penduduk yang penyebarannya melalui rute Jalur Selatan baik sebelum banjir itu tejadi dan atau selama banjir,dimana para penduduk itu yang berusaha berhasil selamat ini bertahap pindah dari dataran  rendah ke dataran yang lebih tinggi- yang aman dan stabil, Sundalanders ( sebutan bagi para penduduk yang tinggal di kawasan Paparan Sunda) menyebar ke negeri-negeri tetangga: daratan Asia termasuk China, India dan Mesopotamia, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, tidak juga pulau dari Madagaskar ke Filipina dan Papua New Guinea, dari sini mereka kemudian memasuki dan menjajah Polinesia sejauh mungkin hingga Pulau Paskah, Hawaii dan Selandia Baru. Bagi Penulis,pemikiran <em>Oppenheimer</em> dan <em>Koenraad</em> ini sejalan dengan para Arkeolog pra-sejarah tentang tanah air dari rumpun bahasa Austronesia (Melayu, Tagalog, Maori, Malagasy dll) ini: ia menempatkan di bahwa asal usul  bangsa Austronesia berada di Paparan Sunda dan berada di daerah-daerah yang wilayahnya kini mencapai pantai dari bagian Tenggara dari negara-negara Asia. Namun fakta lain dari kebanyakan ahli bahasa berpendapat bahwa Cina bagian selatan adalah tanah asal-usul bangsa yang kini tinggal di kawasan Asia Tenggara ( Van dyke,1939 ).</h3>
<h3>Pemikiran ini bagi<em> </em>Oppenheimer adalah Bagian dari argumen kronologi yang memprihatinkan bagi teori penyebaran manusia: kronologi Pemikiran Oppenheimer mengusulkan bahwa haruslah lebih sempurna dari sekedar Logika Peter Bellwood ( P Bellwood &#8211; ANTIQUITY-OXFORD-,1996-antiquity.cc&#8230; of correlation between large-scale linguistic and genetic entities)</h3>
<p><strong>Koenraad Elst</strong> mengatakan <em>“</em><em>Pengalaman saya dengan studi </em><em>IE ini</em><em> membuat saya</em><em> mencari </em><em>bantuan</em><em> untuk</em><em> </em><em>mengetahui bagaimana </em><em>kronologi</em><em> sejarah IE dari setiap Instrument data</em><em> yang lebih tua dan</em><em> akurat</em><em> , untuk </em><em>setiap </em><em>temuan baru (misalnya bahwa &#8220;pra-IE&#8221;</em><em>(Indo-Eropa)</em><em> orang seperti Pelasgians dan Etruscans, tidak berbicara tentang Harappans, ternyata telah lebih awal </em><em>tinggal daripada para pemukim bangsa </em><em>&#8220;Aryan&#8221;) </em><em>yang</em><em> konsisten telah mendorong tanggal fragmentasi </em><em>itu terjadi</em><em> ke masa lalu.</em><em> </em><em>Alasan lain untuk tidak bergantung </em><em>pada teori yang </em><em>terlalu banyak dari </em><em>para </em><em>ahli bahasa</em><em>;</em><em> bahwa linguistik Austronesia adalah bidang yang </em><em>harus diteliti lebih jauh</em><em>, terdiri dari studi ratusan bahasa kecil </em><em>yang </em><em>kebanyakan </em><em>bahasanya bukanlah bahasa </em><em>sastra, </em><em>sedangkan </em><em>jumlah ahli </em><em>bahasa </em><em>asli jauh lebih kecil daripada di kasus </em><em>yang ditemukan</em><em>,</em><em>karena sebagian memang sudah musnah dilanda Tragedi Banjir Besar</em><em> bahkan dalam </em><em>kasus </em><em>linguis terakhir </em><em>membuktikan pada sebuah </em><em>tempat</em><em>, pen</em><em>dekat</em><em>an ini</em><em> </em><em>membuat </em><em>konsensus tentang masalah </em><em>asal-usul </em><em>tanah air</em><em> dan leluhur bangsa Austronesia,dan kekeliruan itu pun terjadi</em><em>. </em><em>B</em><em>ukti</em><em>-</em><em>bukti linguistik sangat </em><em>sedikit</em><em>, dan biasanya data </em><em>tersebut </em><em>diakui lebih dari satu </em><em>dari bentuk </em><em>rekonstruksi sejarah</em><em> saja</em><em>, jadi saya pikir tidak ada bukti kuat terhadap hipotesis tanah air Sundaland</em><em> hanya dengan satu metode, linguistic saja</em><em>. Sebaliknya, bukti </em><em>A</em><em>rkeologi dan </em><em>G</em><em>enetik yang </em><em>banyak </em><em>mendukung </em><em>tentang </em><em>penyebaran populasi berbahasa Austronesia dari Sundaland </em><em>….”</em></p>
<p>Tentang Daratan Cina sebagai tanah asal bangsa Austronesia, bila disusun berdasarkan Kronologi pemikiran linguistik, Cina sebagai asal-usul Austronesia itu hanyalah aspek-aspek tertentu saja dan dokumen sejarah serta bukti-bukti Arkeologinya membuktikan bahwa data tersebut lebih muda usianya dari sejarah penemuan peradaban lainnya di Asia, dan ini tidak membuktikan bahwa alasan linguistic sebagai sebagai dasar pendekatan keilmuan,perlu kelengkapan data yang utuh untuk membuktikanya.</p>
<p>Bagi <strong>Oppenheimer</strong> dan <strong>Koenraad</strong> , pendapat <strong>Peter Bellwood</strong> merupakan teori yang kontroversional dan gegabah. Namun bagi keduanya, ini semua bisa terjadi ketika iklim membantu merubah permukaan Es di utara mulai mencair, sebagai contoh: seiiring perubahan klimatologi bumi, seperti Gunung Toba meletus sekitar pertengahan antara 80.000 – 70.000 thn SM, suhu bumi pun meningkat, dari dokumen <strong>Oppenheimer</strong> tentang Kode Genetik “Real Eve Mitokondria” dalam “Journey of Mindkind -The real Eve” yang membahas penyebaran manusia di belahan bumi, menguatkan bahwa Teori Letusan ini disebut juga sebagai Letusan Gunung maha dahsyat ( Super Eruptions.red ) setara 200 kali lipat ledakan Atom Hiroshima hingga menciptakan musim panas yang berkabut selama 6 tahun dan merubah perwajahan <strong>1/3</strong> daratan Asia hingga India, Pakistan dan daerah sekitarnya sendiri terkubur debu letusan itu setinggi 5 meter, hal lain yang terjadi yaitu menyebabkan penduduk yang sanggup bertahan akibat letusan ini hanya 10.000 orang dari total seluruhnya yang mencapai 5 kali lipatnya. Sebagian merupakan penduduk yang berada jauh dari India dan sebagian lagi berada di daerah Tenggara Asia yaitu yang sekarang disebut wilayah kepulauan Nusantara.  Peneliti men padaebukan peristiwa diatas menyebabkan sebagian penduduk tiap wilayah bencana melakukan migrasi besar-besaran dengan jalan atau menggunakan perahu ke wilayah lain, yang lebih aman dan stabil tanahnya serta subur, kemudian setelah 6 tahun pasca letusan ini datanglah gelombang kedua para penduduk wilayah timur India ( Afrika-Jazirah Arab) dan wilayah barat India ( Semanjung Malaysa dan sebagian Nusantara) memasuki wilayah india yang baru, yang selanjutnya <strong>koenraad</strong> menyebut manusia India modern, yang membawa sistem masyrakat dan kebudayaan yang lebih modern.</p>
<p>Berdasarkan bukti yang ditawarkan <strong>Oppenheimer-Koenraad</strong> ,dan dikuatkan oleh Aroyo <strong>Santos</strong>, dan dengan tuturan cerita <strong>Plato</strong> sangatlah mungkin bahwa Atlantis yang hilang kini telah berubah menjadi lautan – dan sebagian peninggalannya ada di Asia selatan dan Asia Tenggara, ataukah Nusantara ini yang dikatakan Plato sebagai Atlantis seperti logika Santos tentang peninggalan Republik yang berada dalam Zona Erupsi dari sabuk Pegunungan Berapi?</p>
<p>Bila kita melihat dari proses penyebaran penduduk ketika migrasi pertama berlangsung (<strong>Oppenheimer</strong>.red), mereka lakukan perjalanan melalui rute selatan sekitar daratan pantai dan dari kaki pegunungan bergerak hingga mencapai dan memasuki Wilayah Asia Tenggara . Di Nusantara pun banyak ditemukan bukti yang menguatkan teori diatas, dari mulai pembuktian teori DNA hingga Pemetaan Geologi, membuktikan bahwa masuknya penyebaran manusia di Nusantara ini mengikuti  garis  paparan daratan, yaitu paparan Sunda, mereka melakukan perjalanan lalu masuk ke semenanjung Thailand &#8211; Malaysia masuk ke  Aceh Utara ( masih berupa daratan kering.red) kemudian masuk ke Sumatera ( Summa-Terra.red) dan Selat Sunda sebagai pintu gerbang pun saat itu belum terbentuk masih ada gunung berapi Krakatau, maka  ini ke          pulau Jawa – Bali ( Madura dan Pulau bali masih bersatu sebagai kawasan yang kering bagian dari ujung Sundaland.red ), kemudian belok dan menyeberang ke Kalimantan, bergerak ke Utara memasuki kawasan Philipina dan Cina Selatan lalu bergerak ke utara dan ke Timur ke  Sulawesi. Ini semua terjadi kala Zaman Es belum mencair pada fase ketiga bahkan Sumatera dan Malaysa pun masih bersatu sebagai daratan yang subur menjadi bagian dari paparan Sunda yang masih kering. Namun hal lain yang perlu diketahui bahwa di wilayah ini merupakan kawasan yang subur ( tanah Aluvial.red) yang dipagari oleh deretan pegunungan berapi,Prof.Santos pun berfikir bahwa Indonesia menjadi contoh yang Ideal dari cerita Plato.dan Pasca Erupsi Toba  terjadi migrasi kedua yang dituntun perjalanan sebelumnya menuju tanah leluhur mereka menuju titik pertemuan ke India.Jadi jauh sebelum pelayaran bahari dilakukan para penduduk yang mengalami migrasi ini  melakukan perjalanannya melewati sepanjang sisi tepi garis pantai hingga kaki pegunungan  Paparan Sunda (100k – 80k BC ) dan barulah menyeberang ke Timur dan Tenggara Borneo kemudian masuk ke Paparan Sahul hingga terus masuk bergerak Australia ,PapuaNewguenea hingga kepulauan di tengah Samudra Pasifik</p>
<p>Di sisi lain, antara <strong>Teori</strong> <strong>Wallace </strong>dan <strong>Teori Kronologis</strong> <strong>Koenraad</strong>-<strong>Oppenheimer</strong> lalu  dikuatkan bukti-bukti yang ada membuktikan bahwa Nusantara lebih awal mengalami kemajuan sebagai bagian bangsa yang pertama memimpin revolusi kebudayaan dari masa Neolitikum, banyak bukti peninggalan itu hilang akibat bencana Vulkanik dan Tektonik di sepanjang wilayah ini. Jejak-jejak itu kini hanya terdiri dari kepingan-kepingan yang masih menyimpan misteri. Bagi Koenraad, peninggalan itu masih ada dalam sub kultur di wilayah ini, baik berupa pemahaman Mitologi, fable bahkan berupa Spirit yang yang menghidupkan Sub Kultur tersebut dalam ruangan metafisik ataupun non metafisik berupa sistem Astronomi dan Astrologi yang mewarnai Pola hidup bermasyarakat  , bagaikan puzzle-puzzle yang masih harus disusun ulang untuk rekontruksi kebudayaan neolitikum, para peneliti di bidang kajian ilmiah ini memulai dengan penemuan jejak paling dasar seperti reruntuhan vulkanologi seperti di P.Samosir kemudian jejak peninggalan kerajaan Kandish di kepulauan Riau, atau  Kota Tampa-di Malaysa dan seterusnya. Namun yang semestinya itu bisa ditemukan Artefak, itu sangatlah minim, banyak hilang karena bencana alam baik yang berupa vulkanik maupun tektonik karena wilayah ini ada dalam lintasan Pegunungan dan pergerakan Lempeng Tektonik dunia.Hanya pendekatan Ilmu Genetika rekontruksi puzzle itu coba disusun kembali.</p>
<p><strong><em>Katakanlah: &#8220;Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): &#8220;Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.&#8221; ( Al-an’aam 63 )</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>( bersambung : Bencana dan Keseimbangan Alam ? )</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Lanjutan Bagian III</em></strong></p>
<p><strong><em>Bencana dan Prinsip Keseimbangan Alam?</em></strong></p>
<p><em>Disusun : Bagus Soetrama ST,Dipl.Aud.Eng</em></p>
<p>Seperti logika <strong>Koenraad</strong> dalam review buku <strong>Eden of The East</strong> bahwa bangsa yang awal tinggal di wilayah Paparan Sunda ini dahulunya adalah bangsa yang memimpin Revolusi kebudayaan Neolitikum. Sejak masa zaman es mulai mencair dan peristiwa rentetan Gunung berapi  meletus kini wilayah paparan ini telah berubah menjadi wilayah yang terbagi menjadi kepulauan di daerah Selatan dan Tenggara dan daratan di timur laut  yang berupa wilayah yang luas membentang hingga ke Cina dan utara Mongolia (Asia Tengah),dan sebelah barat Sumatera kini menjadi semenjung yang kini disebut India , Srilangka dan Bangladesh. Lalu di utaranya yaitu Pakistan. Wilayah-wilayah inilah yang di petakan oleh <strong>Oppenheimer</strong> sebagai wilayah reruntuhan benua yang hilang ,yang disebutnya sebagai bagian Eden of The East. Logika <strong>Santos</strong> mengatakan, letak Atlantis berada dalam lintasan Gunung Berapi dan tanahnya adalah tanah Aluvial yang subur,Indonesia menjadi pilihan idealnya, ini wilayah-wilayah pemetaan dari peninggalan Benua Atlantis yang hilang , seperti kata <strong>Plato</strong> dan itu semua perlu dibuktikan kebenarannya.</p>
<p>Kini Indonesia tengah memasuki siklus berikutnya di dalam jam Peta Geologi Dunia, sejak longsornya patahan bumi yang berada di Ujung Aceh , kemudian bergerak kearah Tenggara dan Selatan hingga berupa gempa-gempa tektonik yang terjadi di sepanjang wilayah Sumatera dan Jawa yang mencapai di kepulauan NusaTenggara dan Sulawesi. Serta rentetan Gunung Berapi di Indonesia yang telah aktif dan kini sebagian telah Erupsi ( kita bisa sebutkan berapa Gunung Berapi di Indonesia yang meletus dalam 10 tahun  terakhir ?). Semua ini bagi penulis  merupakan Tarikh Geologi Bumi , kenyataannya Indonesia berada didalamnya. Dengan kenyataan ini, sudah semestinya kita sebagai bangsa yang tinggal di “wilayah rawan” ini mempersiapkan segala bentuk kemungkinan tentang keberadaan pentingnya Sistem Kewaspadaan Nasional ( National Earliy Warning System ) terhadap semua kemungkinan bencana yang mungkin terjadi khususnya bencana alam, serta memberikan penyadaran dengan membangun kesiapan penduduk di tiap wilayah rawan bencana guna menghadapi siklus ini. Disisi lain, sangat disayangkan sistem pengelolaan bencana ini bak seperti mengadakan event / acara dadakan atau acara kendurian yang sifatnya menanggulangi . Tidak ada sistem terpadu secara profesional baik lini pemerintahan daerah ataupun pusat , hanya dengan menunggu skala bencana ini “statusnya naik” (parameternya perlu dikaji) maka itu dapat dikatakan sebagai bencana tanpa ada penjelasan yang mendasar kepada penduduk setempat tentang rawan bencana dan instrument pemberitahuan. Pada kenyataannya, sekecil apapun musibah yang terjadi pada anak bangsa ini merupakan tanggungjawab bersama dari seluruh element yang terkait di NKRI,mulai dari masyarakat terbawah yaitu keluarga hingga ke level lebih tinggi masyrakat daerah, sistem peringatanpun meenjafi tidak efektif ketika tiap individu penduduk tersebut tidak memahami Informasi peringatan tersebut,bahkan pemerintahan setempat ataupun pusat terkadang seperti menunggu korban berjatuhan dan kerugian yang besar bahkan kerusakan yang lebih parah namun tanpa antisipasi-penanganan-perlindungan mengenai keselamatan yang diperlukan secara terintegrasi,bagaikan benat kusut birokrasi yang tumpang tindih dengan kebijakan pemerintah dalam mengambil keputusan tentang peristiwa bencana alam; sebagai illustrasi penulis mencontohkan; adanya gerakan moral seperti  “Gerakan Kesadaran Bencana Nasional” dari seluruh element bangsa ini.</p>
<p>Kejadian “gerak-tekanan” Tektonik- Vulkanik di Indonesia yang terjadi pada akhir-akhir ini, wilayah Bumi Nusantara telah memasuki <strong>Era Siklus Geologi </strong>. Tanpa harus mengurangi rasa hormat dan bukan semata-mata pembahasan masalah yang sifatnya Mitologi Tradisonal, Cerita Fabel dan lain-lain, bahkan tentang adanya Atlantis di Indonesia. Kenyataannya kini bangsa Indonesia dituntut untuk menjelma sebagai bangsa yang dinamis dan menghendaki kemajuan tehnologi sebagai modal persiapan bagi anak cucu di masa depan, karena kelak mereka ini  harus lebih siap dan waspada terhadap apa yang disadarinya sebagai mahluk hidup yang berdampingan dengan alam sekitarnya, dengan keramahan serta kearifan local genus itu ada dalam pandangan hidup di setiap sub-kultur bangsa ini.</p>
<p>Bukan sebagai bencana karena kemarahan Tuhan Yang Maha Kuasa  semata, namun perlu disadari bahwa alam sedang berubah dan tetap akan pegang dan memenuhi janji <strong>“Prinsip Keseimbangan” </strong>nya, walau saat ini keseimbangan itu bagi sebagian kalangan dipahami sebagai bencana, bahkan mungkin sebelumnya dianggap sebagai mitos kutukan, itu karena informasi Ilmu pengetahuan yang terbatas. Bahkan kini berhadapan dengan ketidakperdulian kita pada lingkungan dan menjelma sebagai “gurita” yang menakutkan yang semuanya itu semua adalah  Bencana Prilaku,  pun bencana tidak seutuhnya karena “Siklus” lagi, campur tangan manusia ikut berperan mempercepat peristiwa Global Warming itu terjadi , seperti: banjir, longsor dll,  <strong><em>“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”.(Yunus :44)</em></strong><em> </em>dan “Judgement day” tidak bisa dikatakan lagi  sebagai kemarahan Alam tapi memang hasil prilaku bumi serta seisinya, termasuk manusia sebagai subjek pelaku yang mendominasi dan bumi yang dijadikan sebagai objek keserakahan, kini bumi hendak mencapai keseimbangan berikutnya sedang “bersabda” ataupun ini akan menjadi musnah seperti yang dikatakan sebagai saksi ataupun reruntuhan sejarah.</p>
<p>Apapun itu, sudut pandang ilmu pengetahuan modern dan ke-arifan kultur tentu menjadi perangkat yang ideal bagi generasi masa datang, bila saat ini kita sebagai anak suku bangsa ataupun sub kultur yang selamat dari keseimbangan alam sebelumnya   ( masa Jurassic, banjir besar dan pergerakan lempeng tektonik dunia dll ) sudah semestinya melakukan persiapan untuk menghadapi keseimbangan alam berikutnya, walau dengan berbagai resiko dan tantangan yang akan dihadapi.  Bangsa Indonesia ini tengah terus dihadapkan kenyataan-kenyataan tentang fenomena gejala  alam, baik katagori bencana alam ataupun bukan, ataukah Indonesia sebagai mutiara dari khatulistiwa akan tenggelam dan hilang seperti keberadaan Atlantis dalam cerita <strong>Plato</strong> ?</p>
<p>bahkan musnah dan tenggelam ditelan bumi seperti Eden of The East ungkap <strong>Oppenheimer?</strong>. Tentulah ini bukan sekedar jawaban namun pekerjaan rumah yang harus kita pikirkan dan kerjakan bersama-sama, tidak esok hari,  tapi segera.</p>
<p><strong><em>“Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” An-Nahl 61</em></strong></p>
<p>Bagus Soetrama.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Catatan : Dengan segala kerendahan hati,saya ucapkan terimakasih atas sudut pandang dari para narasumber yang tidak bisa semuanya saya sebutkan satu persatu, bagi penulis semuanya adalah “TreasureOf The Greatbrave Man” dan mohon izin untuk menjadi cuplikan yang disampaikan kembali sebagai kebijakan kalimat dalam sebuah tulisan ini, kesemuanya itu akan  tetap menjadikan bukan karya tersendiri namun sebagai karya yang utuh sebagai pesan terdahulu bangsa besar kepada anak cucunya.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>References</strong></p>
<p>Koenraad Elst Institute: Site Indologi Koenraad elst  http://koenraadelst.bharatvani.org</p>
<p>Stephen Oppenheimer; Journey Of Mindkind,Bradshaw Foundations.com ; Eden Of The east ; (Phoenix, London 1999 (1998))</p>
<p>Plato; Timeus and critias ;Royal British Library, Google book</p>
<p>Ariyo Santos ,Prof ; Atlantis Lost Continent Finally Found</p>
<h2><strong>Artikel “Jejak Atlantis, Taprobane, dan Avatar Indonesia”,  Oleh: Oki Oktariadi dan Oman Abdurahman (Badan Geologi Bandung)</strong></h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jurnal Prof. Dr. R.P.Koesoemadinata<strong> ASAL USUL DAN PRA SEJARAH KI SUNDA</strong>;Oleh Gurubesar Emeritus Geologi;Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian;  Institut Teknologi Bandung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stratigrafi gunung api daerah Bandung Selatan, Jawa Barat SUTIKNO BRONTO, ACHNAN KOSWARA, dan KASPAR LUMBANBATU, Jurnal  1 volume 2 &#8211; Pusat Survei Geologi, 2006)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nusantara,Sejarah Indonesia; Bernard van dyke,1939; KPG- 2006</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anderson S, Bankier AT, Barrell BG, De Bruijn MHL, Coulson AR, Drouin J, Eperon IC, Nierlich D, Roe B, Sanger F, Schreier P, Smith A, Staden R, Young I (1981) Sequence and organization of the human mitochondrial genome. Nature 290:457–465 [PubMed]</p>
<p>Bamshad M, Kivisild T, Watkins WS, Dixon ME, Ricker CE, Rao BB, Naidu JM, Prasad BVR, Reddy PG, Rasanayagam A, Papiha SS, Villems R, Redd AJ, Hammer MF, Nguyen SV, Carroll ML, Batzer MA, Jorde LB (2001) Genetic evidence on the origins of Indian castetropic populations. Genome Res 11:994–1004 [PMC free article] [PubMed]</p>
<p>Barbujani G, Bertorelle, G, Chikhi L (1998) Evidence for Paleolithic and Neolithic gene flow in Europe. Am J Hum Genet 62:488–491 [PMC free article] [PubMed]</p>
<p>Cavalli-Sforza LL, Menozzi P, Piazza A (1994) History and geography of human genes. Princeton University Press, Princeton, NJ.</p>
<p>Cordaux R, Saha N, Bentley GR, Aunger R, Sirajuddin SM, Stoneking M (2003) Mitochondrial DNA analysis reveals diverse histories of tribal populations from India. Eur J Hum Genet 11:253-264 [PubMed]</p>
<p>Endicott P, Gilbert MTP, Stringer C, Lalueza-Fox C, Willerslev E, Hansen AJ, Cooper A (2003) The genetic origins of Andaman Islanders. Am J Hum Genet 72:178–184 [PMC free article] [PubMed]</p>
<p>Forster P, Torroni A, Renfrew C, Röhl A (2001) Phylogenetic star contraction applied to Asian and Papuan mtDNA evolution. Mol Biol Evol 18:1864–1881 [PubMed]</p>
<p>Harpending HC, Sherry ST, Rogers AR, Stoneking M (1993) The genetic structure of ancient human populations. Curr Anthropol 34:483–496.</p>
<p>Kivisild T, Bamshad MJ, Kaldma K, Metspalu E, Reidla M, Laos S, Parik J, Watkins WS, Dixon ME, Papiha SS, Mastana SS, Mir MR, Ferak V, Villems R (1999a) Deep common ancestry of Indian and western-Eurasian mitochondrial DNA lineages. Curr Biol 9:1331–1334 [PubMed]</p>
<p>Kivisild T, Kaldma K, Metspalu M, Parik J, Papiha S, Villems R (1999b) The place of the Indian mitochondrial variants in the global network of maternal lineages and the peopling of the old world. In: Papiha SS, Deka R, Chakraborty R (eds) Genomic diversity: applications in human population genetics. Kluwer Academic/Plenum Publishers, New York, pp 135–152.</p>
<p>Misra VN (2001) Prehistoric human colonization of India. J Biosci 26:491–531 [PubMed]</p>
<p>Quintana-Murci L, Semino O, Bandelt H-J, Passarino G, McElreavey K, Santachiara-Benerecetti AS (1999) Genetic evidence on an early exit of Homo sapiens sapiens from Africa through eastern Africa. Nat Genet 23:437–441 [PubMed]</p>
<p>Redd AJ, Roberts-Thomson J, Karafet T, Bamshad M, Jorde LB, Naidu JM, Walsh B and Hammer MF (2002) Gene flow from the Indian subcontinent to Australia: evidence from the Y chromosome. Curr Biol 12:673–677 [PubMed]</p>
<p>Richards M, Macaulay V, Hickey E, Vega E, Sykes B, Guida V, Rengo C, et al (2000) Tracing European founder lineages in the Near Eastern mtDNA pool. Am J Hum Genet 67:1251–1276 [PMC free article] [PubMed]</p>
<p>Stoneking M, Fontius JJ, Clifford SL, Soodyall H, Arcot SS, Saha N, Jenkins T, Tahir MA, Deininger PL, Batzer MA (1997) Alu insertion polymorphisms and human evolution: evidence for a larger population size in Africa. Genome Res 7:1061–1071 [PMC free article] [PubMed]</p>
<p>Stringer CB, Andrews P (1988) Genetic and fossil evidence for the origin of modern humans. Science 239:1263–1268 [PubMed]</p>
<p>Thangaraj K, Singh L, Reddy AG, Rao VR, Sehgal SC, Underhill PA, Pierson M, Frame IG, Hagelberg E (2003) Genetic affinities of the Andaman Islanders, a vanishing human population. Curr Biol 13:86–93 [PubMed]</p>
<p>Underhill PA, Shen P, Lin AA, Jin L, Passarino G, Yang WH, Kauffman E, Bonné-Tamir B, Bertranpetit J, Francalacci P, Ibrahim M, Jenkins T, Kidd JR, Mehdi SQ, Seielstad MT, Spencer Wells R, Piazza A, Davis RW, Feldman MW, Cavalli-Sforza LL, Oefner PJ (2000) Y chromosome sequence variation and the history of human populations. Nat Genet 26:358–361 [PubMed]</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=24&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/bagian-i-%e2%80%9cbetulkah-indonesia-adalah-reruntuhan-atlantis-yang-hilang%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>karena tuli</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/karena-tuli/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/karena-tuli/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 12:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. Perlombaan dimulai&#8230; Secara jujur: Tak satupun &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/karena-tuli/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=22&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.</p>
<p>Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. Perlombaan dimulai&#8230;</p>
<p>Secara jujur: Tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.</p>
<p>Terdengar suara:</p>
<p>&#8220;Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.&#8221;</p>
<p>atau:</p>
<p>&#8220;Tidak ada kesempatan untuk berhasil. Menaranya terlalu tinggi&#8230;!!</p>
<p>Katak-katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu&#8230;</p>
<p>Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan-lahan semakin tinggi&#8230;dan semakin tinggi..</p>
<p>Penonton terus bersorak:</p>
<p>&#8220;Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!&#8221;</p>
<p>Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah&#8230;</p>
<p>Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!</p>
<p>Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?</p>
<p>Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?</p>
<p>Ternyata: katak yang menjadi pemenang itu TULI!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=22&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/karena-tuli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prasetya Kridhayudha</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/prasetya-kridhayudha/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/prasetya-kridhayudha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 12:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Carita WARUGA JAGAT &#8211; WANGSIT SILIWANGI Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang: Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/prasetya-kridhayudha/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=18&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Carita WARUGA JAGAT &#8211; WANGSIT SILIWANGI</strong></p>
<p>Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang: Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.</p>
<p>Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!</p>
<p>Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!</p>
<p>Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!</p>
<p>Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!</p>
<p>Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.</p>
<p>Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.</p>
<p>Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.</p>
<p>Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!</p>
<p>Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.</p>
<p>Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.</p>
<p>Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.</p>
<p>Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.</p>
<p>Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.</p>
<p>Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!</p>
<p>Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.</p>
<p>Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!</p>
<p>Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.</p>
<p>Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!</p>
<p>Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terjemahan :</p>
<p>Diksahkan Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=18&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/prasetya-kridhayudha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>”bahasa yang tersembunyi”</title>
		<link>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9dbahasa-yang-tersembunyi%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9dbahasa-yang-tersembunyi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 12:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandiasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sandiasma.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Simbol Matematika dalam karya” Sabda Bumi &#8220;…oleh Widodo Kabutdo ”bahasa yang tersembunyi” Dalam karyanya kini,Widodo telah menerjemahkan karya Lukisanya kini menjelma menjadi bentuk yang sangat comfortable ,hanya dengan ukuran A4 sang perupa ini membuat lukisan menjadi bentuk cartografis,merekam bahasa alam &#8230; <a href="http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9dbahasa-yang-tersembunyi%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=14&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Simbol Matematika dalam karya” Sabda Bumi &#8220;…oleh Widodo Kabutdo</em></strong></p>
<p><strong><em>”bahasa yang tersembunyi”</em></strong></p>
<p>Dalam karyanya kini,Widodo telah menerjemahkan karya Lukisanya kini menjelma menjadi bentuk yang sangat comfortable ,hanya dengan ukuran A4 sang perupa ini membuat lukisan menjadi bentuk cartografis,merekam bahasa alam yang tersembunyi dalam kerangka sudut pandang yang Plural,sentuhan tangan dan  tehnik Stensil menggambarkan pergerakan estetis.Tiap gambar yang muncul  menggambarkan paparan bumi dan seisinya sebagai poros yang bergerak secara dinamis,baik bentuk lingkaran,gambar manusia ,segi bangun ruang……</p>
<p>Perupa ini menerjemahkan karyanya dalam ruang yang sangat specific,ketika itu di buat dalam ruang kosong kertas berukuran A4 bertutur isi bumi-manusia dan eksistensinya, dengan pilihan warna yang memaparkan isi imajinatif tentang tangkapan rekaman dari setiap peristiwa yang terjadi  dalam pengamatan beliau,dan rekaman tersebut tidak diterjemahkan dalam ruang yang sempit,namun lebih auditif dan menjadi berulang ketika gambar tersebut di rekam dalam gambar berikutnya dengan media yang sama,…terus dan terus berulang….. hingga gambar tersebut digenapkan oleh rekaman yang terhenti disaat perupa itu berkata “cukup untuk hari ini” , namun ”bukan cukup untuk karya ini”.</p>
<p>Ketika itu berulang dalam jumlah puluhan dan perupa ini menyusun dalam bentuk segi bangun yang tersendiri maka secara kebetulan penulis melihat ada symbol-simbol dari beberapa gambar yang sangat jelas,tidak menjadi kurva namun menjadi simetris yang teratur ,ada logika matematis penyusunan yang teratur,ada ruang geometris yang memotong sumbu dari keseluruhan gambar, yang disusun dengan aturan yang tersusun seperti adanya, penulis melihat ada sistem perhitungan deret matematika.</p>
<p>Maka jelaslah gambar-gambar ini menjadi lukisan yang memberikan arti tersendiri .Penulis melihat satu gambar bertutur suatu cerita namun ketika disusun oleh Sang Perupa maka berceritalah karya ini sebagai lukisan “Sabda Bumi” . Dalam satu kesempatan ( Minggu,31 Oktober 2010) Undangan senjalogi dari Komunitas Taman Kota di Pendopo Galeri Jeihan,Padasuka-Bandung. Widodo menampilkan “Sabda Bumi” sebagai karya Seni yang utuh dalam satu sajian Pentas secara Teatrikal.Penulis berfikir dan barulah cerita itu tergambar oleh penulis, sebagai bahan kontemplasi bagi penulis bahwa melihat tiap gambar yang terwakili adalah suatu kisah yang bertutur,namun ketika gambar-gambar tersebut oleh penulis dilihat dan disusun secara geometris ( Segitiga Sama Sisi .red)  maka kodefikasi itu nampak jelas sebagai karya lukisan yang terintegrasi-utuh , tidak terpisah dari dan diantara tiap gambar-gambar tersebut,bagi penulis sungguh unik.</p>
<p>Seperti dalam Mikroskop membaca amuba dalam setetes air kotor, seperti dalam teleskop Hubble memandang bumi dari kaki langit yang gelap, dan karya ini seperti kita lihat dalam ruang mikro namun bertutur ketika itu menjadi ruang baca seperti makro. Maka berlakulah hukum mikrokosmos dan hukum Makrokosmos sebagai satu keseimbangan dalam detik dan waktu yang bersamaan , tak ada yang terpisah dari setiap gambar dengan kertas ukuran A4 ini , ketika semua terlihat dengan sudut perspektif maka semuanya menjadi ruang geometris lukisan dari setiap gambar yang tersusun dihadapannya.</p>
<p>Ya,sebagai penikmat karya Seni lukis..saya mengamati ini sebagai karya yang cukup ramah&#8230;.apalah arti seorang penikmat Karya Seni seperti saya ini dibandingkan dengan karya yang digoreskan pada lukisan ini,yang secara kebetulan melakukan pembacaan peta displin ilmu saya&#8230;</p>
<p>Soetrama</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sandiasma.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sandiasma.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sandiasma.wordpress.com&amp;blog=2740167&amp;post=14&amp;subd=sandiasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sandiasma.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9dbahasa-yang-tersembunyi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ccbfe2335cb0fc682d980dd317867b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sandiasma</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
